Rabu, 24 Juni 2009
"Sisanya berhasil disembuhkan, "kata Kepala Dinkes NTB dr H. Muhammad Ismail kepada wartawan di Mataram, Rabu (24/6).
Ia mengatakan jumlah kasus gizi buruk tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 466 kasus, dan sebanyak 20 orang di antaranya meninggal dunia.
"Masih banyaknya kasus gizi buruk di NTB bukan karena kasusnya bertambah, melainkan karena petugas di lapangan semakin aktif mendata penderita gizi bermasalah. Gizi buruk bukan semata-mata akibat kekurangan gizi, tetapi bisa juga disebabkan penyakit penyerta," ujarnya.
Ia mengatakan petugas pemantau di lapangan semakin aktif melakukan pendataan penderita gizi bermasalah. Kasus yang ditemukan kemudian segera dibawa ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang telah dilengkapi dengan pusat pengobatan kasus gizi buruk atau Therapy Feeding Centre (TFC).
Menurut dia, penderita gizi buruk kini tidak perlu lagi dirawat di rumah sakit kabupaten atau provinsi, tetapi cukup ditangani oleh petugas puskesmas karena sebagian besar fasilitas kesehatan tersebut telah dilengkapi TFC. "Belum lama ini kami melatif sejumlah petugas kesehatan di puskesmas agar mampu mengoperasikan peralatan TFC tersebut, sehingga sekarang sumber daya manusia (SDM) di puskesmas sudah mampu menangani kasus gizi buruk," kata Ismail. (Ant/OL-06)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar