30 Maret 2010
Penderita Gizi Buruk di Lumajang Akhirnya Meninggal
Kamis, 11 Maret 2010 | 19:24 WIB
TEMPO Interaktif, Lumajang - Puja Yuliarta, 19 bulan, balita penderita gizi buruk, Desa Kalibendo Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang Jawa Timur meninggal dunia. Anak ketiga dari tiga bersaudara, pasangan Sunyanto dan Subaidah ini sempat dirawat di RS dr Haryoto sejak 28 Februari lalu. Setelah dirawat beberapa hari, keluarganya membawa pulang paksa pada 6 Maret lalu.
Dua hari dirawat di rumah, anak pasangan keluarga miskin ini meninggal pada Selasa (9/3) pagi harinya sekitar pukul 07.00 Wib.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang Buntaran Supriyanto mengatakan, balita gizi buruk ini meninggal karena penyakit penyerta yaitu kelainan jantung bawaan (Congenital Heart Disease) dan pembesaran kepala (hydrocepalus). Sebelum meninggal dunia. kata dia, Puja menglami sesak nafas.
Menurut Buntaran, hasil bulan intensifikasi penimbangan pada 6 Februari menunjukkan, berat badan Puja 7,5 kilogram dengan tinggi badan 72 centimeter. "Gizi kurang sehingga diberi penyuluhan makanan seimbang dan dianjurkan rutin ke posyandu," kata Buntaran.
Tiga hari kemudian, orang tua Puja mengeluhkan anaknya berak cair dan muntah ketika diberi makan. Beberapa kali bidan maupun Puskesmas meminta kedua orang tuanya yang sehari-harinya sebagai pengrajin gula merah ini untuk membawa anaknya ke Puskesmas namun orang tuanya menolak. Namun orang tuanya tak bisa berbuat apa-apa ketika pada 28 Februari lalu, Puja muntah hebat. Hasil diagnosa menunjukkan kalau pasien mengalami vomiting (muntah), dehidrasi dan hidrocepalus.
Sejak 2 Maret, kondisi balita ini memburuk sehingga dirawat di Ruang ICU dr Haryoto Lumajang. Sempat membaik dua hari kemudian, Puja keluar dari ICU dan dibawa ke ruang anak. Hingga keesokan harinya, anak tersebut masih mengalami diare. Akhirnya, Sabtu (6/3), orang tuanya memaksa membawa pulang sang anak.
Namun naas, pada Selasa lalu, Puja meninggal dunia.
DAVID PRIYASIDHARTA
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/03/11/brk,20100311-231950,id.html
12 Februari 2010
Tiga Balita Gizi Buruk di Timor Tengah Selatan Meninggal Bulan Ini
Minggu, 31 Januari 2010
TEMPO Interaktif, Kupang - Sebanyak tiga anak balita di So'e, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur meninggal akibat menderita gizi buruk.
Tercatat selama bulan Januari 2010 ini sebanyak 10 balita di daerah itu mendapat perawatan intensif di rumah sakit umum daerah So'e. Tiga balita diantaranya meninggal akibat adanya penyakit ikutan penderita gizi buruk, seperti diare. Sedangkan, penderita gizi buruk sisanya kini masih mendapat perawatan di RSUD So'e.
"Selama Januari ini, kita sudah merawat sedikitnya 10 balita akibat menderita gizi buruk dengan kelainan (Maramus Kwaskiorhor), tiga diantaranya meninggal," kata Direktur Rumah Sakit So'e dr Musa Salurante yang dihubungi di Kupang, Minggu (31/1).
Saat ini, rumah sakit masih merawat sedikitnya lima anak balita penderita gizi buruk, diantaranya tiga anak menderita gizi buruk marasmus dan dua balita lainnya menderita kwashiorkor.
Salah satu faktor penyebab tingginya penderita gizi buruk di kabupaten itu, katanya, akibat pola makan yang tidak teratur dan gizi yang tidak seimbang bagi anak balita.
Faktor pendukung lainnya, tambahnya, yakni alasan ekonomi orang tua balita yang tidak mampu memberikan asupan gizi dan makanan tambahan seperti susu. Kebanyakan balita penderita gizi buruk berasal dari anak keluarga miskin yang bermukin di pedesaan.
"Masalah ekonomi dan pola makan yang tidak teratur menyebabkan tingginya gizi buruk di daerah ini," katanya.
YOHANES SEO
28 Juni 2009
23 Meninggal Akibat Gizi Buruk di NTB
Kamis 25 Juni 2009,
MATARAM (Arrahmah.com) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam empat bulan terakhir (Januari-April) 2009 menemukan 268 kasus gizi buruk, sebanyak 23 orang di antaranya meninggal dunia dan 63 orang sedang dalam proses perawatan.
Sisanya berhasil disembuhkan, kata Kepala Dinkes NTB dr H. Muhammad Ismail kepada wartawan di Mataram, Rabu (24/6).
Ia mengatakan, jumlah kasus gizi buruk tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 466 kasus, dan sebanyak 20 orang di antaranya meninggal dunia.
"Masih banyaknya kasus gizi buruk di NTB bukan karena kasusnya bertambah, melainkan karena petugas di lapangan semakin aktif mendata penderita gizi bermasalah. Gizi buruk bukan semata-mata akibat kekurangan gizi, tetapi bisa juga disebabkan penyakit penyerta," ujarnya.
Ia mengatakan, petugas surveilans di lapangan semakin aktif melakukan pendataan penderita gizi bermasalah. Kasus yang ditemukan kemudian segera dibawa ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang telah dilengkapi dengan pusat pengobatan kasus gizi buruk atau Therapy Feeding Centre (TFC).
Menurut dia, penderita gizi buruk kini tidak perlu lagi dirawat di rumah sakit kabupaten atau provinsi, tetapi cukup ditangani oleh petugas puskesmas karena sebagian besar fasilitas kesehatan tersebut telah dilengkapi TFC.
"Belum lama ini kami melatih sejumlah petugas kesehatan di puskesmas agar mampu mengoperasikan peralatan TFC tersebut, sehingga sekarang sumber daya manusia (SDM) di puskesmas sudah mampu menangani kasus gizi buruk," kata Ismail.
Menurut dia, hingga kini masyarakat masih menganggap bahwa gizi buruk diakibatkan oleh masalah ekonomi, artinya para orang tua tidak mampu memberikan asupan gizi dalam jumlah yang mencukupi kepada anak-anak mereka.
Padahal ada anak-anak yang menderita gizi buruk akibat penyakit yang menyebabkan mereka tidak memiliki nafsu makan sehingga akhirnya mengakibatkan kekurangan asupan gizi. Dalam kasus itu, penyakit penyerta harus disembuhkan terlebih dulu baru kemudian kasus gizi bermasalah ditangani.
Ia mengakui kasus gizi buruk juga tidak terlepas dari penanganan bayi oleh para bidan desa. Karena itu para bidan desa diharapkan terus memantau kondisi gizi bayi yang baru lahir agar tidak menderita gizi buruk. (Althaf/antara/arrahmah.com)
GIZI BURUK, 112 BALITA TEWAS
BKKBN.com
Dalam Rentang Waktu tiga Tahun Terakhir
Ribuan balita di NTB terkapar tak berdaya karena mengidap apa yang diistilahkan pemeritah sebagai gizi buruk. Atau yang diistilahkan dunia kedokteran sebagai marasmus dan marasmus kwarsiorkor. Masyarakat awam sendiri mengenal dengan sebutan busung lapar atau dengan bahasa yang lebih ekstrim,"kelaparan".
Berdasarkan data dinas kesehatan NTB, dari Januari hingga April tahun ini baru tercatat 179 kasus gizi buruk. Tahun lalu tercatat "hanya" 1.207 kasus. Itu data yang dihimoun dari berbagai puskesmas se NTB. Data realnya tidak ada yang bisa memastikan.
"Yang jelas, kasus gizi buruk ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat hanya ujungnya saja yang kecil, sedangkan di bawah permukaan yang tidak terlihat, jumlahnya berkali-kali lipat," kata anggota DPRD NTB L Abdul Hadi Faishal.
Pernyataan Hadi Faishal ada benarnya. Apalagi melihat pendataan yang dilakukan Dikes tidak sempurna 100 persen. Sehingga gambaran data kasus gizi buruk yang ditemukan belum bisa menggambarkan kondisi pasti gizi buruk di NTB.
Lihat saaja tahun 2001 lalu tercatat sebanyak 5.156 kasus gizi buruk. Selama tiga tahun kemudian, angka balita penderita gizi buruk terus menurun secara signifikan hingga hanya 1.544 kasus saja yang ditemukan di tahun 2004.Jumlah kematian akibat gizi buruk juga sangat rendah,yaitu hanya lima penderita.
Seiring dengan Blow upnya kasus gizi buruk oleh media pada tahun 2005 lalu,tiba-tiba saja kasus gizi buruk yang ditemukan di NTB meningkat berkali-kali lipat.Pada ahir tahun 2005 tercatat sebanyak 3,950 kasus gizi buruk ditemukan,40 diantaranya berujung pada kematian.
Secara tidak lansung,hal ini menujukan pendataan yang dilakukan tidak bisa menggambarkan kondisi kasus gizi buruk yang sebenarnya di masyarakat,tandasnya.
Kadikes NYB pada saat itu (tahun 2005,red) dr Maghdalena mengakui melonjaknya angka kasus gizi buruk yang ditemukan di NTB karena gencarnya pendataan yang dilakukan.Blowup di media massa menggugah kesadaran masyarakat utuk melaporkan warganya yang mengidap kasus gizi buruk.Data tahun 2005nini diakui Pemprov NTB mendekati kondisi real dilapangan.
Mungkin sja kenerja Pemerintah,dalam hal penanganan kasus gizi buruk ini,masih tergatung sorotan media dan masyarakat.Ketika sorotan media terhadap kasus giziz buruk mulai meredup,temuan kasus gizi buruk selanjutnya terus menurun.Tahun 2006,jumlah penderita gizi buruk yang ditemukan tercatat sebanyak 2.650kasus.Tahun 2007jumlah balita penderita gizi buruk turun lagi menjadi 1.667 orang.Tahun 2008 pun demikian pula,angka penderita gizi buruk menurun menjadi 1207.Hingga akhir Apriltahun ini,angka pederitan gizi buruk di NTB tercatat baru 179 kasus.Kalau tren temuan kasus gizi buruk stabil,hingga ahir tahun dipridiksikan kasus gizi buruk di NTB tidak bisa mencapai 600 kasus saja.
Apakah hal ini menujukan keberhasilan penanganan kasus gizi buruk yang telah dilakuka pemerintah ? Mungkin saja pemerintah telah benar-benar berhasil menekan jumlah penderita kasus gizi buruk.Kepala Dinas Kesehatan NTB Dr H.Moh.Ismail mengukapkan,selama ini penanganan kasus gizi buruk yang dilakukan jajarannya telah banyak membuahkan hasil positif. Tahun ini bahklan diharapkan kasus gizi buruk di NTB bisa dibawah 1000 kasus.
Dikes sendiri menerapkan tiga program utama penangannan gizi buruk awalnya dengan program survelen aktif yang merupakan upaya diteksi dini kasus gizi buruk di masyarakat. Balita terkena kasusu gizi buruk selanjutnya akan mengikuti therapi fendding centre di sejumlah puskesmas central yang ditunjuk.
Program lainnya adalah sms gateaway, dimana masyarakat bisa melaporkan kasus giZi buruk di daerahnya kepada puskesmas melalui sms.selanjutnya petugas akan langsung menanganinya, tambah ismail.
Disamping itu, ismail mengungkapkan, proghram revitalisasi posyandu juga diakui telah memberi konstribusi dalam menekan angka gizi buruk pada balita karenanya, kedepan pihaknya akan terus berupaya ameningkatkan peran posyandu sebagai ujung tombak penanganan balita gizi buruk
Program lainnya dalam menangani gizi burul adalah sosialisasi inisiasi menyusui dini. Inisisasi menyusui dini dilakukan dengan cara membiarkan bayi yang baru lahir untuk menyusu sendiri. Bayi tersebut diletakkan diatas perut ibunya selama 50 menit sampai 1 jam sampai si bayi menemukan puting susu ibunya.
Adanya kontak kulit langsung antara ibu dan bayi sekyurangnya satu jam, lanjutnya dapat, dapat menekan 22 persen kemungkinan kematian bayi. Semnetara, menyusu pada hari opertama., da[pat menyelamatkan bayi dari kemungkinan kematian hingga 16 persen. "Artinya dengan cara ini dapat menghindari kemengkinan kematian bayi, sekaligus memberi asupan gizi yang cukup kepada bayi tersebut" terangnya. Masyrakat tentunya berharap program yang disebutkan Kadikes ini terlaksana hingga di tingkat lapangan. Jika tidak, kasus gizi buruk tetap menjasdi momok menakutkan bagi balita-balita didaerah ini.
Harus diakui program penagnan gizi buruk yang dilakukan pemerintah telah membari kontribusi positif dalam menangani kasus gizi buruk. Namun, jika program yang dilakukan dapat lebih terarah dan tepat sasaran serta melibatkan semua unsur terkait, tingkat pencapaiannya akan lebih baik. Kenyataanya, sejumlah program penanganan gizi buruk pelaksanaannya terkesan masih setengah-tengah. Sebagai contoh, tahun 2005 lalu Gubernur NTB saat itu HL Serinata sempat membentuk Tim Operasi Sadar Gizi (TOSG) yang bertugas mengatasi kasus gizi buruk per wilayah. TOSG ini terdiri dari seluruh dinas instansi, bahkan institusi diluar Pemprov seperti PKK, TNI, Polri, dan instansi vertikal turut telibat. Instansi – instansi tersebut diberikan daerah garapan sendiri dan bertanggung jawab terhadap penganan gizi buruk didaerah tersebut. Sayang kerja tim ini terkesan panas-panas tahiayam. Cepat dan tangghap diawal, namun melempem diakhirnya. Praktis tim ini hanya efektif bekerja kurang ari setahun. Pada tahun 2006, kerja tim ini nyaris tidak terdengar lagi, meski sebagian diakui masih terus bekerja. " Ada sejumlah instansi yang tetap aktif menagani giZI burul samapai dekarang, meski yang jalan tidak seaktif dulu,"kata Kasi Gizi Masyarakat Bidang Binkemas Dikes NTB Taufik Hari Suryanto saat ditemui beberapa waktu lalu.
Tidak hanya kerja penaganan yang kadang setengah – setengah. Persoalan dana juga kerap menjadi masalah. Pada tahun ini saja, peraktis Pemprov maupun pemerintah kabupaten/kota hanya mengandalkan dana APBD untuk penanganan gizi buruk. Dana APBN, bahkan untuk dikes se Indonesia hingga ssat ini belum juga turun. Apalagi dana untuk penanganan gizi buruk yang dialokasikan sepenuhnya di dikes. " Jadi penanganan kasu gizi buruk sementara ini kita talangin dulu dari anggaran yang lain, " ungkap taufiq.
Bermiliar – miliar dana penangan gizi buruk juga kadang penyalurannya tidak tepat sasaran. Bahkan bukan tidak mungkin separuh bagiannya diselewengkan. Lihat saja contoh kasus penyelewengan dana penanganan gizi buruk di praya lombok tengah. Terdakwa kasus ini, yaitu Dr. HL. Sekarningrat (Mantan Kepala Dinas Kesehatan Loteng) dan mantan pimpro penanggulangan gizi buruk, Dr. Wayan Sudarma, divonis masing – masing selama 1 tahun. Atas putusan itu, terpidana menyerahkan banding.
Berbaghai masalah ini tentunya menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pemerintah dan stake holder terkait. Sebab penaganan gizi buruk sangat penting, menginat yang diserang adalah genarasi masa depan bangsa. Jika dibiarkan maka generasi penderita gizi buruk ini nanatinya juztru akan terus menjadai beban bagi daerah.
Penyebab Gizi Buruk
Gizi buruk, busung lapar, gizi kurang dan sejumlah sebutan lainnya bukan sekedar kurangnya makan saja. Namun banyak faktor yang menjadi penyebabnya, yang selama ini cenderung dibebankan pada dinas kesehatan (Dikes) saja. Ketika ada kasus ini mencuat, sudah pasti Dikes harus siap mmenerima cercaan padahal munculnya kasus gizi buruk merupakan akibat dari beberapa kondisi. " Kalau saya baca dikoran, pasien yang masuk RS karena gizi buruk ternyata karena terkena infeksi . ada yang TBC, diare, " Kata Ketua jurusan gizi buruk. Selain itu, ada faktor lainnya yakni asupan makanan (Intake) dan pola asuh dalam keluarga. Mana faktor yang lebih dominan dari ketiga ini, sulitr untuk mengambil kesimpulan buru – buru, sebab ketiganya metrupakan salah mata rantai yang tak terputus. Selain itu, diluar ketiga faktor ini banyak faktor sosial lainnya yang turut mempengaruhi. Sebut saja faktor pola asuh. Dituturkan irianto, dalam beberapa penelitian yang dilakukan selama ini, faktor pola asuh keluarga menyumbang terbesar kasus gizi buruk. Dan dalam pola asuh ini banyak ditemukan penderita gizi buruk ini tidak tinggak bersama orang tua kandung mereka. Dititip di kakek, nenek, atau anggota keluarga yang lain. "Tentu beda kasih sayang dengan orang tua kandung, " Kata jebolan S2 UGM ini. Kasus seperti ini, kata Irianto, merupakan kompleksitas masalah sosial. Sebut saja misalnya kasus pisahnya orang tua karena perceraian atau orang tua yang merantau keluarg negeri, sehingga sang anak tak terurus. " inilah menjadi tugas bersama bagaimana menanggulangi masalah sosial ini. Angka perceraian dan orangtua yang merantau keluar negeri, inikan masalah ekonomi, dan siapa yang paling bertanggung jawab disini ?, " ujarnya
Pendidikan masyarakat juga turut berperan. Selama ini bisa jadi sang anak diberikan makanan yang cukup, namun karena faktor ketidaktahuan tentang gizi akhirnya sang anak terkena gizi kurangatau bahkan gizi buruk. " Misalkan saja saat mencuci beras, kalau belum jernih betul tidak selesai dicuci. Padahal banyak kandungan gizinya yang hilang. Atau ketika memasak bayam samapi lembek sekali, ini kan hilang zat gizinya yang penting. Itulah perlunya pengetahuan gizi bagi masyarakat," katanya.
Patoka untuk menilai status gizi seseorangada tiga kriteria yang ada, sesaui dengan SK Menkes Nomor 920 tahun 2002. Kriteria pertama adalah dengan mengukur berat badan atau umur. Untuk kriteria ini, nantinya akan keluar kategori seorang itu gizi normal, gizi kurang, gizi buruk. Kriteria lainnya dengan mengukur BB/ Tinggi Badan (TB)
Disini akan memunculkan sebuitan anak kurus, kurus sekali, gemuk, atau gemuk sekali. Kriteria ketiga dengan mengukur TB/Umur, disini akan muncul sebutan seorang itu pendek, cebol, normal atau tinggi." Nah persoalan gizi itu bukan hanya gizi kurang dan gizi buruk, gizi lebih juga menjadi masalah gizi. Ini semua namanya malnutrisi atau gizi salah," ujarnya.
Diselaskan untuk melihat seorang menderita gizi buruk bisa melihat tanda klinis yang menjadi penyerta. Tanda klinis ini adalah marasmus dan kwashiorkor.
Untuk marasmus, seseorang lebih dominan kekurangan energi. Artinya kurang asupan bahan makanan pokok. Pada penderita marasmus, akan ditandai dengan badan kurus kering, berkeriput terutama disekitar wajah, lengan, perut, paha." Wajahnya seperti orang tua, makany sering disebut monkey face atau dijuluki old face, "ujarnya. Untuk kwashiorkor, lebih dominan kekurangan protein. Protein ini fungsinya untuk menyeimbangkan cairan tubuh, dalam dan luar sel, protein ini mencegah cairan merembes keluar sel. Nah karena tidak ada yang menghalangi, cairan inipun keluar. Akibatnya terjadi oedem (bengkak). Ciri yang bisa terlihat, adalah si penderita kelihatan wajahnya membengkak, dan perutnya membusung. Inilah yang kemudian populer dengan busung lapar. Perut buncit karena kelaparan. " bisa juga gabungan antara keduanya, marasmus dan kwashiorkor sekaligus, " ujarnya. Sementara itu, Ketua TP PKK NTB HJ, Rabiatul Adawiyah mengatakan tingginya angka busung lapar dan gizi buruk dikalangan masyarakat NTB sebenarnya bukan semata-mata karena kurangnya asupan makanan. Namun, lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua, khususnya ibu-ibu di NTB tentang makanan bergizi." Makanan bergizi itu tidak selalu mahal (hadi)
23 Meninggal Akibat Gizi Buruk di NTB
Sisanya berhasil disembuhkan, kata Kepala Dinkes NTB dr H. Muhammad Ismail kepada wartawan di Mataram, Rabu.
Ia mengatakan, jumlah kasus gizi buruk tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 466 kasus, dan sebanyak 20 orang di antaranya meninggal dunia.
"Masih banyaknya kasus gizi buruk di NTB bukan karena kasusnya bertambah, melainkan karena petugas di lapangan semakin aktif mendata penderita gizi bermasalah. Gizi buruk bukan semata-mata akibat kekurangan gizi, tetapi bisa juga disebabkan penyakit penyerta," ujarnya.
Ia mengatakan, petugas surveilans di lapangan semakin aktif melakukan pendataan penderita gizi bermasalah. Kasus yang ditemukan kemudian segera dibawa ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang telah dilengkapi dengan pusat pengobatan kasus gizi buruk atau Therapy Feeding Centre (TFC).
Menurut dia, penderita gizi buruk kini tidak perlu lagi dirawat di rumah sakit kabupaten atau provinsi, tetapi cukup ditangani oleh petugas puskesmas karena sebagian besar fasilitas kesehatan tersebut telah dilengkapi TFC.
"Belum lama ini kami melatih sejumlah petugas kesehatan di puskesmas agar mampu mengoperasikan peralatan TFC tersebut, sehingga sekarang sumber daya manusia (SDM) di puskesmas sudah mampu menangani kasus gizi buruk," kata Ismail.
Menurut dia, hingga kini masyarakat masih menganggap bahwa gizi buruk diakibatkan oleh masalah ekonomi, artinya para orang tua tidak mampu memberikan asupan gizi dalam jumlah yang mencukupi kepada anak-anak mereka.
Padahal ada anak-anak yang menderita gizi buruk akibat penyakit yang menyebabkan mereka tidak memiliki nafsu makan sehingga akhirnya mengakibatkan kekurangan asupan gizi. Dalam kasus itu, penyakit penyerta harus disembuhkan terlebih dulu baru kemudian kasus gizi bermasalah ditangani.
Ia mengakui kasus gizi buruk juga tidak terlepas dari penanganan bayi oleh para bidan desa. Karena itu para bidan desa diharapkan terus memantau kondisi gizi bayi yang baru lahir agar tidak menderita gizi buruk. (*)
24 Juni 2009
23 Bayi Meninggal akibat Gizi Buruk
MATARAM, KOMPAS.com — Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat dalam empat bulan terakhir (Januari-April) 2009 menemukan 268 kasus gizi buruk.
Sebanyak 23 orang di antaranya meninggal dunia dan 63 orang sedang dalam proses perawatan. Sisanya berhasil disembuhkan, kata Kepala Dinkes NTB dr H Muhammad Ismail di Mataram, Rabu (24/6).
Ia mengatakan, jumlah kasus gizi buruk tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 466 kasus dan sebanyak 20 orang di antaranya meninggal dunia.
"Masih banyaknya kasus gizi buruk di NTB bukan karena kasusnya bertambah, melainkan karena petugas di lapangan semakin aktif mendata penderita gizi bermasalah. Gizi buruk bukan semata-mata akibat kekurangan gizi, melainkan bisa juga disebabkan penyakit penyerta," ujarnya.
Ia mengatakan, petugas surveilans di lapangan semakin aktif melakukan pendataan penderita gizi bermasalah. Kasus yang ditemukan kemudian segera dibawa ke puskesmas yang telah dilengkapi dengan pusat pengobatan kasus gizi buruk atau therapy feeding centre (TFC).
Menurut dia, penderita gizi buruk kini tidak perlu lagi dirawat di rumah sakit kabupaten atau provinsi, tetapi cukup ditangani oleh petugas puskesmas karena sebagian besar fasilitas kesehatan tersebut telah dilengkapi TFC.
"Belum lama ini kami melatih sejumlah petugas kesehatan di puskesmas agar mampu mengoperasikan peralatan TFC tersebut sehingga sekarang sumber daya manusia di puskesmas sudah mampu menangani kasus gizi buruk," kata Ismail.
Menurut dia, hingga kini masyarakat masih menganggap bahwa gizi buruk diakibatkan oleh masalah ekonomi. Artinya, para orangtua tidak mampu memberikan asupan gizi dalam jumlah yang mencukupi kepada anak-anak mereka.
Padahal, ada anak-anak yang menderita gizi buruk akibat penyakit yang menyebabkan mereka tidak memiliki nafsu makan sehingga akhirnya mengakibatkan kekurangan asupan gizi. Dalam kasus itu, penyakit penyerta harus disembuhkan terlebih dulu baru kemudian kasus gizi bermasalah ditangani.
Ia mengakui, kasus gizi buruk juga tidak terlepas dari penanganan bayi oleh para bidan desa. Karena itu, para bidan desa diharapkan terus memantau kondisi gizi bayi yang baru lahir agar tidak menderita gizi buruk.
Gizi Buruk Telan Korban Jiwa 23 Orang di NTB
"Sisanya berhasil disembuhkan, "kata Kepala Dinkes NTB dr H. Muhammad Ismail kepada wartawan di Mataram, Rabu (24/6).
Ia mengatakan jumlah kasus gizi buruk tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 466 kasus, dan sebanyak 20 orang di antaranya meninggal dunia.
"Masih banyaknya kasus gizi buruk di NTB bukan karena kasusnya bertambah, melainkan karena petugas di lapangan semakin aktif mendata penderita gizi bermasalah. Gizi buruk bukan semata-mata akibat kekurangan gizi, tetapi bisa juga disebabkan penyakit penyerta," ujarnya.
Ia mengatakan petugas pemantau di lapangan semakin aktif melakukan pendataan penderita gizi bermasalah. Kasus yang ditemukan kemudian segera dibawa ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang telah dilengkapi dengan pusat pengobatan kasus gizi buruk atau Therapy Feeding Centre (TFC).
Menurut dia, penderita gizi buruk kini tidak perlu lagi dirawat di rumah sakit kabupaten atau provinsi, tetapi cukup ditangani oleh petugas puskesmas karena sebagian besar fasilitas kesehatan tersebut telah dilengkapi TFC. "Belum lama ini kami melatif sejumlah petugas kesehatan di puskesmas agar mampu mengoperasikan peralatan TFC tersebut, sehingga sekarang sumber daya manusia (SDM) di puskesmas sudah mampu menangani kasus gizi buruk," kata Ismail. (Ant/OL-06)
27 April 2009
Kematian Ibu Melahirkan Indonesia Tertinggi Asia
Minggu, 26 April 2009
JAKARTA – Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia masih tertinggi di Asia. Padahal, angka ini merupakan salah satu indikator kualitas sebuah negara.
Deputi Bidang Ilmu Pengtahuan Sosial dan kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesi a(LIPI), Prof DR Dewi Fortuna Anwar mengatakan, AKI dan AKB atau yang dalam instilah internasional dikenal dengan Martenal Morality Rate (MMR) di Indonesia masih sangatlah tinggi. Walaupun sudah berhasil di tekan dibawah rata-rata negara berkembang.
"Tahun 2002 kematian ibu melahirkan mencapai 307 per seratus ribu kelahiran. Angka ini 65 kali kematian Ibu di Singapura, 9,5 kali dari Malaysia. Bahkan, 2,5 kali lipat dari indeks Filipina," papar dia dalam Seminar Revitalisasi Pemikiran Ibu RA Kartini Menuju Satu Abad Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA Budi Kemuliaan, Ahad (26/4).
Padahal, kata dia, MMR merupakan indikator utama yang membedakan suatu negara digolongkan sebagai negara maju atau negara berkembang. Dia menerangkan, rata-rata MMR di dunia, dari seratus ribu kelahiran tingkat kematian ibu mencapai 400.
Sedangkan, negara maju indek MMR-nya 20 kematian per seratus ribu kelahiran. "Rata-rata di negara berkembang 440 kematian ibu per seratus ribu kelahiran," terang dia.
Penyebab tingginya tingkat kematian ibu di Indonesia, menurut dia, antara lain, lantaran budaya patriakal yang masih kental. "Perempuan tidak memiliki kendali penuh atas dirinya. Seringkali dia tidak berkuasa kapan dia harus mengandung, padahal disaat itu mungkin hamil berbahaya bagi dia," ujarnya.
Kemudian, disebabkan kemiskinan, rendahnya pendidikan, kurangnya akses terhadap informasi, tingginya peranan dukun, dan terbatasnya layanan medis modern.
Alasan tersebut, lanjut Dewi menjadikan landasan utama perjuangan RSIA Budi Kemuliaan. "Juga peristiwa tragis RA Kartini yang meninggal dunia saat melahirkan putra pertamanya membuat kami terus berjuang mencegah kematian ibu melahirkan, di indonesiam," katanya mengharapkan.
Dalam kesempatan yang sama, anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtea (PKS), DR Nursanita Nasution menjelaskan, Jika kita ingin memperbaiki posisi Indonesia di mata internasional, maka perbaiki wajah perempuan Indonesia.
"Bagaimana mungkin kita mengharapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan bermoral? jika para ibu hamil kekurangan gizi dan anemia," tukasnya. Menurut dia, wanita itu ibarat madrasah. "Jika kita persiapkan dengan baik berarti kita mempersiapkan bangsa yang baik pula," tambahnya.
Dia menyayangkan lebih seabad perjuangan RA kartini, namun Angka kematian Ibu di Indonesia masih yang tertingi di Asia. "Ibarat pesawat yang berpenumpang 300 orang, maka setiap bulan satu pesawat jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya," ujar politikus dan Ibu tujuh orang anak ini.
Dalam kesempatan peringatan menuju 100 tahun RSIA Budi Kemulian tersebut, Direktur Utama RSIA Budi Kemulian, dr Mohammad Baharuddin SPOG mengatakan, Pemikiran RA Kartini lah menginspirasi berdirinya Perkumpulan Budi Kemuliaan hampir seabad yang lalu.
"Sampai saat ini, kami menerapkan pemikiran-pemikiran Kartini dalam memberikan pendidikkan, pelayanan, pelatihan, dan penelitian di bidang kesehatan reproduksi melalui Rumah Sakit Ibu dan Anak dan Akademi Kebidanan Budi Kemualian, " ujarnya.
Perkumpulan Budi Kemulian dalam melakukan pelayanan, kata dia, berprinsip tidak menolak pasien, tidak mengharuskan uang muka, menerima pasien dengan rasa hormat, pemberdayaan pasien dan keluarga, dan kebijakan pelayanan yang dirancang memenuhi kemampuan masyarakat.
"Oleh karena itu, kami melayani pasien dari yang miskin sampai yang berada. Dan, di RSIA Budi Kemuliaan kami tidak membedakan ruang persalian pasien pasien kaya dan miskin," tambahnya.
Misi Perkumpulan Budi Kemuliaan, terang dia, antara lain, merintis dan mengembangkan usaha baru dalam rangka meningkatkan kesehatan, kecerdasan, dan peran serta perempuan dan keluarga./c89/itz
24 Maret 2009
Balita Gizi Buruk Meninggal di Serang
SERANG, JUMAT — Seorang balita penderita gizi buruk di Kota Serang, Banten, meninggal dunia akibat mengidap penyakit komplikasi.
"Selama tiga pekan terakhir anak saya bernama Supriyadi (1,6 bulan) dirawat di RSUD Serang, namun kondisinya semakin memburuk," kata Sarmawi (35), orangtua Supriyadi warga Tegal Gowa, Desa Kalasan RT 13 RW 14, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Jumat.
Sarmawi mengatakan, anak keduanya itu teridentifikasi menderita gizi buruk karena berat badannya hanya mencapai empat kilogram dan tidak sesuai dengan usianya.
Supriyadi dilarikan ke rumah sakit karena terserang penyakit komplikasi antara demam tinggi, jantung, liver, dan muntah-muntah, bahkan selama dalam perawatan ia tidak mau makan dan minum susu.
Oleh karena itu, pihaknya terpaksa membawa pulang kembali anaknya dari rumah sakit, Kamis malam, karena kondisi kesehatannya semakin memburuk. Dan pada Jumat pukul 04.30, balita laki-laki itu akhirnya meninggal dunia di kediamannya.
"Mungkin, ini nasib bagi saya, karena dua anak saya meninggal akibat gizi buruk," ujar Sarmawi sambil mengutarakan bahwa kakak Supriadi meninggal tiga tahun lalu.
Sementara itu, Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kota Serang dr Teja Ratri membenarkan adanya korban meninggal akibat gizi buruk warga Kecamatan Kasemen.
Sebetulnya, ujar dia, jika pasien itu tidak memaksakan pulang kemungkinan nyawanya bisa tertolong.
"Sebagian besar penderita gizi buruk tidak tuntas dalam proses penyembuhannya karena mereka pulang paksa ketika dirawat rumah sakit," jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Serang jumlah penderita gizi buruk tercatat 664 anak balita.
ABD
Sumber : Ant
Satu Anak Balita Gizi Buruk Meninggal
SERANG, KOMPAS — Seorang anak berusia di bawah lima tahun atau balita penderita gizi buruk meninggal dunia pada Jumat (6/3) dini hari. Anak balita asal Desa Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, itu meninggal di rumahnya setelah 25 hari dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Serang.
Penderita gizi buruk itu bernama Supriyadi, yang baru berusia 18 bulan. Dia dibawa ke RSUD Serang karena mengalami demam dan batuk berkepanjangan. Saat meninggal, berat badan anak pasangan Sarmawi-Janti itu hanya 7 kilogram. Padahal, idealnya, berat badan anak seusia Suryadi minimal 11 kilogram.
Sarmawi mengaku tidak mengetahui penyebab gizi buruk yang dialami anaknya. Padahal, pada tahun 2008, anak pertama Sarmawi bernama Surihat juga meninggal karena mengalami gizi buruk.
"Enggak tahu penyebabnya apa, anak-anak saya bisa meninggal seperti itu. Katanya gizi buruk," katanya.
Sehari-hari Sarmawi bekerja sebagai pencari barang rongsokan. Lelaki itu merawat sendiri kedua anaknya karena istrinya, Janti, bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Arab Saudi.
Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Banten Dadang, selama 2008 terdapat 13 anak balita penderita gizi buruk yang meninggal di Banten. Jumlah itu sekitar 0,14 persen dari total penderita gizi buruk, yakni sebanyak 9.267 anak balita. Untuk menekan angka anak balita gizi buruk, tahun ini Pemprov mengalokasikan dana hingga Rp 6,8 miliar, ditambah bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 3 miliar.
Anak balita AIDS
Sementara itu, kemarin, seorang anak perempuan berusia dua tahun yang juga menderita gizi buruk masih dirawat di RSUD Serang. Selain menderita gizi buruk, anak balita itu juga terjangkit HIV/AIDS.
Menurut keterangan Santoso Edi dari Klinik Teratai RSUD Serang, saat masuk rumah sakit 23 Februari lalu, berat badan anak balita perempuan itu hanya 6,2 kilogram. Idealnya anak berusia dua tahun itu 12 kilogram. Setelah diperiksa, anak balita itu juga mengalami pembengkakan hati, mengalami infeksi karena jamur mulut. Tim dokter mencurigai ada penyakit lain.
Petugas dari Klinik Teratai, yang merupakan rujukan Voluntary Consulting and Testing (VCT) untuk HIV/AIDS, melakukan tes. Hasilnya, anak balita itu positif terjangkit HIV/AIDS. Diduga anak balita itu tertular sejak lahir dari ibunya yang juga positif HIV/AIDS karena tertular dari suaminya yang merupakan pengguna narkoba.
Secara terpisah, Program Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banten Arif Mulyawan mengatakan, hingga tahun ini ada 10 ibu positif HIV/AIDS yang melahirkan. Namun, KPA beserta Dinas Kesehatan berhasil mencegah penularan HIV/AIDS dari ibu ke janin melalui program Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT). "Hasilnya, tiga bayi di antaranya negatif HIV/AIDS meski ibunya positif," ujarnya.
NTA
Penderita Gizi Buruk Itu Akhirnya Meninggal
KUPANG, MINGGU - Salah seorang penderita gizi buruk di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Monica Monteiro (6), akhirnya meninggal dunia setelah hampir tiga tahun dirawat sendiri oleh orangtuanya di desa itu.
"Selama hampir tiga tahun, ia (Monica, red) di rumah saja. Kami tidak sempat membawanya ke puskesmas atau rumah sakit untuk berobat atau perawatan lebih lanjut, karena ketiadaan biaya," kata sang ayah, Agustino Monteiro, Minggu (11/1), setelah pemakaman anaknya yang meninggal Jumat (9/1).
Agustino Monteiro adalah salah seorang dari sekian banyak warga eks pengungsi Timor Timur yang ada di Oebelo. Hidup mereka masih serba memprihatinkan akibat lemahnya ekonomi keluarga.
Masyarakat di wilayah pedesaan itu juga terkena wabah diare akibat memburuknya sanitasi lingkungan di musim hujan ini. Wabah diare ini merenggut tiga nyawa dan menyerang lebih dari 200 orang lainnya.
Meninggalnya Monica Monteiro akibat gizi buruk itu menjadi ironis, karena dalam tiga tahun terakhir Departemen Kesehatan melalui Dinas Kesehatan NTT serta dinas terkait lainnya di tingkat kabupaten/kota terus melancarkan operasi penanggulangan gizi buruk.
Dana puluhan miliar yang dialokasikan Departemen Kesehatan untuk menanggulangi gizi buruk itu, antara lain untuk pengadaan makanan bergizi serta biaya perawatan di rumah sakit bagi korban gizi buruk yang kritis.
Selama tiga tahun berjalan, Monica Monteiro tak tersentuh program perbaikan gizi. Ia dirawat sendiri oleh orangtuanya sampai akhirnya meninggal dunia. Monica adalah anak ke-7 dari sembilan bersaudara buah perkawinan Agustino Monteiro dan Yustina Freitas.
Dalam kurun waktu 2008 hingga awal 2009, tercatat enam orang anak warga eks pengungsi Timor Timur yang bermukim di lokasi pemukiman Desa Oebelo meninggal dunia akibat gizi buruk.
wsn
Sumber : Ant
Akibat Kurang Gizi, 10 Bayi Meninggal
KEDIRI, KAMIS - Sebanyak 10 bayi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, meninggal dunia akibat mengalami gizi buruk selama tahun 2008.
"Mereka rata-rata mempunyai penyakit bawaan sejak lahir sehingga mengakibatkan gizi buruk," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Kediri, dr. Adi Laksono, di Kediri, Kamis.
Ia mengatakan, beberapa penyakit bawaan tersebut di antaranya paru-paru, jantung, kegagalan fungsi organ, dan gangguan mental.
Menurut Adi, pada tahun 2007, sebanyak 175 bayi di Kabupaten Kediri terdeteksi berada di bawah 'garis merah'. Selain itu, 26 bayi lainnya terdeteksi menderita kekurangan energi protein (KEP). Sedang pada 2008, sebanyak 158 bayi terdeteksi berada di bawah 'garis merah' dan 22 bayi KEP.
"Bayi yang berat badannya di bawah 'garis merah' harus selalu dipantau, sebab jika dibiarkan bisa mengarah pada kondisi KEP, bahkan gizi buruk akut seperti marasmus dan kwashiorkor," katanya menjelaskan.
Upaya perbaikan gizi, terutama bagi mereka yang berada di bawah 'garis merah', dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung empat sehat lima sempurna.
"Kami sudah mengadakan kegiatan penambahan gizi dengan adanya program makanan tambahan (PMT) seperti bubur dan makanan sehat lainnya," katanya.
Sementara itu, menyinggung Semi Ramadhani, penderita KEP, Adi berharap, anggota keluarga segera mengurusnya.
"Seharusnya kedua orang tua datang ke perangkat desa untuk meminta surat keterangan tidak mampu, baru nanti ke Dinas Kesehatan," kata Adi.
Anggota DPRD Kabupaten Kediri, Lutfi Mahmudiono, menyesalkan masih ada warga miskin yang belum mendapatkan kartu masyarakat miskin.
Ia mengatakan, dalam anggaran tahun 2009 ini, alokasi untuk kesehatan terutama untuk keluarga miskin cukup besar, hingga Rp5 miliar. Dana itu masih ditambah dengan anggaran dari pemerintah pusat.
"Seharusnya perangkat desa bisa lebih tanggap agar segera dibuatkan kartu keluarga miskin," katanya.
ABD
18 Maret 2009
Penderita Gizi Buruk Meninggal
Jum'at, 06 Maret 2009
TEMPO Interaktif, Jakarta: Supriyadi, 17 bulan, anak pasangan Sarmawi dan Janti warga kampung Tegal Dawa, Desa Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, meninggal dunia Jumat (6/3) dirumahnya setelah mendapatkan perawatan selama 24 hari di rumah sakit umum daerah (RSUD) Serang akibat gizi buruk yang dideritanya.
Orang tua korban, Sarmawi menuturkan, anak keduanya ini menjadi korban gizi buruk yang kedua kalinya setelah anak pertamanya Sutihat, 3 tahun, meninggal dunia satu tahun lalu akibat gejala yang sama. Menurut dia, sebelumnya Supriyadi lahir secara normal dengan berat badan sekitr 3-4 kilogram, dan telah mengalami perkembangan sebagaimana bayi pada umumnya.
Namun menginjak usia satu tahun, berat badannya menurun dan sering sakit-sakitan, bahkan terakhir berat badannya kurang dari 7 kilogram, "ini tidak sesuai bila dilihat dari anak seumurannya," katanya. Sarmawi mengaku dirinya tidak mampu mencukupi kebutuhan makanan anaknya karena dia dan istrinya bekerja sebagai pemulung yang hanya berpenghasilan Rp 10-20 ribu perhari, "Saya dan istri bekerja sebagai pemulung," ujar dia. Pria 33 tahun itu pun kewalahan memenuhi kebutuhan keluarganya yang masih tinggal dengan mertuanya.
Sebelumnya Supriyadi mengalami demam tinggi dan batuk-batuk disertai muntaber pada Minggu (8/2) yang lalu. Pada hari Senin, bocah malang itu baru dibawa ke Puskesmas Kilasah. Pusat kesehatam masyarakat itu kemudian merujuk Supriyadi ke Rumah Sakit Umum Daerah Serang untuk dirawat intensif karena terindikasi gizi buruk.
MABSUTI IBNU MARHAS
Penderita Gizi Buruk Meninggal
Jum'at, 06 Maret 2009
TEMPO Interaktif, Jakarta: Supriyadi, 17 bulan, anak pasangan Sarmawi dan Janti warga kampung Tegal Dawa, Desa Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, meninggal dunia Jumat (6/3) dirumahnya setelah mendapatkan perawatan selama 24 hari di rumah sakit umum daerah (RSUD) Serang akibat gizi buruk yang dideritanya.
Orang tua korban, Sarmawi menuturkan, anak keduanya ini menjadi korban gizi buruk yang kedua kalinya setelah anak pertamanya Sutihat, 3 tahun, meninggal dunia satu tahun lalu akibat gejala yang sama. Menurut dia, sebelumnya Supriyadi lahir secara normal dengan berat badan sekitr 3-4 kilogram, dan telah mengalami perkembangan sebagaimana bayi pada umumnya.
Namun menginjak usia satu tahun, berat badannya menurun dan sering sakit-sakitan, bahkan terakhir berat badannya kurang dari 7 kilogram, "ini tidak sesuai bila dilihat dari anak seumurannya," katanya. Sarmawi mengaku dirinya tidak mampu mencukupi kebutuhan makanan anaknya karena dia dan istrinya bekerja sebagai pemulung yang hanya berpenghasilan Rp 10-20 ribu perhari, "Saya dan istri bekerja sebagai pemulung," ujar dia. Pria 33 tahun itu pun kewalahan memenuhi kebutuhan keluarganya yang masih tinggal dengan mertuanya.
Sebelumnya Supriyadi mengalami demam tinggi dan batuk-batuk disertai muntaber pada Minggu (8/2) yang lalu. Pada hari Senin, bocah malang itu baru dibawa ke Puskesmas Kilasah. Pusat kesehatam masyarakat itu kemudian merujuk Supriyadi ke Rumah Sakit Umum Daerah Serang untuk dirawat intensif karena terindikasi gizi buruk.
MABSUTI IBNU MARHAS
Akibat Kurang Gizi, 10 Bayi Meninggal
KEDIRI, KAMIS - Sebanyak 10 bayi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, meninggal dunia akibat mengalami gizi buruk selama tahun 2008.
"Mereka rata-rata mempunyai penyakit bawaan sejak lahir sehingga mengakibatkan gizi buruk," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Kediri, dr. Adi Laksono, di Kediri, Kamis.
Ia mengatakan, beberapa penyakit bawaan tersebut di antaranya paru-paru, jantung, kegagalan fungsi organ, dan gangguan mental.
Menurut Adi, pada tahun 2007, sebanyak 175 bayi di Kabupaten Kediri terdeteksi berada di bawah 'garis merah'. Selain itu, 26 bayi lainnya terdeteksi menderita kekurangan energi protein (KEP). Sedang pada 2008, sebanyak 158 bayi terdeteksi berada di bawah 'garis merah' dan 22 bayi KEP.
"Bayi yang berat badannya di bawah 'garis merah' harus selalu dipantau, sebab jika dibiarkan bisa mengarah pada kondisi KEP, bahkan gizi buruk akut seperti marasmus dan kwashiorkor," katanya menjelaskan.
Upaya perbaikan gizi, terutama bagi mereka yang berada di bawah 'garis merah', dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung empat sehat lima sempurna.
"Kami sudah mengadakan kegiatan penambahan gizi dengan adanya program makanan tambahan (PMT) seperti bubur dan makanan sehat lainnya," katanya.
Sementara itu, menyinggung Semi Ramadhani, penderita KEP, Adi berharap, anggota keluarga segera mengurusnya.
"Seharusnya kedua orang tua datang ke perangkat desa untuk meminta surat keterangan tidak mampu, baru nanti ke Dinas Kesehatan," kata Adi.
Anggota DPRD Kabupaten Kediri, Lutfi Mahmudiono, menyesalkan masih ada warga miskin yang belum mendapatkan kartu masyarakat miskin.
Ia mengatakan, dalam anggaran tahun 2009 ini, alokasi untuk kesehatan terutama untuk keluarga miskin cukup besar, hingga Rp5 miliar. Dana itu masih ditambah dengan anggaran dari pemerintah pusat.
"Seharusnya perangkat desa bisa lebih tanggap agar segera dibuatkan kartu keluarga miskin," katanya.
ABD
Sepuluh Bayi Penderita Gizi Buruk Meninggal
08/01/09
Kediri (ANTARA News) - Sepuluh bayi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, meninggal dunia akibat mengalami gizi buruk selama tahun 2008, demikian Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Kediri, Adi Laksono di Kediri, Kamis.
"Mereka rata-rata mempunyai penyakit bawaan sejak lahir sehingga mengakibatkan gizi buruk," kata Adi sambil menyebut penyakit bawaan itu paru-paru, jantung, kegagalan fungsi organ dan gangguan mental.
Menurut Adi, pada 2007, 175 bayi di Kabupaten Kediri berada di bawah garis merah, 26 bayi lain menderita kekurangan energi protein (KEP). Sedangkan pada 2008, 158 bayi terdeteksi berada dibawah garis merah dan 22 bayi KEP.
"Bayi yang berat badannya di bawah garis merah harus selalu dipantau, sebab jika dibiarkan bisa mengarah pada kondisi KEP, bahkan gizi buruk akut seperti marasmus dan kwashiorkor," jelasnya.
Upaya perbaikan gizi, terutama bagi mereka yang berada dibawah garis merah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung empat sehat lima sempurna.
"Kami sudah mengadakan kegiatan penambahan gizi dengan program makanan tambahan (PMT) seperti bubur dan makanan sehat lainnya," katanya.
Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Kediri, Lutfi Mahmudiono, menyesalkan masih ada warga miskin yang belum mendapatkan kartu masyarakat miskin, padahal alokasi untuk kesehatan terutama untuk keluarga miskin cukup besar hingga Rp5 miliar dan masih ditambah anggaran dari pemerintah pusat.
"Seharusnya perangkat desa bisa lebih tanggap agar segera dibuatkan kartu keluarga miskin," katanya. (*)
11 Maret 2009
Korban Tewas Gizi Buruk di NTT Sembilan Orang
Minggu, 11 Januari 2009
Hingga pekan kedua Januari 2009, jumlah korban tewas akibat gizi buruk menjadi sembilan orang. Tujuh di antaranya warga Kabupaten dan Kota Kupang, sementara dua lainnya warga Kabupaten Sumba Timur. Yakob Haning, ayah kandung Soni, yang dihubungi Minggu (11/1/2009)mengakui anaknya meninggal dunia akibat komplikasi diare dan gizi buruk.
"Kalau hanya diare maka pasti bisa disembuhkan. Tetapi karena komplikasi dengan gizi buruk sehingga nyawa anak saya gagal diselamatkan tim medis," ujarnya.
Sementara Agustino Monteior, ayah Monika Monteior mengatakan, ketiadaan biaya menjadi penyebab anaknya tidak dapat berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. "Dari mana kami dapatkan uang? Untuk makan saja susah," katanya.
Lelin Itha, Ketua Badan Perwakilan Masyarakat Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, mengatakan, pemerintah telah menghentikan pelayanan kesehatan bagi balita dan ibu hamil di wilayah itu, sejak 2008 lalu.
"Sebagian besar balita dan anak-anak tidak mendapat pelayanan kesehatan dasar seperti imunisasi polio, BCG, DPT, campak dan imunisasi lainnya serta makanan tambahan bergizi. Padahal, sebagian balita dan anak mengalami gizi buruk," katanya.
Dia menambahkan, untuk mendapatkan pelayanan imunisasi, para balita dan anak-anak harus menempuh perjalanan darat melalui jalan berbatu sepanjang 80 kilometer ke Kota Kupang karena buruknya pelayanan medis dari petugas Puskesmas maupun posyandu.
"Faktor ini yang menjadi penyebab utama terus bertambahnya korban tewas akibat gizi buruk," katanya.
Anggota DPRD NTT, Karel Yani Mbuik, yang dihubungi di Kupang, mengatakan, pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota lebih banyak menghabiskan waktu, dana dan energi untuk mengurus pemilu kepala daerah dan kegiatan politik lainnya daripada mengurus kesehatan dasar masyarakat.
"Ini bukti bahwa tidak ada keseriusan lagi dari pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraan rakyat," kata Mbuik.
Lebih dari 100.000 balita di 20 kabupaten/kota di NTT dilaporkan menderita gizi buruk, kurang gizi dan busung lapar. Sebagian besar penderita gizi berasal dari keluarga miskin dan menetap di desa terpencil dan terisolir.
Tahun 2008 lalu, korban tewas di NTT akibat gizi buruk mencapai 28 orang.Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) mengalokasikan sejumlah dana untuk pemberian makanan tambahan bagi balita gizi buruk di daerah itu.
Dana akan disalurkan melalui posyandu karena dianggap paling dekat dengan masyarakat dan lebih mengetahui kondisi para balita. "Di posyandu, petugas bisa langsung membagikan makanan tambahan untuk para balita," kata Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora.
(fit)
Dua Bocah Penderita Gizi Buruk Meninggal
Liputan6.com
Liputan6.com, Buru: Seorang anak penderita gizi buruk di Kabupaten Buru Utara, Maluku, meninggal setelah keluar dari rumah sakit, baru-baru ini. Pihak keluarga tidak mampu membayar biaya pengobatan dan mengeluarkan Aditya dari rumah sakit. Mereka tidak memiliki kartu miskin.
Sebelumnya, Aditya sempat menjalani rawat jalan di Puskesmas Namlea selama tiga bulan. Kemudian ia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Namlea lantaran kritis. Terkait kasus ini, Wakil Bupati Buru Utara berjanji akan memberhentikan kepala dinas kesehatan setempat dari jabatannya. Hingga sekarang masih terdapat tiga pasien gizi buruk yang masih dirawat intensif di RSU Namlea.
Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Monika Monteiro, juga meninggal akibat gizi buruk dan menderita sakit. Anak dari Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, ini sebelumnya hanya dirawat di rumah oleh orangtuanya selama tiga tahun. Namun karena kekurangan asupan gizi, kondisi bocah berusia enam tahun ini terus memburuk hingga akhirnya meninggal.
Faktor kemiskinan menjadi penyebab Monika mengalami gizi buruk berkepanjangan. Ayah kandung korban, Agustino Monteiro, mengatakan ketiadaan biaya menjadi penyebab anaknya tidak pernah dibawa berobat ke puskesmas atau rumah sakit.
Yuni, bocah berusia dua tahun empat bulan, juga menderita gizi buruk. Warga Kecamatan Bantar Gadung, Sukabumi, Jawa Barat, ini dirawat di Rumah Sakit Pelabuhan Ratu karena kondisinya semakin memprihatinkan. Selain Yuni, bocah penderita gizi buruk di Sukabumi cukup banyak. Warga berharap pemerintah kabupaten lebih peka dan memberikan bantuan serta penanganan.(YNI/Tim Liputan 6 SCTV)
Sepuluh Bayi Penderita Gizi Buruk Meninggal
08/01/09
Kediri (ANTARA News) - Sepuluh bayi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, meninggal dunia akibat mengalami gizi buruk selama tahun 2008, demikian Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Kediri, Adi Laksono di Kediri, Kamis.
"Mereka rata-rata mempunyai penyakit bawaan sejak lahir sehingga mengakibatkan gizi buruk," kata Adi sambil menyebut penyakit bawaan itu paru-paru, jantung, kegagalan fungsi organ dan gangguan mental.
Menurut Adi, pada 2007, 175 bayi di Kabupaten Kediri berada di bawah garis merah, 26 bayi lain menderita kekurangan energi protein (KEP). Sedangkan pada 2008, 158 bayi terdeteksi berada dibawah garis merah dan 22 bayi KEP.
"Bayi yang berat badannya di bawah garis merah harus selalu dipantau, sebab jika dibiarkan bisa mengarah pada kondisi KEP, bahkan gizi buruk akut seperti marasmus dan kwashiorkor," jelasnya.
Upaya perbaikan gizi, terutama bagi mereka yang berada dibawah garis merah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung empat sehat lima sempurna.
"Kami sudah mengadakan kegiatan penambahan gizi dengan program makanan tambahan (PMT) seperti bubur dan makanan sehat lainnya," katanya.
Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Kediri, Lutfi Mahmudiono, menyesalkan masih ada warga miskin yang belum mendapatkan kartu masyarakat miskin, padahal alokasi untuk kesehatan terutama untuk keluarga miskin cukup besar hingga Rp5 miliar dan masih ditambah anggaran dari pemerintah pusat.
"Seharusnya perangkat desa bisa lebih tanggap agar segera dibuatkan kartu keluarga miskin," katanya. (*)
Enam Balita Penderita Gizi Buruk Meninggal Dunia
Kamis, 8 Januari 2009 - 13:32 wib
Rahmat J - Okezone
KUPANG - Enam balita penderita gizi buruk meninggal dunia dalam sepekan terakhir. Dua korban tewas yakni Yustina Ina (17) dan Yayan (1,5), warga Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, meninggal pada pekan pertama Januari 2009.
Sementara empat lainnya, warga eks pengungsi Timor Timur yang menetap di kamp pegungsi Oebelo Kabupaten Kupang meninggal dunia akhir Desember lalu.
Direktur RSU Imanuel Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Dani Ch, yang dihubungi Kamis (8/1/2009) mengatakan, sebelum dirawat di Rumah Sakit Imanuel, kedua korban sempat menjalani perawatan medis di puskesmas terdekat.
"Karena tidak ada perubahan, korban dirujuk ke RSU Imanuel, namun akhirnya meninggal dunia Rabu," katanya.
Menurutnya, kondisi korban sudah kritis dan dehidrasi berat. "Berat badan kedua korban dibawah tiga kilogram.Kita sudah berupaya menolong, namun kondisinya sudah kritis," lanjutnya.
Dia menambakan, masih terdapat enam balita penderita gizi di RS tersebut dengan kondisi memprihatinkan. "Pasien yang masih di antaranya Arga Setiawan (9 bulan). Beratnya hanya empat kilogram," katanya.
Di Kabupaten Kupang, pemerintah setempat telah mengambil langkah darurat dengan membuka posko kesehatan di wilayah rawan diare. Upaya ini dilakukan untuk mencegah bertambahnya korban tewas.
"Apalagi, sebagian korban adalah balita penderita gizi," kata Lalu Budiarja, Kepala Bidang Penyuluhan Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang.
Tahun 2008 lalu, jumlah penderita gizi buruk yang dilaporkan meninggal dunia, mencapai 28 orang. Sebagian besar korban berasal dari keluarga miskin yang menetap di wilayah terisolir. Kasus gizi kembali merebak diawal 2009, setelah pemerintah pusat menolak usulan dana Rp50,4 miliar yang dikirim ke Menkokesra.
Kondisi ini menyebabkan pemberian makanan tambahan bagi balita penderita gizi dihentikan. Sedikitnya 100.000 balita di 20 kabupaten/kota masih menderita gizi.
(fit)