27 April 2009

Kematian Ibu Melahirkan Indonesia Tertinggi Asia

Republika Newsroom
Minggu, 26 April 2009

JAKARTA – Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia masih tertinggi di Asia. Padahal, angka ini merupakan salah satu indikator kualitas sebuah negara.

Deputi Bidang Ilmu Pengtahuan Sosial dan kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesi a(LIPI), Prof DR Dewi Fortuna Anwar mengatakan, AKI dan AKB atau yang dalam instilah internasional dikenal dengan Martenal Morality Rate (MMR) di Indonesia masih sangatlah tinggi. Walaupun sudah berhasil di tekan dibawah rata-rata negara berkembang.

"Tahun 2002 kematian ibu melahirkan mencapai 307 per seratus ribu kelahiran. Angka ini 65 kali kematian Ibu di Singapura, 9,5 kali dari Malaysia. Bahkan, 2,5 kali lipat dari indeks Filipina," papar dia dalam Seminar Revitalisasi Pemikiran Ibu RA Kartini Menuju Satu Abad Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA Budi Kemuliaan, Ahad (26/4).

Padahal, kata dia, MMR merupakan indikator utama yang membedakan suatu negara digolongkan sebagai negara maju atau negara berkembang. Dia menerangkan, rata-rata MMR di dunia, dari seratus ribu kelahiran tingkat kematian ibu mencapai 400.

Sedangkan, negara maju indek MMR-nya 20 kematian per seratus ribu kelahiran. "Rata-rata di negara berkembang 440 kematian ibu per seratus ribu kelahiran," terang dia.

Penyebab tingginya tingkat kematian ibu di Indonesia, menurut dia, antara lain, lantaran budaya patriakal yang masih kental. "Perempuan tidak memiliki kendali penuh atas dirinya. Seringkali dia tidak berkuasa kapan dia harus mengandung, padahal disaat itu mungkin hamil berbahaya bagi dia," ujarnya.

Kemudian, disebabkan kemiskinan, rendahnya pendidikan, kurangnya akses terhadap informasi, tingginya peranan dukun, dan terbatasnya layanan medis modern.

Alasan tersebut, lanjut Dewi menjadikan landasan utama perjuangan RSIA Budi Kemuliaan. "Juga peristiwa tragis RA Kartini yang meninggal dunia saat melahirkan putra pertamanya membuat kami terus berjuang mencegah kematian ibu melahirkan, di indonesiam," katanya mengharapkan.

Dalam kesempatan yang sama, anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtea (PKS), DR Nursanita Nasution menjelaskan, Jika kita ingin memperbaiki posisi Indonesia di mata internasional, maka perbaiki wajah perempuan Indonesia.

"Bagaimana mungkin kita mengharapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan bermoral? jika para ibu hamil kekurangan gizi dan anemia," tukasnya. Menurut dia, wanita itu ibarat madrasah. "Jika kita persiapkan dengan baik berarti kita mempersiapkan bangsa yang baik pula," tambahnya.

Dia menyayangkan lebih seabad perjuangan RA kartini, namun Angka kematian Ibu di Indonesia masih yang tertingi di Asia. "Ibarat pesawat yang berpenumpang 300 orang, maka setiap bulan satu pesawat jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya," ujar politikus dan Ibu tujuh orang anak ini.

Dalam kesempatan peringatan menuju 100 tahun RSIA Budi Kemulian tersebut, Direktur Utama RSIA Budi Kemulian, dr Mohammad Baharuddin SPOG mengatakan, Pemikiran RA Kartini lah menginspirasi berdirinya Perkumpulan Budi Kemuliaan hampir seabad yang lalu.

"Sampai saat ini, kami menerapkan pemikiran-pemikiran Kartini dalam memberikan pendidikkan, pelayanan, pelatihan, dan penelitian di bidang kesehatan reproduksi melalui Rumah Sakit Ibu dan Anak dan Akademi Kebidanan Budi Kemualian, " ujarnya.

Perkumpulan Budi Kemulian dalam melakukan pelayanan, kata dia, berprinsip tidak menolak pasien, tidak mengharuskan uang muka, menerima pasien dengan rasa hormat, pemberdayaan pasien dan keluarga, dan kebijakan pelayanan yang dirancang memenuhi kemampuan masyarakat.

"Oleh karena itu, kami melayani pasien dari yang miskin sampai yang berada. Dan, di RSIA Budi Kemuliaan kami tidak membedakan ruang persalian pasien pasien kaya dan miskin," tambahnya.

Misi Perkumpulan Budi Kemuliaan, terang dia, antara lain, merintis dan mengembangkan usaha baru dalam rangka meningkatkan kesehatan, kecerdasan, dan peran serta perempuan dan keluarga./c89/itz


Tidak ada komentar:

Posting Komentar