27 April 2009

Gara-gara Cinta, 61 Tahun Hidup di Perantauan Sebagai WNI Ilegal

Jumat, 17/04/2009

Ramdhan Muhaimin - detikNews

Kuala Lumpur - Kisah yang dijalani oleh WNI yang satu ini sungguh memilukan. Hidup sebatang kara di negeri rantauan karena lari dari cinta.

Adalah Sakur (91), seorang kakek tua asal Jawa Timur. Usianya lebih tua daripada usia kemerdekaan negeri tempatnya mengais rejeki, Malaysia. Namun ironisnya, meski telah hidup lama, Sakur tidak mempunyai surat-surat resmi sebagai warga negara Malaysia.

Sementara seluruh keluarganya yang hingga kini masih ada di Indonesia mengganggapnya telah tiada. Dan sekarang, Sakur merindukan pulang ke Tanah Air.

Kepada wartawan, Sakur menceritakan, kisah hidupnya yang panjang di Malaysia bermula 61 tahun lalu ketika dirinya memutuskan pergi merantau ke Malaysia.

"Saya berangkat dari Surabaya. Waktu itu ke sini dengan 'sapu angin'- lah," kisah Sakur ketika berbincang-bincang dengan Dubes RI Dai Bachtiar di gedung KBRI Kuala Lumpur, Jumat (17/4/2009).

Tidak tahu persis yang dimaksudkannya dengan 'sapu angin'. Namun dia mengaku waktu perjalanan yang ditempuh Surabaya-Johor hanya 2 jam.

Keputusan Sakur pergi merantau jauh ke Malaysia ternyata disebabkan persoalan cinta. Dia lari karena kedua orang tuanya mendesaknya menikahi gadis anak saudaranya.

"Ya saya tidak maulah. Saya sudah punya pacarlah," ujar kakek yang masih fasih berbahasa Jawa ini.

Saking setianya pada sang pacar, hingga kini Sakur menolak untuk menikah dan hidup membujang.

Kampung Muar di Johor menjadi tanah yang pertama kali dipijak Sakur ketika tiba di Malyasia. Mulanya dia bekerja sebagai penebang hutan dan pemotong rumput. Namun pekerjaan itu dilakukan selama beberapa bulan saja. Setelah itu, dia bekerja serabutan dan berpindah-pindah.

Ironisnya lagi, Sakur tidak pernah menetap di rumah atau pun menyewa sebuah kamar untuk tinggal. Selama di Malaysia Sakur tinggal berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain.

"Semua masjid di Malaysia ini sudah saya tinggali. Saya hanya tinggal di masjid," ungkap dia.

Untuk kehidupan sehari-hari, Sakur mengaku hanya berharap dari keikhlasan pemberian orang lain atas jasa pijit tradisional yang dilakukannya. Sehingga dari jari-jari 'ajaib'-nya itu Sakur bisa menyambung hidup sedikit demi sedikit.

Usia yang sangat lanjut ditambah dengan kisah hidupnya yang penuh keprihatinan di negeri Petronas telah menggugah hati warga negara Malaysia. Tidak terkecuali seorang anggota parlemen Negeri Selangor bersama beberapa pengurus masjid yang kemudian membantu mengantarnya ke KBRI Kuala Lumpur pada 24 Maret lalu.

"Mereka bilang, tapi dia tidak tahu caranya bagaimana balik ke Indonesia. Karena itu dibawalah dia ke kedutaan. Mereka juga bilang kalau Sakur orangnya rajin salat dan tidak rusuh," ujar salah seorang staf konsuler KBRI Kuala Lumpur.

Sebelum tinggal di Masjid Sungai Udang, Kelang, tempat tinggalnya yang sekarang, dia tinggal di Masjid Teluk Gong, Kelang. Bahkan sebulan sebelumnya lagi, Sakur tinggal di sebuah masjid di Segambut Johor.

Menariknya, untuk pergi dari Segambut Johor ke Teluk Gong Kelang, Sakur bercerita bahwa dia pergi berjalan kaki 3 hari 2 malam.

Tim Satuan Tugas Pelayanan dan Perlindungan WNI (Satgas PPWNI) KBRI Kuala Lumpur pada 27 Maret 2009 lalu, berhasil melacak keberadaan adik kandung Sakur bernama Sahid yang beralamat di Desa Waru RT/RW 02/02, Kecamatan Tanjung Anom, Lingkungan Krempyang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Sakur sendiri merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Direncanakan, Sakur akan pulang ke Indonesia pada Minggu 19 April didampingi anggota Tim Satgas PPWNI KBRI Kuala Lumpur untuk dipertemukan dengan keluarganya.
(rmd/nrl)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar