05 April 2009

Antara Swasembada dan Mimpi Ekspor Beras

Ketahanan Pangan
Senin, 6 April 2009

 

Hamparan padi menguning pelan bergoyang ditiup sepoi angin di satu siang yang terik di Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Di sebuah saung di tepi sawah tampak dua lelaki duduk dengan raut wajah cemas.


"Sudah dua jam saya menunggu Pak Ajat," kata Usep Maher (43), petani penggarap asal Cianjur itu sedikit kesal. Orang yang ia tunggu adalah pegawai salah satu mitra tani Bulog yang biasa membeli gabah dari sekitar 10 kelompok tani di Desa Rancaekek Wetan. Usep akan menjual sekitar 1 ton gabah hasil panen yang dihasilkan dari 2 hektar sawah yang digarap tiga tahun terakhir bersama lima petani lain.


Menurut Usep, satu kelompok tani di Desa Rancaekek rata-rata mampu menghasilkan 10-15 ton gabah kering panen. Penyerapan gabah di tingkat petani memang masih didominasi aktivitas para mitra Bulog. Berdasarkan data Perum Bulog Divisi Regional III Jawa Barat, terdapat sekitar 500 mitra Bulog yang tersebar di seluruh provinsi.


Melebihi prognosa

Menurut Kepala Perum Bulog Divre II Jabar Agusdin Fariedh, terhitung sampai Minggu (5/4), penyerapan gabah petani mencapai 175.000 ton. Jumlah ini jauh melebihi prognosa pengadaan hingga Maret yang awalnya ditargetkan 100.000 ton.


Hingga akhir tahun ini, Bulog Jabar menargetkan pengadaan 500.000 ton gabah. "Melihat iklim yang bagus, saya optimistis target pengadaan 2009 tercapai, bahkan ada kemungkinan melampaui target hingga 550.000 ton," kata Fariedh.


Dari angka ramalan pertama BPS Jabar, produksi padi 2009 akan mencapai 10,231 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 6,47 juta ton beras. Jumlah ini naik 1,2 persen dibandingkan dengan produksi 2008 sebanyak 6,38 juta ton.


Dengan asumsi 42 juta penduduk Jabar dan tingkat konsumsi beras 105 kilogram per kapita per tahun, kebutuhan beras mencapai 4,4 juta ton per tahun. Melihat selisih tingkat produksi dengan konsumsi, pemerintah mulai mendengungkan keberhasilan swasembada pangan. Wacana ekspor beras pun bergulir.


Menurut Fariedh, Perum Bulog Jabar siap mengekspor beras 10.000 ton karena tidak akan mengganggu ketersediaan stok pangan dalam negeri. "Beras yang akan diekspor jenis premium atau aromatik (wangi) seperti Pandanwangi dan Rojolele dengan toleransi tingkat kerusakan (broken) sekitar 0-5 persen," ujarnya. Namun, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Jabar Rudy Gunawan mengkhawatirkan, kendati jenis yang akan diekspor berbeda dengan yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat, rencana itu akan menjadi sebuah alat politik.


"Harga beras dalam negeri saja masih tinggi. Jangan sampai ini hanya gagah-gagahan," ujar Rudy. (Gregorius Magnus Finesso)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar