19 Juni 2009

Badjoeri: Satpol PP Juga Ada Yang Meninggal

Kamis, 18 Juni 2009 14:09
Berita Kota

DESAKAN sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dibubarkan, ditanggapi serius Kasatpol PP Provinsi DKI Haryanto Badjoeri. Institusi itu harus dipertahankan, tidak mungkin dibubarkan.

"Ada Satpol PP saja kondisi Jakarta masih carut marut. Apalagi tidak ada? Tugas dan fungsinya untuk menjaga ketertiban umum sebagaimana diamanatkan Peraturan Daerah (Perda) No 8/2007," kata Harianto ketika berdialog dengan jajarannya terkait penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) dan pekerja seks komersil (PSK) di Kantor Walikota Jakarta Pusat, Rabu (17/6).

Harianto menegaskan, tugas utama Satpol PP berbeda dengan kepolisian. Tidak mungkin dibubarkan lalu anggotanya dilebur ke beberapa instansi pemerintah dan yang masih muda diminta mendaftar ke kepolisian. "Kepolisian memiliki tugas sendiri yang berkait dengan tindak pidana. Sedangkan Satpol PP bertugas melakukan penertiban dan mengacu pada Perda No 8/2007 tentang Ketertiban Umum," ujarnya.

Diakui Harianto, tugas yang diemban jajarannya cukup berat khususnya saat menghadapi masyarakat bermental semau gue. Menertibkan kawasan kumuh dan sebagainya sudah menjadi tugas, suka tak suka harus diemban. "Kita digaji untuk mengingatkan masyarakat agar berlaku tertib. Jika membandel setelah diperingati, harus ditindak tak mungkin dibiarkan," tegasnya.

Dalam menjalankan tugas, kata Harianto, anggota Satpol PP banyak mengalami cidera fisik akibat dianiaya masyarakat. Bahkan ada juga yang meninggal dunia. Tapi itu dianggap sebagai risiko tugas. Entah mengapa belakangan ini malah muncul keinginan agar Satpol PP dibubarkan. "Posisi kita dilematis dan selalu dipojokkan. Padahal Satpol PP juga manusia. Hak Asasi Manusia (HAM) milik semua, tak terkecuali Satpol PP," katanya.

Dia menambahkan, pengertian HAM antara petugas dengan masyarakat pasti berbeda, tergantung dari sudut pandang dan kepentingan masing-masing. HAM memang harus dijunjung tinggi, tapi bukan berarti boleh berbuat semau gue.

Harianto juga meminta jajarannya bersikap bijak. Jangan membalas masyarakat berbuat anarkis dengan sikap yang sama. Itu bukan solusi, malah memperkeruh suasana. O amh
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar