Jum'at, 19 Juni 2009
Berita Kota
BEKASI, BK
Sebanyak 105 rumah gubuk milik pemulung di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Kelurahan Ciketing Udik, Bantargebang, Kota Bekasi, terbakar, Kamis (18/6) pagi. Peristiwa itu mengakibatkan ratusan pemulung kehilangan tempat tinggal.
Hingga Kamis sore para pemulung masih berada di sekitar lokasi kebakaran, karena mereka belum mendapatkan tempat pengungsian. Mereka berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi membantu mengurangi bebannya.
Sugeng Narimo (47), salah seorang pemulung, kepada Berita Kota mengaku bingung atas peristiwa itu. "Barang-barang dan sejumlah uang yang saya simpan di rumah terbakar. Pakaian pun tinggal yang saya pakai ini, karena ketika terjadi kebakaran saya dan istri sibuk bekerja di TPA," katanya.
Menurut Sugeng, ia dan istri melihat kepulan asap tebal saat bekerja, namun mereka tak mengira asap itu dari api yang menghanguskan rumahnya. Saat mulai curiga, ia bergegas pulang, namun tempat tinggalnya sudah membara. "Saat ini kami menunggu bantuan dari pemerintah. Bahkan, kami pun sangat berharap mendapat bantuan dari capres/cawapres Megawati-Prabowo yang pernah deklarasi di TPA Bantargebang," ujar Sugeng, polos.
Pun demikian Pariman (59). Menurut dia, kini para pemulung tidak memiliki apa-apa. Pakaian, barang rumah tangga, peralatan dapur, dan lain-lain habis terbakar.
Sementara itu, Cipto (48), pemulung yang sudah bertahun-tahun bergumul dengan sampah di TPA Bantargebang, mengaku menderita kerugian Rp20 jutaan. Sebab, tempat tinggalnya dan seluruh isinya terbakar. "Kami akan bermalam di emperan rumah warga sekitar, karena tidak ada tempat tinggal lagi. Kami hanya berharap ada bantuan," tandasnya.
Kebakaran itu terjadi pukul 07.00 tatkala para pemulung sudah mengais rezeki di areal TPA Bantargebang. Sebab itu, tidak ada yang melihat sumber api. O hem
19 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar