|
Tripoli, Libya (Berita): Pemerintah dan kalangan pengusaha Libya menyatakan tertarik dan berminat mengimpor berbagai produk industri dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhannya. Produk yang diminati Libya antara lain, kayu, tekstil dan produknya, peralatan elektronik dan listrik, pecah belah dan perabotan rumah tangga, komponen kendaraan bermotor (termasuk accu dan ban mobil), bahan kimia, makanan, rempah-rempah, teh, kopi, tas kulit dan sepatu, bahan obat-obatan, kain tenun, pakaian luar wanita dan pria, kertas dan karton dan kain tenun kapas. "Kunjungan kerja kali ini sangat strategis, mengingat Libya merupakan salah satu negara di dunia yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di tengah-tengah krisis global saat ini," kata Mendag Mari Elka Pangestu dalam press release Depdag, Jumat [03/04]. Libya juga mengharapkan agar pemerintah terus mengirim TKI terdidik. Upaya penempatan TKI tersebut telah dirintis melalui jalur swadaya masyarakat seperti PP Muhammadiyah yang telah menandatangani MOU untuk penempatan perawat (sekitar 200 orang) untuk bekerja di RS Pusat Tripoli. Namun belum berjalan lancar karena adanya hambatan bahasa. Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu berada di Libya untuk kunjungan kerja yang dimulai sejak Jumat (3/4/09) hingga 5 April 2009 untuk membahas potensii ekonomi yang dapat dikembangkan kedua negara. Delegasi Mari itu terdapat pejabat Depkeu, Depbudpar, Deplu, Depkumham, Deptrankernas, Departemen Pekerjaan Umum, BKPM, serta para pengusaha yang bergerak di bidang perdagangan, industri, perminyakan, perbankan dan jasa konstruksi. Delegasi Mendag akan bertemu secara bilateral dengan Menteri Industri, Ekonomi dan Perdagangan Libya Muhammad Ali Al-Huwayz, serta courtessy call kepada Menteri Sosial, Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri Libya. Selain itu, Mendag Mari pangestu juga akan mengadakan Bisnis Forum dan pertemuan dengan Pelaku usaha dan kamar Dagang dan Industri Libya guna membahas potensi ekonomi dan bisnis yang dapat dikembangkan kedua negara Bagi Indonesia, Libya merupakan pasar yang cukup menjanjikan, yaitu dengan GDP perkapita US $12.900 dan jumlah penduduk 71,9 juta jiwa, dimana sektor minyak merupakan penyumbang terbesar ekonomi Libya yang memberikan kontribusi hingga 95% dari seluruh pendapatan ekspor atau kurang lebih sebesar 25% dari GDP. Pendapatan yang besar dari sektor energi yang didukung oleh jumlah penduduk yang relatif kecil menjadikan Libya sebagai negara dengan GDP terbesar di Afrika dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini. Berdasarkan data statistik, nilai perdagangan bilateral tahun 2007 mencapai US$ 677,7 juta, meningkat 48,4% dibanding US$ 456,8 juta pada tahun 2006. Ekspor Indonesia ke Libya tercatat US$ 34,48 juta, naik 1,1% dari tahun 2006. Sedangkan impor Indonesia tercatat US$ 643,2 juta atau meningkat 52,2% dari US$ 422,6 juta tahun 2006, Namun pada tahun 2008 (data hingga bulan November 2008) terdapat penurunan total perdagangan hingga 34,4%, penurunan impor sebesar 38% tetapi terdapat peningkatan ekspor sebesar 29,8%. Neraca perdagangan masih menunjukkan defisit bagi Indonesia sebesar US$ 608,7 juta pada tahun 2007 dan sebesar US$ 298,7 juta pada periode Januari-November 2008. Libya diperkirakan memiliki cadangan minyak sebesar 29,5 milyar barrels dan merupakan negara ke-9 terbesar di dunia dalam hal cadangan minyak. Dengan dicabutnya embargo oleh PBB dan AS serta melambungnya harga minyak di pasar internasional telah mendorong Pemerintah Libya terus meningkatkan kapasitas produksi minyaknya. (olo) |
05 April 2009
Mendag: “Libya Berminat Impor Produk Indonesia”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar