28 Mei 2009

Razia PSK di Depok Sempat Bocor

Razia PSK di Depok Sempat Bocor

By Republika Newsroom
Minggu, 24 Mei 2009 pukul 09:27:00
Font Size A A A
Email EMAIL
Print PRINT
Facebook
Bookmark and Share
DEPOK -- Satuan Polisi Pamong Praja Kota Depok, Pemkot Depok, dan Polres Depok merazia pekerja seks komersial (PSK) dan penjualan minuman keras, Jumat (22/5). Dalam razia tersebut terjaring 11 PSK dan 8 pria hidung belang. Sayang, ketidaktegasan petugas membuat beberapa PSK yang terjaring berhasil dibebaskan oleh oknum.

Dalam operasi yang berlangsung mulai jam 23.00 WIB hingga Sabtu dini hari (23/5) sekitar jam 04.00 WIB itu, tim gabungan meluncur ke beberapa titik di Jalan Raya Bogor, yakni Café Mahoni, Hotel Villa Genggong, Hotel Uli Artha. Dilanjutkan ke Jalan Akses UI Kelapa Dua tepatnya di Hotel Mutiara.

Kemudian di Stasiun Depok Baru dan di sekitar perlintasan rel KA Pasar Dewi Sartika. Tim gabungan terdiri dari 83 personel Satpol PP Kota Depok, Dinas tenaga kerja dan Sosial Kota Depok, Polres Depok, dan Kodim 0508.

Menurut Kabid Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Kota Depok Teddy Hasanuddin yang memimpin operasi tersebut, kali ini ada penurunan hasil razia dibandingkan operasi sebelumnya beberapa bulan lalu. Tapi ia menilai adanya kekurangoptimalan kinerja aparat kecamatan setempat dalam operasi tersebut.

Sebelumnya ia telahmelayangkan surat pemberitahuan tentang razi a tersebut dan meminta partisipasi mereka. ''Setelah operasi ini, saya akan memanggil camat yang tak merespon razia ini," ujarnya.

Razia ini selain bertujuan mengurangi tingkat keresahan masyarakat akibat penyakit sosial masyarakat dan mengurangi peredaran minuman keras juga menegakakkan Perda Ketertiban Umum Nomor 14 tahun 2001 serta Perda No 6 tahun 2008 tentang peredaran minuman beralkohol.

Dari titik pertama di Café Mahoni, Jalan Raya Bogor disita tiga krat bir. Selain itu bangunan kafe dari kayu yang berada di pinggir jalan besar ternyata tak mempunyai izin mendirikan bangunan (IMB).Namun, razia tersebut nampaknya bocor karena lokasi tersebut dalam keadaan kosong.

Lain lagi di kedua lokasi hotel di Jalan Raya Bogor. Di Hotel Villa Genggong dan Hotel Uli Artha ditemukan empat pasangan tak resmi dalam keadaan setengah telanjang. Tapi, lagi-lagi operasi tersebut telah diketahui sebelumnya.

Dari salah satu kamar di Uli Artha ditemukan sebuah tas besar berwarna biru, jam tangan, dan sepasang sepatu milik anggota Polri. Saat didobrrak petugas, penghuni kamar telah raib. Saat dicek di kamar mandi Nampak plafon jebol dengan bekas jejak kaki di dinding kamar mandi.

Teddy pun tak memungkiri tentang bocornya informasi razia tersebut. Ia berjanji akan memperketat dan memperbaiki operasi selanjutnya.Namun, ketidaktegasan petugas terlihat saat pendataan. Saat itu muncul oknum wartawan mingguan berinisial AR dan NM yang mengaku kenal beberapa pria hidung belang dan PSK sebagai tetangganya yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga.

Oknum petugas Satpol PP pun percaya begitu saja dengan menyerahkan kembali KTP mereka yang ditahan sebagai jaminan. Mereka pun melenggang bebas. Kabid Sosial Disnakersos Kota DepokTinte Rosmiati menanggapi hal itu dengan kecewa.''Kalau seperti ini percuma ada penertiban lepas saja langsung tidak usah dibina," sesalnya.

Sebelumnya, ia mengungkapkan, para PSK yang tertangkap biasanya kambuhan dan akan kembali menekuni profesi tersebut setelah dibina di panti sosial di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Biasanya mereka kesulitan untuk mencari kerja di tempat lain karena masyarakat tak bisa menerima mereka di lingkungannya.

 Remaja WNA 

Sementra itu, saat tim merazia Hotel Mutiara di Jalan Akses UI, mereka mendapati dua pasang remaja berada di sebuah kamar di lantai dua nomor 28. Dua remajalelaki bernama Ghaarieth Diedericks (20) dan Hamzah (20) yang mengaku berasal dari Capetown, Afrika Selatan.

Bersama mereka ada dua remaja putri bernama Sofie Zalita (17).Ia mengaku menempuh studi di sebuah universitas di Malaysia. Sedangkan Fatima Amatulla Toffa (17) mengaku seorang mahasiswi di Universitas Sumatera Utara.

''Kami dulu satu sekolah di Yayasan Pedidikan Islam Al Zaytun, Indramayu, dan saat ini kami bertemu melepas kangen," terang Ghaarieth. Saat dibawa untuk diinterogasi di kantor Satpol PP, keempatnya terlihat santai. Lantaran mereka membawa surat identitas lengkap serta paspor. Setelah diinterogasi sekitar 30 menit, mereka pun dibawa kembali ke hotel.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Depok AKP Rohana yang memeriksa mereka mengatakan, keempatnya akan kembali ke daerah masing-masing tanggal 30 Juni mendatang. Dari pengakuan mereka, niatnya hanya berlibur bersama dan mereka kemalaman di jalan sehingga menginap di hotel tersebut. - c84/ahi

http://www.republika.co.id/berita/52055/Razia_PSK_di_Depok_Sempat_Bocor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar