Senin, 06 April 2009
Pontianak Post
Penemuan tiga bayi dengan gizi buruk di Kabupaten Sintang sepekan ini seakan tergerus oleh hingar bingar kampanye. Jika masalah ini tidak ditangani serius, akan menjadi ancaman untuk generasi muda mendatang.GIZI buruk masih menghantui daerah ini. Sumber daya alam yang melimpah seakan tak cukup untuk memenuhi kehidupan. Kekurangan gizi membuat tiga anak di Kabupaten Sintang kondisinya sangat memprihatinkan. Jefri Yadi, bocah berusia dua tahun dua bulan, kondisinya sudah memasuki stadium lima. Kulitnya mulai keriput dan tampak selaput putih pada kornea mata akibat kekurangan Vitamin A. Ini bisa memicu kekurangan air mata dan berisiko terhadap kebutaan. Sabtu (4/4) lalu Jefri Yadi asal Dusun Sebara, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang ini, bersama ayahnya, Inin, dirujuk ke Pusat Penatalaksanaan Gizi Buruk (PPGB), Dinas Kesehatan Sintang. Penemuan ini menambah daftar panjang pasien gizi buruk menjadi 13 orang pada tahun 2008. Sebelum ditemukannya Jefri, pada tanggal 27 Maret dan 2 April 2009, juga ditemukan anak dengan penyakit yang sama yakni Aji Karel dan Iga, masing masing warga Kayan Hulu dan Ketungau Tengah. Dengan jumlah tersebut, dalam sepekan terakhir, tiga orang menderita gizi buruk akut harus mendapatkan perawatan intensif. Ketika ditemuai, Jeffry yang memiliki berat badan 5,6 Kg kondisinya sangat mengenaskan. Kulitnya tampak keriput dengan tangan dan kaki yang tinggal tulang berbalut kulit. Dimatanya, tampak selaput putih yang membuat siapapun melihatnya menjadi iba. Bahkan, ketika disambangi Jeffy langsung menangis. Inin ayah Jeffy mengatakan, ketika lahir kondisi anaknya normal seperti anak lainnya. Namun, menginjak tahun ke dua, kondisi kesehatan mulai bermasalah dengan mengalami sakit perut dan mencret. Berhubung tempat tinggalnya jauh dari Puskesmas, ia memutuskan berobat dengan obat-obatan kampung untuk menyembuhnya. "Sebelumnya kita pakai obat kampung dulu, karena untuk membawa ke kecamatan sangat jauh. Bahkan, untuk pergi ke Puskesmas Merakai dengan jarak kurang lebih 16 kilometer, ditempuh berjalan kaki selama empat jam," kata Inin sambil memberi susu pada anaknya yang sedang digendong. Walaupun demikian, dirinya tidak putus asa untuk tetap membawa anaknya berobat ke Puskesmas. Namun pengobatan yang dilakukan tak kunjung membawa perubahan kearah yang lebih baik. "Saya ke sini (PPGB, red), cuma dengan anak saya saja. Ibunya baru habis melahirkan anak ketujuh. Jadi belum bisa pergi jauh untuk menemani saya," jelas Inin. Sebelum Jefri Yadi, kasus gizi buruk ditemukan pada Alji Karel berusia 22 bulan berasal dari Dusun Tanah Merah, Kecamatan Kayan Hulu. Bocah munggil tersebut mengalami gizi buruk stadium empat. Kini dirawap inap di Pusat Penatalaksanaan Gizi Buruk (PPGB) Sintang. Anak pasangan Jiana (21) dan Habel (26) ini seakan tak berdaya terhadap masalah yang dihadapi. "Sudah berulang kali saya membawa anak kami ke rumah sakit, awalnya ke Puskemas di Nanga Tebidah Kayan Hulu," cerita Jiana. Ia juga mengemukan apabila terserang pilek penyakit asmanya pun mulai kambuh. "Sebelumnya kami tidak mengetahui kalau Alji menderita gizi buruk. Setelah mendapatkan pemeriksaan dokter baru diketahui," tuturnya. Berat Badan Alji, dikatakan Jiana, sempat mencapai 7 kg 2 ons. "Sekarang berat badannya turun menjadi 6 kg 9 ons, dikarenakan susah makan nasi paling-paling hanya 4 kali suap," kata Jiana. Kekurangan gizi juga dialami Iga, bocah berusia 4 tahun 2 bulan asal Dusun Lubuk Nibung, Desa Surya Jaya, Ketungau Tengah. Menurut Juanti, ibu kandungnya, penyakit yang menimpa Iga tersebut telah terjadi sejak lahir. Bahkan, dia beserta suami mengupayakan berbagai cara untuk mengobati penyakit itu. Namun belum satupun membuahkan hasil. "Banyak cara telah kita lakukan untuk menyembuhkan anak kami. Seperti pengobatan kampung maupun cara medis ke Puskesmas. Tapi belum sembuh-sembuh juga," ungkapnya. Kerena cukup jauh menjangkau Puskesmas Merakai, bersama dengan suaminya terpaksa jalan kaki untuk pergi berobat. Berbekal surat rekomendasi dari Puskesmas itu, diputuskan membawa anaknya ke Sintang. "Kita ini petani. Dengan berbekal rekomendasi itulah kami memberanikan diri membawa anak pergi ke Sintang. Terlebih lagi, setelah berkali-kali di bawa ke Puskesmas, belum ada tanda-tanda akan sembuh," ungkapya sedih. Koordinator PPGB Sintang, Adi Sulityanto S Si TM Kes dikonfirmasi diruang kerja mengatakan, pasien tersebut baru di bawa ke PPGB tanggal 1 April lalu dengan berat 3,5 kilogram. Sejak lahir Iga memang telah menderita gizi buruk. "Setelah kita dioagnosa, Iga memiliki penyakit hati serta komplikasi penyakit lainnya yang sudah mencapai stadium empat. Untuk penyembuhan pasien gizi buruk biasanya memerlukan waktu paling lama tiga bulan. Itupun bila pasien memiliki penyakit penyerta seperti kanker yang membahayakan," pungkasnya. Bagaimana dengan Jefri Yadi, dijelaskan Adi Sulityanto, Jeffy menderita gizi buruk parah mendekati satadium lima. Bila melihat berat dan tinggi badan yang mencapai 77 centimeter, sebelumnya anak tersebut memiliki gizi yang bagus. "Beratnya 5,6 kilogram dari 10,3 kilogram berat yang seharusnya. Kondisinya sekarang, menderita gizi buruk berat yang disebut Marasmus. Tanda-tanda yang tampak berupa keriput pada kulit yang menyerupai orangtua. Jeffy juga kekurangan Vitamin A, yang bisa memperkering air mata. Tandanya muncul selaput putih pada kornea mata," jelasnya. Untuk penyembuhannya, lanjut Adi, akan dilakukan terapi dengan standar WHO. "Kunci penyembuhannya adalah patuh pada peraturan dalam pelaksanaan terapi. Maka kita menghimbau pada masyarakat agar tidak segan membawa anak yang menderita gizi buruk ke Puskesmas maupun ke PPGB. Sehingga, penyakit tersebut tidak makin parah," pungkasnya.(far/zal) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar