11 September 2009

Mandiri Garap Pengiriman Duit TKI Malaysia

Jumat, 11 September 2009

Laporan wartawan PERSDA Hasanuddin Aco

JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Mandiri tahun 2009 melakukan terobosan dalam bisnis remittance (pengiriman uang). Setelah pada bulan Agustus yang lalu menandatangani kerja sama dengan 2 bank asal China, ICBC dan Bank of China, untuk transfer mata uang yuan, mulai bulan September ini Bank Mandiri siap melayani pengiriman uang dari Malaysia, khususnya membidik pasar tenaga kerja Indonesia (TKI) di negeri jiran tersebut.


Direktur Treasury dan International Banking Bank Mandiri Thomas Arifin mengatakan, pada 3 September 2009 yang lalu Bank Negara Malaysia telah menyetujui Bank Mandiri membuka layanan remittance di Malaysia.


"Layanan remittance di Malaysia ini akan dilakukan oleh Mandiri International Remittance (MIR), anak perusahaan Bank Mandiri yang secara khusus didirikan untuk mengembangkan bisnis remittance Bank Mandiri," kata Thomas Arifin dalam rilisnya ke Persda, Jumat (11/9).


Dengan sistem teknologi berbasis web, MIR akan melakukan operasional layanan pengiriman uang untuk merambah 30 kota kantong TKI yang tersebar di Malaysia.


Izin tersebut sejalan dengan strategi Bank Mandiri untuk meningkatkan pendapatan fee based dari layanan remittance dari Malaysia ke Indonesia, Singapura atau negara lain di mana Bank Mandiri memiliki cabang. Dengan beroperasinya MIR, Bank Mandiri akan menjadi bank komersial Indonesia pertama yang membuka layanan pengiriman uang di Malaysia.


Pemilihan Malaysia sebagai lokasi pengembangan bisnis remittance Bank Mandiri cukup beralasan mengingat jumlah TKI yang berada di Malaysia saat ini, berdasarkan data Bank Dunia, mencapai lebih dari 2 juta jiwa dan jumlah TKI yang diberangkatkan ke Malaysia meningkat rata-rata 15 persen setiap tahunnya.


"Kami berharap Bank Mandiri dapat menjadi mitra kerja yang baik bagi pemerintah RI, serta mendukung program pemerintah khususnya dalam memberikan kemudahan kepada TKI melalui layanan perbankan, yaitu pengiriman uang dari negara asal TKI berada," ujar Thomas Arifin.


Thomas Arifin juga menjelaskan bahwa bisnis remittance khususnya dari TKI masih berpotensi dan cenderung dapat bertahan di masa krisis. Hal ini dapat terlihat dari data BI yang menunjukkan peningkatan total pengiriman uang dari 6 miliar dollar AS pada tahun 2007 menjadi 8,24 miliar dollar AS pada tahun 2008, atau meningkat 37,33 persen.


PERSDA Hasanuddin Aco

Tidak ada komentar:

Posting Komentar