24 Oktober 2009

Kredit Rumah TKI Mulai Dilirik, BNI-Perumnas Bidik 150.000 TKI Hongkong

 23 Oktober 2009

SURABAYA - SURYA - Tenaga kerja Indonesia (TKI) masih menjadi lirikan kalangan perbankan untuk pengembangan bisnisnya. Bukan hanya menyangkut remittance (layanan kiriman uang), tetapi kini berupa pemberian kredit perumahan khusus untuk TKI.


Salah satunya dilakukan PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI). Pertimbangannya, menurut Regional Sales Consumer Loan BNI Kanwil 06 Iwan Abdi, TKI merupakan penyumbang devisa terbesar, selain masih belum banyak TKI yang sukses berinvestasi di negara asal mereka. "Rata-rata sekembali ke Indonesia, mereka hanya bisa beli tanah dan motor," kata Iwan, Kamis (22/10).


Padahal, lanjut Iwan, investasi rumah secara jangka panjang lebih menguntungkan. Kebutuhan akan perumahan terus naik, demikian pula harganya. Seandainya mereka beli tidak untuk ditempati maka kelak bisa dijual kembali dengan harga menarik.


Menurut Iwan, tahap awal BNI bakal mengucurkan kredit rumah bagi para TKI, yang rencananya untuk 2.000 unit rumah di lima kota. Pembangunan perumahan untuk TKI ini akan dilakukan oleh PT BNI yang menggandeng Perumnas.


"Saat ini prosesnya dalam tahap pembebasan lahan di beberapa titik kantong-kantong TKI. Empat kota, Kediri, Malang, Madiun, dan Blitar, sudah siap. Berikutnya, Ponorogo," kata Iwan.


Segmen TKI yang dibidik yakni TKI Hongkong, karena sistem penyerapan TKI lebih tertib dan tertata. "Kalau di Malaysia dan Timur Tengah masih banyak yang ilegal, sehingga kalau kita tawarkan dikhawatirkan tidak ada jaminan," ujarnya.


Selain TKI Hongkong, akan menyusul TKI di Taiwan dan Korea. "Kita tahu remitansi TKI dari Hongkong cukup tinggi, permintaan tenaga kerja juga masih tinggi. Artinya, segmen ini punya potensi yang cukup besar," imbuh Iwan.


Promosi ke beberapa PJTKI akan dilakukan mulai November mendatang. Sedikitnya, dalam tiga bulan ke depan perumahan baru bisa dihuni. Harga yang ditawarkan untuk kredit BNI Griya kategori Pekerja Migran Indonesia ini bervariasi mulai Rp 55 juta-an. Harganya relatif terjangkau, mengingat program ini menjadi bagian dari program satu juta unit rumah sederhana.


"Bunga KPR juga standar 11,5 persen efektif per tahun dengan jangka waktu pembayaran disesuaikan dengan sisa masa kontrak TKI. Misalnya, masa kontrak di Hongkong tinggal empat tahun, maka jangka waktu pembayaran cicilan KPR ya selama empat tahun itu," jelasnya.


Pemberian KPR untuk TKI ini sebetulnya bukan kali pertama bagi BNI. Iwan mengungkapkan, dukungan pada TKI sebenarnya sudah dilakukan awal 90-an. Bentuknya juga kredit BNI Griya, tapi waktu itu terkendala tidak adanya kesiapan lahan di daerah kantong-kantong TKI.
"Akhirnya, pada 2005-2006 kita support pembiayaan pemberangkatan TKI melalui sejumlah Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI)," ucap Iwan.


Kerja sama BNI dengan Perumnas ini juga difasilitasi PT Panca Setia Bhakti, sebagai salah satu sister company dari PJTKI. PT Panca Setia Bhakti ini akan menjadi penyeleksi pekerja yang berhak mendapat KPR dari BNI. Kerja sama ini ditargetkan membidik sekitar 150.000 orang TKI Hong Kong dengan penghasilan Rp 4,5 juta-Rp 6 juta per bulan. ame


Pertumbuhan KPR Lambat

Pertumbuhan KPR BNI Griya di Jatim sampai akhir semester II/2009 diprediksi tidak lebih dari 10 persen. Sampai triwulan III/2009, pertumbuhannya tak lebih dari 8 persen. "Tumbuhnya agak sulit karena Januari-Mei pertumbuhannya sangat lambat, baru terbantu di semester II/2009," katanya.


Sampai dengan triwulan III/2009 kredit bermasalah (NPL) BNI Griya tercatat di bawah 1,5 persen. Target pertumbuhan KPR BNI Griya secara nasional Rp 9 triliun, hingga triwulan III/2009 sudah terealisasi Rp 7,8 triliun. BNI saat ini menawarkan bunga KPR 11 persen untuk rumah nonsubsidi. Namun, jika melalui developer yang bekerja sama dengan BNI, bunga bisa sampai 8 persen.


Portofolio KPR BNI Griya secara nasional tercatat 75.000 nasabah. Untuk KPR sederhana dengan harga rumah tak lebih dari Rp 50 juta, jumlahnya sekitar 18.500 nasabah. Sedang nasabah bersubsidi bekerja sama dengan Kementerian Negara Perumahan Rakyat per Agustus terealisasi 3.400 unit rumah.


Head of Sales and Distribution Jatim dan Indonesia Timur PT CIMB Niaga Tbk M Pujiono Santoso menambahkan, pihaknya juga tengah menggenjot pertumbuhan KPR hingga 10 persen di 2009.


"Pertumbuhan KPR ini agak lesu dibandingkan periode sama tahun lalu. Kalau permintaan akhir tahun lalu kan pembeliannya sebelum krisis, jadi pertumbuhannya masih bagus," katanya.


Pertumbuhan KPR yang bergerak dinamis terutama untuk rumah tipe menengah ke bawah dengan kisaran Rp 150-500 juta per unit. Sementara, rumah seharga di atas Rp 500 juta permintaannya relatif menurun. "Tak banyak orang yang benar-benar berinvestasi di perumahan. Rata-rata mereka beli ya langsung untuk ditempati, bukan dijual kembali," sambungnya.


Penyaluran KPR Ekstra Dinamis di CIMB Niaga Jatim-Indonesia Timur rata-rata Rp 40 miliar per bulan dengan pinjaman Rp 200 juta-an per debitur. Nasabah KPR CIMB Niaga di wilayah ini kisaran 100.000 orang. "Kita optimistis penyaluran KPR akan tumbuh sampai 10 persen di akhir tahun. NPL KPR juga sudah menurun beberapa bulan terakhir," ujarnya. ame


Tidak ada komentar:

Posting Komentar