29/01/2009 12:45 - Info Kriminal
Liputan6.com, Tangerang: Rizki Obama menjadi korban perdagangan anak, baru-baru ini. Bocah berusia tujuh bulan ini dijual seorang wanita bernama Dora seharga Rp 5 juta ke sindikat perdagangan anak. Rencananya, sindikat itu menjual Rizki kembali ke sepasang suami-istri di Medan, Sumatra Utara, seharga Rp 13 juta.
Beruntung sebelum transaksi berlangsung, Kepolisian Sektor Jatiuwung, Tangerang, Banten, membongkar kasus ini. Bocah mungil itu pun selamat dan seluruh anggota sindikat yang merupakan ibu rumah tangga ditangkap. Meski awalnya berkelit, para pelaku tak berkutik setelah polisi menemukan kuitansi transaksi penjualan bayi [baca: Kondisi Rizki Sehat].
Kasus serupa terjadi di Jember, Jawa Timur. Seorang bayi yang baru dilahirkan justru dijual Rumah Sakit Dr. Soebandi setelah orangtuanya tak mampu membayar biaya melahirkan cesar sebesar Rp 11 juta. Pengadopsi membenarkan telah mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan sang bayi.
Belakangan, pihak rumah sakit membantah telah melakukan praktik adopsi ilegal. Beruntung, bayi mungil itu kembali ke tangan orangtuanya setelah warga dan DPRD setempat mendesak rumah sakit [baca: Tak Mampu Bayar, Bayi Berpindah Tangan].
Sementara itu, kejadian di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, juga memilukan. Ibu rumah tangga menitipkan bayinya kepada seorang wanita. Walimah akhirnya melapor ke polisi karena si orangtua tidak kunjung menjemput bayinya [baca: Takut Telantar, Seorang Ibu Serahkan Bayinya].
Faktor ekonomi kerap menjadi alasan klise di balik penjualan anak. Ada juga orangtua yang sengaja membuang anaknya dengan alasan menutupi aib. Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi Alasan. Anak adalah titipan Ilahi dan tidak selayaknya mereka sia-siakan.(IKA/Winny Arnold dan Kurnia Supriyatna)
Link: http://www.liputan6.com/news/?id=172097&c_id=11
Liputan6.com, Tangerang: Rizki Obama menjadi korban perdagangan anak, baru-baru ini. Bocah berusia tujuh bulan ini dijual seorang wanita bernama Dora seharga Rp 5 juta ke sindikat perdagangan anak. Rencananya, sindikat itu menjual Rizki kembali ke sepasang suami-istri di Medan, Sumatra Utara, seharga Rp 13 juta.
Beruntung sebelum transaksi berlangsung, Kepolisian Sektor Jatiuwung, Tangerang, Banten, membongkar kasus ini. Bocah mungil itu pun selamat dan seluruh anggota sindikat yang merupakan ibu rumah tangga ditangkap. Meski awalnya berkelit, para pelaku tak berkutik setelah polisi menemukan kuitansi transaksi penjualan bayi [baca: Kondisi Rizki Sehat].
Kasus serupa terjadi di Jember, Jawa Timur. Seorang bayi yang baru dilahirkan justru dijual Rumah Sakit Dr. Soebandi setelah orangtuanya tak mampu membayar biaya melahirkan cesar sebesar Rp 11 juta. Pengadopsi membenarkan telah mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan sang bayi.
Belakangan, pihak rumah sakit membantah telah melakukan praktik adopsi ilegal. Beruntung, bayi mungil itu kembali ke tangan orangtuanya setelah warga dan DPRD setempat mendesak rumah sakit [baca: Tak Mampu Bayar, Bayi Berpindah Tangan].
Sementara itu, kejadian di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, juga memilukan. Ibu rumah tangga menitipkan bayinya kepada seorang wanita. Walimah akhirnya melapor ke polisi karena si orangtua tidak kunjung menjemput bayinya [baca: Takut Telantar, Seorang Ibu Serahkan Bayinya].
Faktor ekonomi kerap menjadi alasan klise di balik penjualan anak. Ada juga orangtua yang sengaja membuang anaknya dengan alasan menutupi aib. Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi Alasan. Anak adalah titipan Ilahi dan tidak selayaknya mereka sia-siakan.(IKA/Winny Arnold dan Kurnia Supriyatna)
Link: http://www.liputan6.com/news/?id=172097&c_id=11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar