17 Maret 2009

Pedagang Baju Bekas Ditinggal Rezeki

Pedagang Baju Bekas Ditinggal Rezeki



JAKARTA - Krisis keuangan global ternyata juga berimbas pada pedagang baju bekas di Ibu Kota. Kalau dulu setiap hari mereka bisa dibanjiri pembeli, kini pembeli sepi dan hanya muncul setiap akhir pekan saja.

Panasnya sengatan matahari tidak kuasa ditahan Kosiah (50). Padahal, kain telah diselipkan di antara wajahnya. Topi lusuh pun sudah dikenakan. Payung besar berwarna hitam akhirnya menjadi pilihan tepat untuk melindungi dirinya siang itu, saat menjajakan baju-baju bekas di pinggir Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Jakarta Timur.


Satu demi satu para calon pembeli datang menghampiri Kosiah. Ada yang sebentar memegang lantas pergi berlalu. Ada juga yang sudah memilih baju bekas, tapi ngotot minta penurunan harga. Tentulah tidak ada pedagang yang mau rugi. Ibu dari enam anak ini tidak mau ambil pusing walau perbedaan penawaran harga hanya Rp 1.000.


Tidak berapa lama, seorang ibu disertai anak perempuannya datang membawakan sekantong plastik berisi baju bekas miliknya. Tanpa banyak bicara, Kosiah mengeluarkannya dan memeriksa satu demi satu. Ia tidak menghitung jumlah helai baju tersebut, tetapi justru langsung menanyakan harga jual kepada ibu berkerudung itu. Penawaran harga Rp 20.000 berhasil ditekan Kosiah menjadi Rp 14.000.


Ternyata, baju-baju bekas yang berada dalam tiga kantung plastik hitam besar di hadapan perempuan asal Solo, Jawa Tengah, ini berasal dari penjualan warga. Dengan gesit, ia pun melipat dan meletakkannya untuk bercampur dengan baju bekas jualannya. "Sekarang lebih banyak yang jual daripada beli baju bekas ke saya," ujarnya miris.


Kosiah mengaku, dari uang modal yang tiap hari dibawa sebesar Rp 300.000-500.000 bisa tidak terasa keuntungannya. Bagaimana tidak, saat uang masuk, saat itu pula uang dikeluarkan untuk membeli stok baju bekas lain. Paling tidak, dia bersyukur dapat mengelola putaran uang tersebut untuk makan dan biaya sekolah anak.


Itu pula yang terucapkan dari mulut Anggun (45). Perempuan berdarah Batak ini juga menyatakan, dari modal Rp 500.000, setiap hari bisa membawa pendapatan bersih sebesar Rp 150.000. Baju bekas yang dijualnya juga tidak asal pilih. Ia berhati-hati memeriksa baju bekas dalam jumlah banyak yang ditawarkan ibu muda.


Ditolak dan dikembalikan. Itu yang akan menjadi sikap Anggun kala bisa menerawangi baju bekas yang dianggap akan sukses dijual kembali. Baginya, pembeli akan lebih cepat membeli kalau melihat baju bekas tersebut masih dalam kondisi layak pakai.


Biasanya, para pelanggan ibu dua anak ini menyukai kemeja. Harga yang ditawarkan antara Rp 10.000-20.000. Itu pun masih bisa ditawar.
Kalau beruntung, bisa mendapatkan barang bekas bermerek. Harga yang ditawarkan pasti mahal. Misal, celana jins. Harga standarnya berkisar Rp 15.000-20.000. Namun, untuk jins merek Levis dijual Rp 50.000. Bagi pembeli yang sadar merek pasti tidak akan menyiakan kesempatan memperolehnya.

Ancaman Petugas Tramtib
Berdagang baju bekas sejak Pukul 08.00-16.00 WIB tidaklah mudah bagi kedua pedagang baju bekas ini. Keberadaan mobil berpenumpangkan petugas Tramtib Pemerintah Kota Jakarta Timur telah menjadi pemandangan mengerikan yang terus mengancam.


Menurut Kosiah, mereka selalu datang dua kali seminggu pada Sabtu dan Minggu. Karena itu, sang suami, Warto (75), sudah duduk menunggu untuk bersiap membantu mengangkat barang dagangannya ini.


Kantong-kantong plastik tersebut akan digotong ke tanah kosong persis di atas tempat mereka berjualan sebelum diambil paksa petugas.


Kabur merupakan tindakan kilat dan tepat Anggun. Trauma akan penggusuran yang dilakukan petugas Kamtib pada 2008 sangat menyakitkannya. Gerobak seharga Rp 600.000 yang berisikan baju bekas dirampas begitu saja. Bahkan, baju-baju yang terjatuh pun sampai dipungut.


Penertiban pedagang kaki lima (PKL) dirasakan ketat oleh keduanya sejak tahun 2007. Harapan untuk mendapatkan penghidupan layak masih sulit dijangkau. Meski menganggap tidak mengganggu ketertiban jalan raya lantaran berjualan di trotoar, tapi tidak ada penolakan untuk penertiban tersebut. Asalkan ada solusi seperti pemberian lahan khusus untuk kios pedagang baju bekas, Kosiah maupun Anggun tidak terbengkalai begitu saja.


Sebenarnya sudah ada lahan tersebut di sekitar area Stasiun Kereta Api (SKA) Jatinegara. Namun, karena tidak ada tempat lagi dan kurang strategis untuk pembeli, mereka pun tetap bertahan berdagang di sana.


Daya pembeli masyarakat Jakarta juga tidak seperti pada masa 20 tahun lalu. Itulah yang dikatakan Anggun. Dulu, tidak ada hari sepi pembeli. Kini, keramaian hanya terjadi pada akhir pekan. (mg1)


http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/17/jab03.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar