15 Maret 2009

Kemiskinan



 
Senin, 23 Februari 2009 , 07:10:00

KEMISKINAN adalah masalah klasik kadang juga diperlakukan sebagai komoditas yang b isa "dijual". Yang menarik, saat ini banyak orang yang tidak malu mengaku miskin atau berperilaku sebagai orang miskin, meski sebenarnya tidak. Yang benar-benar miskin sepertinya malah ada yang "menikmati" kemiskinannya.


Coba lihat dalam pembagian BLT yang lalu di televisi. Ada yang mengambil BLT dengan mengendarai motor, bahkan mobil. Berpakaian bagus dan menggunakan handphone. Dilihat sepintas, mereka sebenarnya tidak pantas mendapat BLT, ada yang lebih berhak. Tapi mereka melakukannya dengan sangat tenang, mungkin karena memang merasa "miskin". Ini juga mirip perilaku orang-orang korup dan suka makan sogokan, bukan hanya pejabat, tapi juga orang-orang yang punya kesempatan melakukannya. Ada juga "pengemis" tingkat tinggi yang menawarkan fasilitas dan akses dari jabatan yang mereka miliki kadang diiringi dengan intiimidasi halus. Mereka benar-benar miskin sehingga dengan segala cara "terpaksa" melakukannya. Mungkin karena mereka berpikir itu adalah hal yang "sangat wajar".

Sedangkan yang benar-benar miskin kadang tidak berbuat maksimal, atau malah tidak berbuat apa-apa, untuk keluar dari kemiskinannya. Mereka kebanyakan selalu mengharapkan uluran tangan pemerintah dan orang lain. "Budaya" miskin amat lekat dengan kelompok ini, seperti malas dan selalu mengeluh. Namun harus diakui bahwa ada kelompok yang memang berjuang keras untuk keluar dari kemiskinannya dengan berusaha menggapai pendidikan yang lebih baik dan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang dimiliki.

Yang tak kalah menarik adalah program pengentasan kemiskinan pemerintah. Beberapa waktu lalu, di koran ini, seorang pejabat tinggi pemerintah provinsi menyatakan keprihatinannya bahwa sudah puluhan trilyun dana dikucurkan, tetapi tingkat keberhasilannya relatif sangat minim. Mengapa? Mungkin ada kesalahan dalam penentuan sasaran, pola pelaksanaan yang kurang sesuai, dan yang paling parah adalah kurangnya komitmen para pelaksana. Beberapa tahun lalu, ada sebuah pertemuan untuk membahas kemiskinan di sebuah wilayah. Dalam daftar undangan, yang akan hadir adalah para pejabat eselon dua. Namun khabarnya, hampir semua diwakili oleh pejabat eselon tiga, bahkan ada yang eselon empat. Ini membuktikan kurangnya komitmen di level pembuat kebijakan yang berujung pada rendahnya tingkat keberhasilan dari program yang dilaksanakan. Mungkin mereka sudah lelah membahas kemiskinan atau isu ini memang tidak menarik. Yang banyak terjadi adalah orang miskin tidak banyak berkurang, tetapi yang semakin kaya adalah orang-orang yang terlibat dalam program/proyek pengentasan kemiskinan.

Gubernur Kalbar saat ini adalah mantan pimpinan sebuah wilayah yang tingkat kemiskinannya relatif tinggi. Sejarah kehidupannya juga menunjukkan perjuangan yang tidak mudah. Tentu sangat wajar bila muncul harapan masyarakat bahwa mengurangi tingkat kemiskinan secara signifikan di provinsi ini menjadi salah satu prioritas beliau yang paling tinggi.  Mudah-mudahan dalam satu atau dua tahun ke depan ada terobosan untuk mengurangi tingkat kemiskinan secara lebih serius. Mudah-mudahan kemiskinan tidak sekedar dipandang sebagai sebuah proyek sesaat. Mudah-mudahan Provinsi Kalimantan Barat bisa bebas dari kemiskinan, termasuk kemiskinan pola pikir, kemiskinan hati, dan kemiskinan jiwa.**


Tidak ada komentar:

Posting Komentar