17 Maret 2009

Mengukur Kekuatan Kaki di Trotoar Kitakyushu, Fukuoka, Jepang

Senin, 26 Januari 2009



FUKUOKA | SURYA Online - Widyawati SE, pegiat lingkungan hidup di Surabaya mendapat kesempatan mengunjungi Kitakyushu,Fukuoka, Jepang. Kota ini ada di Pulau Kyushu, sekitar 1.000 km dari Tokyo. Kitakyushu sukses merevitalisasi sungai tercemar di tahun 1970-an menjadi kawasan wisata sohor di dunia. Dia datang ketika musim semi tiba.


MENYUSURI jalan di Kitakyushu, mata menjadi cerah karena tak ada sampah. Ini yang pertama terlihat ketika menjejakkan kaki di Kitakyushu. Maklum, selama ini mata terbiasa melihat tumpukan sampah dengan bau aduhai di Surabaya.


Dalam bayangan saya, tentu pemerintah kota ini harus memiliki banyak tenaga kebersihan supaya kota tetap terjaga kerapian dan kebersihannya. Ternyata saya keliru.  Ketika keluar dari hotel dan berjalan-jalan sekitar pukul 06.00 waktu setempat, saya bertemu para lansia bergegas menuju taman. Mereka saling memberi kabar.

Ketika salah satu di antara mereka memberi isyarat, para oma dan opa ini berbaris rapi. Tak lama kemudian mereka membagi tugas. Setelah melapisi pakaian dengan baju kerja, masker, topi, dan sarung tangan mereka mulai mengambil sapu, lap, dan pengki. Tak banyak bicara para simbah ini mulai menyapu, memunguti daun dan sampah, serta mengelap semua fasilitas umum.


Pukul 11.00 mereka kembali ke taman, melepas seragam kemudian bergerak cepat walau tetap tertatih-tatih dan pulang. Ketika berbicara dalam bahasa Tarzan dengan ketua kelompok itu, saya makin heran karena kakek dan nenek ini tidak dibayar untuk mengurus kebersihan. Bagi mereka dengan tenaga tua, itulah yang bisa diberikan pada kota ini. Waduh, saya tak bisa membayangkan alangkah hebatnya bila itu terjadi di Surabaya.

April adalah saat terindah datang ke Kitakyushu karena sudah memasuki musim semi. Temperatur bervariasi antara 8 derajat Celcius pada malam hari dan rata-rata 18 derajat Celcius di siang hari. Rihga Royal Hotel tempat rombongan menginap mudah menjangkau isi kota ini.


Yang membuat sedikit repot adalah kebiasaan orang Jepang yang selalu berjalan kaki dengan tergesa. Bagi orang Indonesia yang mulai manja karena kemana-mana harus ada kendaraan, tentu membuat pegal. Di hari pertama, kaki memang terasa hampir patah karena harus memakai sepatu bertumit cukup tinggi sambil mengejar teman-teman dari Jepang yang walau bertubuh mungil bisa melesat secepat kijang. Untunglah, di banyak tempat ada rest area nyaman untuk meluruskan kaki yang mulai nyut-nyutan.


Tertibnya PKL
Hari-hari berikutnya, belajar dari pengalaman, saya mengenakan sepatu nyaman dan mulai memanjangkan leher menikmati suasana. Trotoar yang dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) menjadi pemandangan menarik. Walau mereka jor-joran mendesain gerobak dorongnya, para PKL ini mematuhi aturan main. Mereka tidak akan melewati batas garis pejalan kaki. Juga, tak ada yang mencoba nakal menambah lebar gerobak. Perhatian pada pejalan kaki sangat besar. Trotoar yang rata, lebar, dan memiliki jalur khusus untuk penyandang tunanetra membuat siapa saja aman berjalan-jalan.


Salah satu tujuan perjalanan yang benar-benar mengandalkan kedua kaki adalah pasar tradisional. Di salah satu kios saya dipanggil penjaga kios. Dengan bahasa alam dan kamus sebagai jimat, penjaga kios itu meminta saya membeli rebung segar. "Rebung hanya ada setahun sekali di awal musim semi. Cobalah," katanya menyodorkan rebung yang harganya lebih mahal daripada sekilogram daging.


Mampu menyantap rebung setahun sekali menjadi prestise bagi masyarakat Kitokyushu karena sangat mahal. Pada awal musim semi biasanya ada acara menggali rebung muda. Wah… coba mereka mau menengok Jawa Timur, pasti heran melihat lodeh rebung di warung pinggir jalan, hampir sepanjang tahun.


Murasaki River
Urusan berjalan kaki rupanya menjadi bagian dari keseharian. Ditambah dengan menu sarat sayuran, ikan, dan hanya mencicipi sedikit daging, membuat masyarakat Jepang jarang kena obesitas. Ini juga yang menjadi menu sehari-hari, sayur dan ikan. Bus dan kereta api menjadi alat transportasi massal yang nyaman menuju ke mana saja. Salah satunya menuju Murasaki River.


Murasaki River yang membelah kota Kitakyushu menjadi tempat rekreasi setelah selama 20 tahun tercemar limbah industri. Program dengan nama My River My Town menyulap sungai sekeruh Kalimas menjadi bening dan hijau. Inilah tempat rekreasi favorit keluarga di Kitakyushu.


Segala tentang perbaikan lingkungan menjadi isu utama. Menjelajahi kota ini tidak lengkap bila belum masuk kawasan restoran dan toko suvenir di Mojiko Port District. Kawasan ini merupakan pelabuhan lama sebelum Terminal Hibiki dioperasikan. Setelah Pelabuhan Hibiki beroperasi, Mojiko menjadi tempat wisata yang dilalui pelayaran kecil. Beberapa bangunan diubah menjadi museum seperti kantor pos, kantor pajak, dan bangunan penting lain.


Bahkan stasiun kereta api yang masih berfungsi juga lebih banyak dimanfaatkan sebagai museum. Polesan ini membuat Mojiko menjadi water front recreation area yang menjadi pusat kunjungan wisata di Kitakyushu.

Seminggu di Jepang mampu membuat betis kaki makin pejal tanpa repot-repot harus ke gym. Dengan semangat tetap berjalan kaki di Surabaya, akhir April rombongan kembali ke Surabaya. Tetapi begitu menjejak di Bandara Juanda, Surabaya, rasanya malas berjalan kaki di trotoar sempit dan harus mengalah pada PKL. Lenyap sudah tekad untuk tetap berjalan kaki.


Perlu Dicatat…
> Kantongi Jimat

Satu yang tak boleh ditinggalkan saat keluar dari hotel yaitu buku percakapan sehari-hari dalam bahasa Jepang yang keberadaannya bak jimat. Itu karena, hampir 95 persen masyarakat Jepang tidak bisa berbahasa Inggris. Karena semua petunjuk, harga, dan tulisan dibuat dalam huruf Kanji, jangan segan menggunakan bahasa Tarzan dan buku ini. Tetapi tetap ada bahasa yang berlaku di mana-mana, senyuman.

> Harga Selangit
Jika ingin memuaskan naluri belanja, sebaiknya menahan diri. Harga barang di Jepang luar biasa mahal dibandingkan Indonesia. Bahkan serbuan produk Tiongkok tetap membuat barang dari Tiongkok lebih mahal. Ketika akan membelikan kaus pesanan, saya langsung balik kanan setelah dihitung harganya Rp 400.000 untuk sepotong kaus dengan kualitas sama hanya Rp 75.000 di Indonesia.

Tetapi jangan khawatir, masih ada cara murah meriah memborong oleh-oleh. Beli saja suvenir dengan harga serba 100 yen. Jangan lupa membawa uang receh, tentu dalam kurs yen, karena toko-toko tidak bisa dibayar dengan dolar AS.

> Lapangan Khusus Gukguk
Sempitnya lahan membuat pemilik anjing harus pintar mencari cara agar binatang kesayangan ini tetap bisa berjalan-jalan dan tentu saja… pipis dan pup. Setiap hari anjing akan diikat dan bersama juragannya bergegas ke taman. Ini adalah taman khusus untuk anjing. Para gukguk ini bebas pipis dan pup. Para pemiliklah yang akan mengumpulkan pup itu dalam kantong yang selalu siap sedia sekop kecil dan kantong.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar