YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah anak balita penderita gizi buruk di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sampai akhir tahun 2008 tercatat sebanyak 1.399 anak atau 0,8 persen dari jumlah anak balita yang ada di daerah ini.
Jumlah itu berkurang jika dibandingkan jumlah anak balita penderita gizi buruk di DIY tahun sebelumnya yang mencapai 2000 anak, kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi DIY, drg Daryanto Chadori, M.Kes di Yogyakarta, Selasa,
Dalam acara diskusi masalah gizi dengan anggota Komisi D DPRD DIY, ia mengatakan persentase anak balita penderita gizi buruk tersebut masih lebih kecil dibanding dengan persentase nasional balita penderita gizi buruk yang mencapai 2,4 persen.
Sementara itu, persentase anak balita penderita gizi buruk tiap kabupaten/kota di DIY tercatat di Kota Yogyakarta mencapai 0,98 persen, Kabupaten Gunung Kidul 0,99 persen, Bantul 0,74 persen, Kulonprogo satu persen serta Kabupaten Sleman 0,56 persen,katanya.
Daryanto menambahkan, dinas kesehatan DIY akan terus mengembangkan beberapa program untuk menekan bertambahnya anak balita penderita gizi buruk, diantaranya dengan pengembangan program Posyandu serta keluarga sadar gizi.
"Kami merencanakan mengembangkan program tersebut agar dapat menekan jumlah anak balita gizi buruk dan salah satunya dengan pengembangan peran 5642 Posyandu serta keluarga sadar gizi di daerah ini," katanya.
Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) DIY, Sri Hartati mengatakan penyebab masih tingginya angka anak balita gizi buruk di DIY disebabkan beberapa faktor selain masalah ekonomi atau kemiskinan, juga pola asuh anak yang salah serta akibat penyakit.
"Jadi, bukan karena faktor ekonomi atau kemiskinan saja tapi juga karena pola asuh anak yang salah dari orang tua atau keluarga," kata Sri Hartati.
Selain optimalisasi kader Posyandu, maka program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dinilai cukup bermanfaat bagi pemulihan bagi anak balita yang menderita gizi buruk tersebut, katanya.
Sedangkan Ketua Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Yogyakarta, Joko Susilo, SKM, M.Kes menyayangkan minimnya jumlah tenaga kesehatan di bidang gizi yang ditempatkan di tiap Puskesmas. Di tiap Puskesmas minimalnya harus ditempatkan satu orang tenaga ahli gizi. Namun, kenyataannya mereka justru harus merangkap kerja sebagai tenaga manajerial.
"Lulusan sekolah gizi di DIY, terbanyak atau sekitar 75 persen berasal dari luar Yogyakarta, sehingga kebutuhannya pun banyak yang bekerja di luar DIY, " kata Joko.
ABD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar