18 Maret 2009

Anak-anak Keluarga Korban Penyerobotan Tanah PT Nauli Sawit Alami Putus Sekolah dan Kurang Gizi

Maret 14th, 2009

Sibolga (SIB)


Puluhan anak-anak dari keluarga korban penyerobotan tanah milik warga yang diduga dilakukan PT Nauli Sawit di wilayah Tapanuli Tengah dilaporkan mengalami putus sekolah dan gangguan kesehatan seperti kurang gizi.


Sekjend Komnas HAM Perlindungan Anak Aries Merdeka Sirait dalam siaran persnya kepada sejumlah wartawan, Kamis (12/3) di ruang tamu Keuskupan Sibolga di Jalan Ade Irma Sibolga mengungkapkan, nasib anak-anak tersebut saat ini sangat menyedihkan dan masa depan mereka terancam sebagai imbas dari ketidakpastian hukum yang dialami keluarga dan orangtuanya karena bersoal dengan PT Nauli Sawit.


Ia membeberkan, proses hukum orangtua anak-anak korban penyerobotan tanah dan juga sekaligus menjadi tersangka kasus dugaan pembakaran kantor PT Nauli Sawit ini sangat berbelit-belit dan menyalahi hukum acara peradilan negara mengingat selama dalam proses hingga dijadwalkan minggu depan akan diambil putusan saksi korban dirugikan atas kejadian itu atau dengan kata lain pemilik PT Nauli Sawit tidak pernah dihadirkan.


"Sidang hanya mengelar keterangan saksi-saksi yang merupakan karyawan PT Nauli Sawit tetapi saksi korban yakni pemilik perusahaan yang dirugikan atas kejadian itu tidak pernah dihadirkan dalam persidangan,' katanya seraya meminta agar hakim segera membebaskan para tersangka.


Ia juga mengakui, proses berbelit-belit dan tergolong lama ini telah memberi dampak buruk terhadap kehidupan anak-anak mereka dan hal ini telah melanggar UU Perlindungan Anak.


"Tidak bisa tidak, para tersangka harus dibebaskan karena proses peradilan telah menyalah," katanya seraya memastikan pihaknya tetap memantau kasus ini dari Jakarta dan bila hakim tetap menjatuhkan vonis hukuman kepada para tersangka pihaknya akan membuat pengaduan ke Komisi Yudical.


Pastor Rantinus yang turut hadir pada temu pers tersebut menambahkan, orangtua mereka dijerat dengan pasal yang tidak pernah mereka lakukan karena tidak ada satu pun saksi dalam persidangan yang melihat secara langsung para tersangka membakar kantor itu tetapi tetap saja ditahan dan proses hingga waktu yang lama.
Ibarat Anak Ayam Kehilangan Induk


Pada kesempatan itu juga, Sirait menerima pengaduan dari orangtua bernama Jamaluddun Manalu penduduk Kecamatan Pinang Sori Kab Tapteng yang memiliki 3 orang anak tetapi saat ini sudah putus sekolah dan tidak terawat karena tidak lagi mendapat kasih sayang dari ibunya yang dipindah tugaskan ke daerah lain oleh Pemkab Tapteng dengan alasan tidak jelas.


"Anak-anakku saat ini seperti anak ayam yang kehilangan induk semuanya tidak terawat setelah ibunya yang bekerja sebagai guru SD Negeri dipindahkan ke daerah yang jauh karena saya getol memperjuangkan tanah kami yang diambil Pemkab Tapteng untuk pembangunan bandara Dr FL Tobing Pinang Sori," akunya seraya mengaku bermimpi agar seorang pahlawan yang mau memperjuangkan orang miskin kelak lahir di Tapteng ini. (T3/m)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar