30 Maret 2010

Sabu Raijua Terancam Kelaparan


Senin, 29 Maret 2010

Kupang, (tvOne)

Penduduk Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan di ambang kelaparan, karena curah hujan rendah mengakibatkan para petani mengalami gagal tanam dan gagal panen tahun ini.

Penjabat Bupati Sabu Raijua Thobi Uly di Kupang, Senin mengakui ancaman kelaparan yang dihadapi kabupaten bungsu di NTT berpenduduk 91.000 jiwa itu. "Sabu Raijua dipastikan mengalami rawan pangan tahun ini akibat gagal panen,"kata Thobias Uly.

Dia megatakan, tanaman jagung dan kacang-kacangan gagal panen, karena curah hujan rendah dan tidak merata. Dalam bulan ini saja, hujan hanya empat kali mengguyur kabupaten terpencil, yang terletak di "jantung" Laut Sawu tersebut, mengakibatkan sebagian besar tanaman gagal tumbuh dan gagal panen.

Masyarakat yang sebagian besar adalah petani lahan kering, katanya, tidak memiliki harapan untuk bisa panen, karena sebagian besar tanaman mati atau ada yang bisa berbuah, namun dengan produktivitas yang sangat rendah.

Kekeringan lanjut dia, terjadi merata di enam kecamatan di kabupaten tersebut. "Tanaman yang berhasil (berbuah) tidak mencapai 10 hektare. Itu pun hasilnya sangat minim," katanya.

Dia menyerukan kepada masyarakat di Sabu untuk lebih hemat memanfaatkan pangan yang ada, melakukan efisiensi besar-besaran untuk urusan pesta yang tidak terlalu penting dan meminta upacara adat yang menelan biaya besar bisa ditunda, agar semua kekuatan dan sumber daya bisa diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Pemerintah, tambah dia, menyiapkan beras sebanyak 200 ton untuk masyarakat miskin dan akan disalurkan pada April mendatang. "Beras untuk keluarga miskin akan kita salurkan mulai April ini,"katanya dan menambahkan, pihaknya juga telah meminta bantuan beras 100 ton kepada pemerintah provinsi.

Wakil Gubernur NTT Esthon L Foenay kepada pers yang mengonfirmasinya meminta masyarakat di Sabu Raijua untuk mengoptimalkan gula air (olahan dari nira hasil sadapan lontar) sebagai pangan pengganti beras. Masyarakat di wilayah itu terkenal dengan kemampuan memproduksi gula air yang lebih dikenal dengan gula sabu, sebagai pengganti pangan.

Pemerintah provinsi, kata Foenay, telah menyiapkan stok beras sebanyak 300 ton untuk operasi pasar murah. Beras itu sudah ada dan siap disalurkan ke semua daerah yang mengalami rawan pangan, namun masyarakat juga diminta untuk mengoptimalkan usaha ekonomi produktif di tingkat rumah tangga, seperti tenun ikat, keterampilan mengolah ikan kering, abon dan sebagai agar bisa menghasilkan uang.

Pemerintah, kata dia, juga akan menyelenggarakan proyek padat karya agar masyarakat bisa bekerja dan mendapat pangan dan juga mengarahkan proyek-proyek ke desa seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), agar masyarakat mendapatkan uang untuk membeli pangan.(ANT)


http://nusantara.tvone.co.id/berita/view/35448/2010/03/29/sabu_raijua_terancam_kelaparan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar