| 02/04/2009 13:30 - Satpol PP Satpol PP Akan Lebih Luwes Liputan6.com, Jakarta: Sangar serta galak. Mungkin itulah salah satu citra yang menempel dalam anggota Satuan Polisi Pamong Praja. Maklum, tugas Satpol PP tidak jauh-jauh dari urusan yang berhubungan dengan penertiban yang pada akhirnya berhadapan langsung dengan warga. Dalam merayakan ulang tahun ke-59 Satpol PP, satuan ini dituntut bisa luwes dan berjiwa seni. Dalam sambutannya Gubernur DKI Fauzi Bowo berpesan, Satpol PP harus berbenah diri. Satpol PP juga harus lebih peduli dan berbagi dengan masyarakat. Dengan demikian dapat melepaskan citra kekerasan yang masih melekat kuat. Namun alih-alih mengaca diri, Kepala Satpol PP DKI Harianto Bajuri punya alasan terkait citra kekerasan pada satuannya. "Ada oknum masyarakat yang melanggar perda hingga akhirnya tidak suka pada kami," ujar Harianto. Apapun dalihnya, tugas berat memang menghadang yaitu menghadapi dan menyadarkan para pelanggar aturan tapi dengan sikap lebih manusiawi.(OMI/David Silahooij dan Yanto Sukma) http://www.liputan6.com/news/?id=175387&c_id=6 |
02 April 2009
Satpol PP Akan Lebih Luwes
PHK di Jateng Capai 8.617 Orang
03/04/09 05:52 PHK di Jateng Capai 8.617 OrangSemarang (ANTARA News) - Selama tiga bulan pertama tahun 2009 jumlah karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari 81 perusahaan di Jawa Tengah mencapai 8.617 orang. "Selain melakukan PHK karyawan, sejumlah perusahaan juga merumahkan sebanyak 9.260 karyawannya sebagai dampak krisis keuangan global yang terjadi selama ini," ujar Kepala Disnakertrans Jateng, Siswo Laksono, di Semarang, Kamis. Ribuan buruh yang terkena PHK dan dirumahkan tersebut tersebar di 19 Kabupaten/Kota dan 81 perusahaan di Jawa Tengah, yang bergerak di bidang garmen, tekstil, perkayuan, plastik, kapas, furnitur, baja dan obat nyamuk. Alasan utama perusahaan mengambil kebijakan tidak populis itu karena dipengaruhi oleh faktor daya jual yang menurun, sehingga produksi tidak berjalan lancar. Kabupaten Semarang tercatat sebagai daerah yang terbanyak merumahkan karyawannya berjumlah 3.807 orang dan PHK sebanyak 685 orang. Ia berharap, krisis global segera berakhir dan kondisi industri di Jawa Tengah kembali pulih, sehingga karyawan yang di-PHK atau dirumahkan dapat kembali berkerja. Siswo mengungkapkan, untuk mengatasi dampak krisis global tersebut pemerintah pusat telah mengucurkan dana dari APBN sebesar Rp 68 miliar untuk program Padat Karya Produktif di Jawa Tengah. Dana tersebut, dialokasikan untuk tiga bidang yakni pertanian, peternakan, dan perikanan. "Masing-masing Kabupaten/Kota yang memperoleh program ini diberi keleluasaan untuk mengembangkan usaha sesuai dengan potensi daerah masing-masing," ujarnya. Tercatat ada sekitar 17 Kabupaten/Kota yang mendapat program tersebut, dengan pertimbangan terdapat paling banyak karyawan yang terkena PHK. Selain itu, Pemprov Jateng juga mengalokasikan dana APBD sebesar Rp27,1 miliar untuk program peningkatan kompetensi dilakukan melalui 28 Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi dan Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS). Program tersebut didesain untuk pengentasan kemiskinan dan pengangguran di Jateng.(*) COPYRIGHT © 2009 |
Kebakaran di Fatmawati, 3 Orang Tewas
Kebakaran di Fatmawati, 3 Orang TewasJum'at, 3 April 2009 - 06:54 wibJAKARTA - Kebakaran di dua ruko mebel di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan akhirnya padam sekira pukul 03.00 WIB dini hari tadi. Peristiwa itu mengakibatkan 3 orang tewas. |
Seluruh Lahan BKT Bebas April ini
Seluruh Lahan BKT Bebas April iniJAKARTA -- Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Banjir Kanal Timur (BKT) menetapkan target besar. Pada pertengahan April ini pembayaran lahan diharapkan tuntas. "Akan ada dua kali pembayaran lagi sebelum pemilu," ujar Eka Darmawan, Sekretaris P2T, Kamis (2/4). |
Pemda Bangun Rusun untuk 7.000 KK Waduk Pluit
![]() ![]()
|
Utang Pemerintah Mengkhawatirkan, Beban Utang Per Kapita Rp 12 Juta
| 2009-04-02 Rumgapres/Abror Rizki |
Musuh PKL Santuni Anak Jalanan
Musuh PKL Santuni Anak Jalanan Selain menyalurkan santunan, Petugas yang acap kali menggusur Pedagang Kaki Lima (PKL) juga menggelar acara tumpengan di Yayasan Rumah Singgah Kumala, Rawabadak Utara, Koja. Sejumlah anak jalanan mengharapkan bisa sekolah dan tidak lagi jadi sasaran petugas Satpol PP. Adi (14), salah satu penghuni Yayasan Rumah Singgah tersebut mengharapkan agar mulai kini petugas tidak lagi menangkap anak-anak. Karena kegiatan mengamen yang dilakukan bukan tindak kriminal yang perlu ditanggapi dengan penertiban. "Saya kan cuma nyari uang buat jajan, kenapa ditangkap. Lagi pula ke mana lagi minta jajan, kami sudah tidak punya orangtua," tuturnya. Sementara Kepala Satpol PP DKI Harianto Badjoeri mengatakan, tidak melarang anak-anak mencari uang, asalkan dilakukan dengan tidak mengundang kerawanan. "Kalau mengamen di jalanan jelas mengganggu ketertiban. Kami hanya ingin melakukan pembinaan agar anak-anak bisa mendapat pendidikan yang layak," jawabnya. Jadi, lanjutnya, jika ditangkap petugas, bukan mau dipenjara tapi mau dibina di panti yang kondisinya lebih baik dari jalanan. Dalam acara itu, Walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono yang turut hadir mengatakan, aparat Satpol PP diharapkan dapat bersinergi dengan masyarakat untuk menjaga keutuhan wilayah. Tugasnya penuh dengan tantangan seperti menertibkan PKL maupun aksi penertiban lainnya. "Bagi anak-anak jalanan jangan bersitegang dengan aparat Satpol PP, tapi ciptakanlah situasi yang harmonis," tutur Bambang saat mendampingi Harianto. Namun pemberian santunan ini tidak dibagikan secara merata. Sebab jumlah warga miskin di Jakarta terbanyak ada di Jakarta Utara. Data BPS DKI Menyebutkan, saat ini ada 54 ribu keluarga miskin di Jakut. [dry] http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=72900 |
01 April 2009
Membangun Tanpa Menggusur
Membangun Tanpa Menggusur Kamis, 2 April 2009 | 03:32 WIBPasar tradisional Manggis, Ciputat, Banten, Kamis (26/3), pukul 22.00, mulai menggeliat. Satu demi satu lampu pijar berkekuatan 40 watt dipasang, menerangi barang dagangan yang baru diturunkan dari mobil-mobil bak terbuka. Sayuran segar dan aneka bumbu dapur mulai ditata di meja. Peti-peti kayu berisi buah-buah segar pun mulai dibuka untuk dijajakan. Hujan deras yang baru saja mengguyur kawasan Ciputat membuat saluran air yang sudah mampat tak mampu menampung curahan air hujan. Air hujan pun meluap ke lantai pasar, berbaur dengan air yang disiramkan pedagang untuk menyegarkan sayuran yang dijualnya. Belum lagi tetesan air dari ember pedagang ikan. Lantai pasar pun menjadi semakin becek. Situasi itu membuat pengunjung harus berjalan hati-hati dan mengangkat celana panjangnya agar tidak terkena lumpur yang menempel di lantai pasar. Di sudut pasar, pedagang kelapa sibuk mengupas batok kelapa. Mereka membiarkan potongan batok kelapa berserakan ke tanah. Sementara itu, pedagang sayur-mayur sibuk memilah daun kol dan sawi yang busuk. Kekumuhan itu masih harus ditambah dengan bau busuk yang menyengat dari bak sampah yang terletak di samping kuburan, di dekat pasar. Lengkaplah sudah gambaran kesemrawutan, kekumuhan, dan ketidaknyamanan sebuah pasar tradisional. Padahal, pasar ini menjadi andalan kedua konsumen di kawasan itu, setelah Pasar Ciputat yang terletak sekitar 300 meter dari Pasar Manggis. Kondisi yang nyaris mirip juga ditemukan di Pasar Ciputat. Sampah berserakan, bau busuk, becek, dan kumuh menjadi pemandangan sehari-hari. Padahal, sekitar 50 meter dari Pasar Manggis berdiri supermarket Tip Top. Hypermarket Carrefour pun telah berdiri megah di kawasan itu, lengkap dengan pelataran parkir. Persaingan pun semakin ketat. Namun, hasil penelitian The Nielsen Indonesia menunjukkan, pasar tradisional memiliki konsumen yang setia dan pangsa pasar tersendiri. Di tengah krisis keuangan global yang kini melanda dunia, berbagai kiat dilakukan untuk menyiasati keadaan agar bisa bertahan. Begitu pula konsumen. Dalam karikatur tentang tingkat kepercayaan konsumen, Nielsen mengutip kiat sebagian konsumen dalam menyiasati sulitnya keadaan. "Harus pintar-pintar masak, mengolah bahannya, biar dapat banyak tapi enggak usah sering-sering ditumis pakai minyak goreng. Kalau perlu, direbus atau dikukus saja, entar dicocol pakai sambal," ungkap seorang konsumen dalam menyiasati mahalnya harga kebutuhan sehari-hari. Ada pula yang menyatakan, "Kalau minta ayam Kentucky, kita beli saja kentucky-kentucky-an." Ada pula yang menuturkan, "Anak-anak suka jajan. Kalau saya sudah enggak ada duit, akhirnya saya tutup pintu, setelin TV biar (dia) enggak jadi jajan." Kiat ini untuk mengurangi pengeluaran untuk jajan anak. Penghematan dilakukan di berbagai pengeluaran. "Dulu biasa beli pembalut yang isinya 12, sekarang yang isinya sedikit. Dan lebih irit pakai sampo sachet soalnya kalau pakai botol suka kelebihan. Kalau sachet tinggal gunting, jadi pas ukurannya." Dengan berbagai kiat dan perubahan sikap konsumen, Nielsen meyakini tahun 2008 terjadi perpindahan sebagian konsumen, dari belanja di toko modern ke toko tradisional dan pasar tradisional. Dalam Shoppertrend 2009, Nielsen mengungkapkan, masih tingginya minat masyarakat berbelanja di pasar tradisional terutama bahan makanan segar. Tahun 2006-2008, sebesar 36-45 persen konsumen berbelanja buah dan sayur segar di pasar tradisional. Sebanyak 62-65 persen konsumen berbelanja daging segar di pasar tradisional. Adapun 53-61 persen konsumen berbelanja ikan segar di pasar tradisional. Menurut Ketua Dewan Pengawas Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia (FOPPI) Irfan Melayu, atmosfer pasar tradisional menumbuhkan keakraban antara pedagang dan pembeli, terutama saat proses tawar-menawar. Keakraban itu acap kali hilang saat pasar tradisional direnovasi. Pasar tradisional diubah menjadi bangunan megah dan mewah, menghilangkan karakteristik ketradisionalannya. "Padahal, yang dibutuhkan konsumen bukan bangunan fisik yang mewah, tetapi yang bersih, rapi, nyaman, dan aman. Komposisi biaya renovasi pasar tradisional harus menghasilkan keunggulan komparatif, terutama dari sisi harga jual barang. Bukan malah menjadi lebih mahal," kata Irfan. Irfan mengakui, lokasi penyebaran pasar tradisional membuat biaya distribusi barang menjadi bervariasi. Hal ini membuat ada selisih harga jual barang antara pasar tradisional dan ritel modern. Harga di ritel modern relatif murah, yang membuat konsumen beralih ke ritel modern. Oleh karena itu, Irfan mengharapkan renovasi pasar hendaknya diarahkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Ini bisa dilakukan bila lokasi pasar tradisional dekat dengan konsumennya. "Tidak ada salahnya renovasi pasar tradisional dipadukan dengan pembangunan rumah susun. Jadi, daya beli akan meningkat karena penghuni rusun menjadi konsumen tetap dari pasar itu," tutur Irfan. Bahkan, lanjut Irfan, lokasi pasar tradisional akan sangat strategis bila dipadukan dengan apartemen. "Dengan catatan, persyaratannya tetap sama, pedagang lama tetap harus bisa menjangkau harga kios atau los untuk bisa berdagang," katanya. Oleh karena itu, Irfan mengingatkan agar renovasi pasar tradisional tidak menggusur pedagang lama. Hal itu pula yang dikemukakan Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Suryadharma Ali. Ia mengatakan, di tengah krisis finansial global, renovasi pasar menjadi salah satu pilihan pemerintah dalam pengucuran stimulus fiskal tahun 2009. Namun, nilainya relatif kecil, Rp 100 miliar. Dengan demikian, "uang perangsang" itu tidak akan banyak bermanfaat tanpa peran pemerintah daerah. Lahan-lahan dan biaya perizinan renovasi pasar harus disiapkan oleh pemda. Dengan demikian, harga lahan tidak dimasukkan sebagai komponen yang harus dibiayai oleh stimulus fiskal. Rencananya, 91 pasar tradisional dan 13 kawasan usaha mikro dan kecil, seperti pedagang kaki lima (PKL), menjadi target penyaluran stimulus fiskal. Jumlah ini jauh dari jumlah pasar tradisional di Indonesia. "Komitmen pemerintah, renovasi atau pembangunan pasar tidak boleh menggusur pedagang lama. Apalagi, muncul broker penjual kios," tegas Suryadharma. Deputi Pemasaran Kementerian Negara Koperasi dan UKM Ikhwan Asrin mengingatkan bahwa stimulus fiskal memiliki prosedur pertanggungjawaban dan mekanisme renovasi pasar tetap berasal dari masyarakat. Semoga rencana manis itu dapat berbuah manis sehingga pedagang tak harus menerima beban lebih berat karena renovasi pasar tradisional tempatnya berdagang. Dengan demikian, konsumen tetap mendapat harga yang murah.http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/02/03323796/membangun.tanpa.menggusur |
BLT Bukti Pemerintah Manipulasi Kemiskinan
BLT Bukti Pemerintah Manipulasi Kemiskinan
"Pilihan yang ada di depan kita sudah jelas, apakah ingin tetap menjadi penganggur, tetap miskin, atau ingin perubahan besar," ujarnya. |
Indonesia Harus Punya Ideologi Pertanian
Indonesia Harus Punya Ideologi Pertanian
JAKARTA – Upaya membangkitkan kembali perekonomian bangsa yang kian terpuruk ini harus dimulai dari pembangunan sektor pertanian. Kenapa? Alasannya cukup sederhana, karena sebagian besar penduduk Indonesia, khususnya yang bermata pencaharian sebagai petani tanaman pangan, menggantungkan kehidupan mereka dari bidang pertanian. |

