Tampilkan postingan dengan label Busung lapar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Busung lapar. Tampilkan semua postingan

11 April 2010

Jejak Silang Budaya LARANTUKA

Kompas, Minggu, 11 April 2010

Benteng itu sudah lama hancur. Yang masih tersisa hanya fondasi yang tertutup lumut, dengan beberapa bongkah batu di atasnya. Sebuah meriam tua tergeletak di tanah, tertimbun dedaunan kering. Inilah fortaleza (benteng pertahanan), salah satu jejak kedatangan Portugis di Pulau Solor, Nusa Tenggara Timur, hampir 500 tahun lalu.

Setelah menaklukkan Maluku sekitar tahun 1511, kapal-kapal Portugis pertama kali merapat ke Pulau Solor, sekitar 80 kilometer dari Larantuka, pada tahun 1556. Solor menjadi incaran karena pulau ini kaya akan kayu cendana meskipun saat ini tak ada lagi bekasnya. Kayu cendana sudah punah di sana. Kalaupun ada, tinggal beberapa batang pohon yang tumbuh alamiah di hutan-hutan sekitar.

Kekuasaan Portugis tak bertahan lama di Solor karena harus berhadapan dengan kekuatan kolonial lain, pasukan Belanda. Mereka lantas bergeser dari Pulau Solor ke Larantuka.

Pergeseran ini membuat sejumlah tradisi Lamaholot (Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Solor, Lembata, dan Pulau Alor) terpengaruh. Budaya Portugis—yang kental dengan ritual agama Katolik—mengakar dalam kehidupan sehari-hari warga lokal.

Raja Larantuka saat itu, Ola Ado Bala (raja ke-11), pun mengubah namanya menjadi Don Fransisco Ola Ado Bala Diaz Viera Deo Godinho (DVG), atau lebih dikenal sebagai Don Fransisco Ola Ado Bala DVG. Gelar DVG kemudian dikenakan kepada raja-raja sesudahnya, sampai Raja Andreas Martinho DVG (saat ini).

Setelah Raja mengganti namanya, warga Larantuka pun beramai-ramai menggunakan nama-nama Portugis. Sebanyak 13 suku di Larantuka yang tadinya menggunakan nama suku Lamaholot berubah menjadi suku Fernandez, suku Da Silva, suku De Rosari, suku Da Costa. Juga Da Santo, Gonzales, Ribeiru, Skera, atau De Ornay.

Sejumlah tradisi Lamaholot pun berangsur berubah atau malah hilang, seperti kepercayaan kepada "Rera Wulan Tana Ekan" (penguasa langit dan bumi) dan penghormatan ke Gunung Ile, yang dianut masyarakat di wilayah itu jauh sebelum Portugis menginjakkan kaki di Larantuka. Kepercayaan ini meluas di seluruh masyarakat Lamaholot dan menjiwai seluruh kehidupan mereka, baik dalam pembacaan mantra, syair, maupun pantun tradisional.

Titik temu

Tokoh masyarakat Larantuka, Pieter Da Santo, di Kupang, Kamis (8/4), menyebutkan, dalam bahasa Lamaholot, Larantuka berarti "jalan tengah" atau "titik temu". Hal itu pas dengan kondisi saat ini, yaitu Larantuka menjadi titik pertemuan masyarakat dari Pulau Adonara, Lembata, Solor dan masyarakat dari daratan Pulau Flores. "Larantuka juga menjadi pusat pertemuan budaya Lamaholot, Portugis, dan Melayu yang dibawa para pedagang," katanya.

Dari sisi tradisi, Larantuka juga menjadi magnet bagi masyarakat sekitarnya. Meski secara politik pulau-pulau sekitar Larantuka ingin memisahkan diri dan menjadi kabupaten mandiri, pada perayaan-perayaan keagamaan, masyarakat dari pulau-pulau sekitar tetap menganggap Larantuka sebagai "pusat".

Dr Theresia Kumanireng, mantan dosen Universitas Nusa Cendana Kupang, yang melakukan penelitian khusus mengenai pengaruh bahasa dan budaya asli Larantuka dengan budaya Portugis dan Melayu, menemukan bahwa Portugis dan para penyiar agama juga memperkenalkan bahasa Melayu ke Larantuka. Bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa Larantuka tampak dari penggalan-penggalan kalimat seperti "beri torang ae dike se" (beri kita orang air sedikit), "pagari" (pagi hari), dan juga "kelao- kedara" (ke laut dan ke darat).

Bisa dikatakan, bahasa Larantuka merupakan "campuran" 70 persen bahasa Melayu, 20 persen bahasa Portugis, 0,5 persen bahasa Belanda, serta sisanya merupakan bahasa Lamaholot, Latin, dan Arab. Penguasaan bahasa Melayu, pendidikan dan kesehatan yang diperkenalkan Portugis pada masa lalu membuat warga Larantuka saat itu merasa diri sebagai kelompok cerdik-pandai, berbudaya, dan modern.

Kini warga Lamaholot di Adonara, Solor, Lembata, dan sekitarnya sudah jauh berkembang. Di Pulau Adonara, misalnya, dengan jumlah penduduk 120.000 jiwa, saat ini telah ada 29 doktor dari berbagai disiplin ilmu yang mengabdi sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi di NTT.

Larantuka dan sekitarnya merupakan kepingan kecil dari wajah Indonesia yang secara kultural terbentuk dari pergaulan lintas budaya, lintas bangsa.

(KORNELIS KEWA AMA/ARBAIN RAMBEY)

09 April 2010

Pangan Nonberas Wujudkan Ketahanan Pangan

Harian Equator, Jum'at, 09 April 2010

Oleh : Pa'du Palimbong

DAPAT dikatakan sekitar 90 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok. Sedikit sekali yang menjadikan ubi kayu, ubi jalar, jagung dan sukun sebagai bahan pangan yang sesungguhnya.

Daerah yang menjadikan pangan nonberas sebagai makanan pokok adalah Papua. Pun demikian, fisik mereka bagus, sehat dan banyak pintar. Tidak kalah dengan daerah lain yang pangan utamanya beras. Demikian juga saudara-saudara kita dari sebagian Pulau Ambon juga sangat terkenal dengan sagu atau papeda. Coba lihat. Mereka sangat terkenal dalam segala bentuk kehidupan ini. Suara merdu ketika menyanyi. Di bidang olahraga, tidak disangsikan lagi. Bahkan di tingkat dunia, seperti Ellyas Pical dan lain-lain telah berhasil menorehkan prestasi di bidang olahraga.

Pada dasarnya kandungan karbohidrat protein, gizi dan mineral kimia bermanfaat lain dari ubi kayu, jagung, sukun dan ubi jalar tidak jauh berbeda dengan beras. Khususubi kayu, bukan hanya umbinyan yang dapat diolah menjadi makanan, akan tetapi dauna juga bisa dijadikan sayur.

Jagung, selain karbohidrat dapat juga memiliki banyak manfaat. Demikian juga sukun. Buah maupun daunnya dapat digunakan sebagai bahan makanan. Sebagai bahan pangan yang dapat menggantikan atau mengurangi ketergantungan masyarakat dari beras sebagai makanan pokok.

Masyarakat  sangat perlu mengetahui kandungan apa saja yang terdapat bahan pangan nonberas. Kandungan kimia beras berbeda-beda. Tergantung varietas dan cara pengolahannya.

Selain sebagai sumber energi dan protein, beras juga mengandung berbagai unsur mineral dan vitamin. Sebagian besar karbohidrat beras adalah pati sekitar 85 persen. Sebagian kecil mengandung prutosan, sellulosa dan gula.

Protein adalah komponen kedua terbesar beras setelah pati. Sekitar 80 persen protein beras merupakan fraksi yang tidak larut dalam air yang disebut protein glutelin.

Bagaimana dengan kandungan mineral ubi kayu sebagai pangan nonberas. Kandungan mineral ubi kayu/100 gram adalah 146 kalori, protein 1,2 grm, lemak 0,2 grm, hidrat arang 34,7 grm, kalsium 33 mg, fosfor 40 mg serta zat besi 0,7 mg. Selain umbi ubi kayu buah ubi kayu per 100 gram mengandung antara lain vitamin B1 0,06 mg, vit C 30 mg dan 75 persen bagian buah dapat dimakan. Daun ubi kayu juga mengandung banyak mineral (per 100 grm) seperti Vit-A 11.000  Si, Vit C 275 mg, Vit B1 0,12 mg, kalsium 165 mg, kalori 73 kal, Fosfor 54 mg, protein 6,8 mg, lemak 1,2 grm , hidrat arang 13 grm, sat besi 2 mg dan 87 persen bagian daun ubi kayu dapat dimakan.

Sedangkan buah sukun dapat  diolah dalam berbagai bentuk makanan dapat digunakan sebagai bahan pangan pendamping  beras karena pada dasarnya buah sukun memiliki kandungan mineral yang relatif sama dengan beras. Tidak kalah dengan jagung ubi kayu dan ubi jalar maupun kentang.

Kandungan gizi buah sukun cukup baik yaitu karbohidrat, protein, lemak, Vit B1, Vit B2, Vit C serta mineral kalsium, fosfor dan zat besi. Tepung sukun dengan kandungan pati sampai 75 persen, 21 persen gula, 5 persen protein dan 2 persen lemak. Demikian juga halnya dengan jagung. Dapat dikonsumsi  sebagai pendamping atau pengganti beras sebagai bahan pangan.

Kandungan jagung sangat banyak antara lain karbohidrat, kalsium, serat, asam folat, zat besi, fosfor, Vit.B12, kalium, protein, Vit A, Vit C dan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah kandungan antioksidan, yaitu Likopen dan Vit C yang merupakan kandungan yang dapat merawat kulit dari dalam dan kesehatan rambut.

Bukan itu saja  rambut jagung yang berwarna kuning dan cokelat juga dapat mengatasi problem klasik manusia, yaitu gangguan buang air kecil, mengobati pembengkakan kandungan kemih, tekanan darah tinggi, serta mengurangi pendarahan pada waktu melahirkan yang disebabkan oleh kandungan Vit K. Dari uraian tersebut di atas dan dengan kandungan berbagai mineral dari ubi kayu, buah sukun, jagung jelas dapat digunakan sebagai pendamping, atau substitusi pangan beras, sehingga kita tidak perlu memiliki ketergantungan sangat besar akan beras sebagai bahan pangan pokok.

Mengonsumsi ubi kayu, buah sukun dan jagung nilainya relatif sama dengan beras. Jadi jangan khawatir mengonsumsi bahan pangan ini akan menyebabkan kesehatan dan kekuatan kita menurun. Menurut saya, yang perlu ditingkatkan di masyarakat adalah bagaimana mengolah bahan ini sehingga rasanya nikmat, menarik dan tidak membosankan. (Penulis adalah Kepala Dinas Pertanian Landak)

30 Maret 2010

Lima Anak di Rote Teridentifikasi Gizi Kurang

Wednesday, 03-03-2010

Laporan Maksi Marho
 
BA'A, POS KUPANG.Com---Lima orang anak balita (usia dibawah lima tahun) di Desa Dudale, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao saat ini menderita gizi kurang.
 


Sementara satu anak atas nama Arkilaus Bessie menderita gizi buruk. Anak penderita gizi buruk dan gizi kurang saat ini mendapat bantuan biskuit dari Departemen Kesehatan.

Demikian Bidan Puskesmas Pembantu (pustu) Desa Dudale,  Angel Nulik-Therik, ketika ditemui di kantornya, Rabu  (3/3/2010).

Menurut bidan Angel, anak-anak menderita gizi kurang
dan gizi buruk diketahui dari kondisi tubah anak yang kurus dan berat badan yang tidak seimbang sebagai anak sehat.

"Ada macam penyebab anak gizi buruk dan gizi kurang tapi
umumnya karena mereka merupakan keluarga miskin. Hanya ada satu anak penderita gizi buruk yang orangtuanya PNS.

Mungkin perhatian orangtua yang minim sehingga anaknya menderita gizi buruk meskipun orangtunya tergolong orang mampu atau PNS," kata Bidan Angel.(*)
(Pos Kupang)

http://www.pos-kupang.com/getrss/viewrss.php?id=43953


Sabu Raijua Terancam Kelaparan


Senin, 29 Maret 2010

Kupang, (tvOne)

Penduduk Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan di ambang kelaparan, karena curah hujan rendah mengakibatkan para petani mengalami gagal tanam dan gagal panen tahun ini.

Penjabat Bupati Sabu Raijua Thobi Uly di Kupang, Senin mengakui ancaman kelaparan yang dihadapi kabupaten bungsu di NTT berpenduduk 91.000 jiwa itu. "Sabu Raijua dipastikan mengalami rawan pangan tahun ini akibat gagal panen,"kata Thobias Uly.

Dia megatakan, tanaman jagung dan kacang-kacangan gagal panen, karena curah hujan rendah dan tidak merata. Dalam bulan ini saja, hujan hanya empat kali mengguyur kabupaten terpencil, yang terletak di "jantung" Laut Sawu tersebut, mengakibatkan sebagian besar tanaman gagal tumbuh dan gagal panen.

Masyarakat yang sebagian besar adalah petani lahan kering, katanya, tidak memiliki harapan untuk bisa panen, karena sebagian besar tanaman mati atau ada yang bisa berbuah, namun dengan produktivitas yang sangat rendah.

Kekeringan lanjut dia, terjadi merata di enam kecamatan di kabupaten tersebut. "Tanaman yang berhasil (berbuah) tidak mencapai 10 hektare. Itu pun hasilnya sangat minim," katanya.

Dia menyerukan kepada masyarakat di Sabu untuk lebih hemat memanfaatkan pangan yang ada, melakukan efisiensi besar-besaran untuk urusan pesta yang tidak terlalu penting dan meminta upacara adat yang menelan biaya besar bisa ditunda, agar semua kekuatan dan sumber daya bisa diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Pemerintah, tambah dia, menyiapkan beras sebanyak 200 ton untuk masyarakat miskin dan akan disalurkan pada April mendatang. "Beras untuk keluarga miskin akan kita salurkan mulai April ini,"katanya dan menambahkan, pihaknya juga telah meminta bantuan beras 100 ton kepada pemerintah provinsi.

Wakil Gubernur NTT Esthon L Foenay kepada pers yang mengonfirmasinya meminta masyarakat di Sabu Raijua untuk mengoptimalkan gula air (olahan dari nira hasil sadapan lontar) sebagai pangan pengganti beras. Masyarakat di wilayah itu terkenal dengan kemampuan memproduksi gula air yang lebih dikenal dengan gula sabu, sebagai pengganti pangan.

Pemerintah provinsi, kata Foenay, telah menyiapkan stok beras sebanyak 300 ton untuk operasi pasar murah. Beras itu sudah ada dan siap disalurkan ke semua daerah yang mengalami rawan pangan, namun masyarakat juga diminta untuk mengoptimalkan usaha ekonomi produktif di tingkat rumah tangga, seperti tenun ikat, keterampilan mengolah ikan kering, abon dan sebagai agar bisa menghasilkan uang.

Pemerintah, kata dia, juga akan menyelenggarakan proyek padat karya agar masyarakat bisa bekerja dan mendapat pangan dan juga mengarahkan proyek-proyek ke desa seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), agar masyarakat mendapatkan uang untuk membeli pangan.(ANT)


http://nusantara.tvone.co.id/berita/view/35448/2010/03/29/sabu_raijua_terancam_kelaparan/

16 Desa di Rote Ndao Pontesial Rawan Pangan

Monday, 01-03-2010


 
BAA, POS KUPANG. com -- Curah hujan tergolong sangat kecil untuk 16 desa di wilayah Kabupaten Rote Ndao selama musim hujan tahun ini. Akibatnya, petani terancam gagal panen sehingga berpeluang terjadi rawan pangan.
 

 

Bahkan dua desa diantaranya desa Lekik dan desa Dolasik di Kecamatan Rote Barat Dayab(RBD) dilaporkan tak ada curah hujan sama sekali setelah petani menanam padi dan jagung.

Ke-16 desa yang sangat kecil curah hujannya yakni desa Sedeoen, dan desa Nembrala di kecamatan Rote Barat, desa Oebela, Boni, Oelua, Lidor, Daudolu, Netenain, dan desa Toloama di kecamatan Rote Barat Laut (RBL), desa Lekik, Oeseli, Oebou dan desa Dolasik di kecamatan Rote Barat Daya (RBD), desa Oeledo, desa Sonimanu dan desa Lenupetu di

kecamatan Pantai Baru.

Demikian dikatakan Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (PPK) Kabupaten Rote Ndao, B Nelson Meok, STP, M.Si ketika ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (27/2/2010) siang.

Menurut Meok, hal itu berdasarkan laporan petugas teknis operasional pertanian dari semua kecamatan dalam pertemuan yang digelar di dinas tersebut sehari sebelumnya, Jumat (26/2/2010).

Dikatakan Meok, laporan tentang kekurangan curah hujan terjadi hampir diseluruh kecamatan Rote Ndao dan yang paling nyata adanya dampak kekurangan curah hujan dapat terlihat di wilayah kecamatan Rote Barat serta dua desa di kecamatan Rote Barat Daya yakni desa Lekik dan Dolasik.

"Kalau di kecamatan Rote Barat daun-daun jagung sudah mengulung dan layu karena matahari yang terlalu panas sehingga kemungkinan panen jagung di wilayah ini akan gagal. Sedangkan untuk tanaman padi di sawah tadah hujan atau padi gogo rancah sekarang ini dalam proses pertumbuhan vegetatif yakni pertumbuhan daun dan batang dan belum masuk pada pertumbuhan generatif yakni berbunga dan berbuah. Sehingga

sangat diharapkan dalam satu atau dua minggu ini ada hujan yang turun sehingga padi bisa terselamatkan," kata Meok.

Jika dalam satu atau dua minggu ini tidak terjadi hujan, kata Meok, maka kemungkinan besar akan terjadi gagal panen. Oleh karena itu, pihaknya sudah menginstruksikan petugas teknis operasional pertanian kecamatan agar dapat melakukan pemantauan dan melaporkan soal adanya gagal panen atau fuso supaya segera diambil jalan keluar oleh pemerintah terutama dinas PPK Kabupaten Rote Ndao.

"Sebagai antisipasi pemerintah mencoba membantu petani dengan varietas kacang-kacangan yakni kacang hijau untuk ditanam petani. Memang belum dianggarkan dana untuk pengadaan varietas kacang hijau, namun pemerintah sudah memesan satu ton kacang hijau sebagai bibit. Tiga ratus kg kacang hijau saat ini telah dipakai untuk mengantisipasi rawan pangan, tetapi permintaan dari tiap kecamatan pun masih banyak," kata Meok.

Meok menambahkan, pihaknya bersama instansi terkait sudah dipanggil bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning, MM untuk rapat koordinasi di ruang kerja bupati guna membahas kemungkinan terjadinya rawan pangan di Rote Ndao. Tentunya akan ada upaya pemerintah dalam menangani masalah ini. (mar)
(Pos Kupang)

http://www.pos-kupang.com/getrss/viewrss.php?id=43778

Dua Kabupaten di Sulsel Rawan Pangan


Rabu, 3 Maret 2010
Makassar (ANTARA News) - Dua kabupaten di Sulsel yaitu Sinjai dan Jeneponto masih dikategorikan rawan pangan karena tingkat kesejahteraan masyarakat di kedua kabupaten tersebut masih rendah.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Daerah (BKPD) Sulsel Muhammad Kasim Alwi, Selasa di Makassar, mengatakan, selain rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kedua kabupaten tersebut juga banyak memiliki daerah pegunungan dan kepulauan yang terpencil.

Untuk mencapai Sulsel tahan pangan pada 2013, pihaknya memprioritaskan pengembangan desa mandiri pangan dengan sasaran sebanyak 65 desa lanjutan di 17 kabupaten dan kota dan target 26 desa baru di 21 kabupaten dan kota.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (PLDPM) melalui 26 Gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang telah berjalan di 11 kabupaten dan menargetkan penambahan 14 Gapoktan baru pada tahun ini.

"Masing-masing Gapoktan akan diberikan bantuan sebesar Rp150 juta untuk membeli hasil petani dan mengembangkan perekonomiannya," ujarnya.

Ia mengatakan, pada tahun anggaran 2008-2009 pihaknya telah menyalurkan dana Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) ke 950 Gapoktan di setiap desa di kabupaten dan kota.

"950 kelompok tani ini telah siap untuk dikerjasamakan dengan perbankan untuk mengembangkan usahanya," katanya.

Dukungan anggaran yang disiapkan untuk melaksanakan program-program ketahanan pangan pada 2010 tersebut sebesar Rp22,33 miliar terdiri dari APBD sebesar Rp11,68 miliar dan APBN Rp10,6 miliar.

Pihaknya juga tengah gencar mencanangkan program "satu hari tanpa nasi" dengan melakukan diversifikasi pangan. "Ubi, talas dan sukun dapat dijadikan sebagai pangan alternatif jika harga beras naik drastis atau sulit terjangkau," ujarnya.

Bahan makanan alternatif ini juga telah dianjurkan untuk dijadikan makanan ringan pilihan utama bagi tamu di hotel-hotel.

"Hal ini dilakukan untuk mengurangi konsumsi beras dan tepung terigu masyarakat dan ketergantungan terhadap kedua bahan pokok tersebut," ujarnya sambil mencontohkan sosialisasi Kabupaten Bantaeng menjadikan talas sebagai menu sarapan cukup berhasil dilakukan. (RY/K004)

Masyarakat Pantar Barat Rawan pangan

Tuesday, 09-03-2010

Laporan Okto Manehat
 
KALABAHI, Pos Kupang.Com--- Masyarakat ditiga kecamatan di wilayah Pulau Pantar bagian barat, Kabupaten Alor terancam rawan pangan
 

Ketiga kecamatan di Pulau Pantar bagian barat yang rakyatnya terancam rawan pangan, yakni Kecamatan Pantar Barat, Kecamatan Ppantar Barat Laut, dan Kecamatan Pantar Tengah.

Hal ini diakibatkan kemarau panjang yang mengakibatkan tanaman padi dan jagung milik masyarakat di sebagian besar desa-desa di tiga kecamatan tersebut mengalami kekeringan

Demikian dijelaskan Kasubag Humas dan Protokol Setda Alor, Yusak Magangsau kepada wartawan di Kokar, Kecamata Alor barat Laut, Selasa  (9/3/2010), pukul 13.00 Wita

Ia menjelaskan,  hasil pantauan pemerintah pada umumnya, tanaman padi dan jagung milik masyarakat kering akibat diterap panas yang berkepanjangan. Kondisi ini akan berdampak pada rawan pangan dan ancaman kelaparan masyarakat di kecamatan itu. (oma)
 
(Pos Kupang)

http://www.pos-kupang.com/getrss/viewrss.php?id=44410

Warga Dua Desa Di NTT Konsumsi Putak


Ditulis oleh Alex Dimoe  
Wednesday, 10 March 2010 19:27

Kupang, NTT Online - Akibat curah hujan yang tidak normal selama musim penghujan kali ini maka warga desa Polo dan desa Tuafanu Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi NTT saat ini telah mengkonsumsi Putak (Ampas Sari Enau, red) sebagai makanan kesehariannya untuk menyambung hidup sebab lumbung pangan mereka telah kosong.

Wakil Bupati TTS, Drs. Beny.A.Litelnoni mengatakan hal ini, Rabu (10/3) di Kupang.

Dikatakan, akibat hujan yang tidak tentu di jalur selatan yang meliputi 7 Kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan seperti Kecamatan Amanuban Selatan, Kecamatan Kualin, Kecamatan Kolbano, Kacamatan Oenino, Kecamatan Kuanfatu, Kecamatan Kotolin dan Kecamatan Noebeba maka dikuatirkan warga 7 Kecamatan tersebut terancam rawan pangan. Karena itu, untuk mengantisipasi kejadian tersebut maka Pemerintah Kabupaten TTS akan melakukan pendropingan beras.

"Pemda telah melakukan raskin secara khusus ke Desa-desa di pegunungan agar segera mengatasi kondisi yang sangat mengancam masyarakat itu. Hingga kini khusus 10 desa yang terancam rawan pangan telah di drop 18.050 ton beras raskin dari sisa stok tahun 2009 dan kini telah mencapai tahap ketiga. Sedangkan untuk tahun 2010 akan didroping lagi 100 ton beras untuk 10 desa yang benar-benar terancam dan hal itu permohonannya telah diberikan ke Pemerintah Provinsi," kata Litelnoni.

Selain melakukan pendropingan beras, lanjut dia, pihaknya berencana akan melaksanakan operasi air bersih melalui mobil tangki air sebanyak 3 unit setiap 3 hari sekali ke dua desa yang warganya telah makan putak guna mengatasi rawan pangan di wilayah itu.

"Untuk menyelamatkan warga, melalui Operasi air bersih melalui air tengki sebanyak tiga unit telah di turunkan ke lokasi, yang melayani masyarakat dari desa Pollo Kecamtan Amanuban Selatan Hingga desa Tuafanu, juga di desa Sopo, desa Niki-niki Un Kecamatan Oenino. Pelayanan air bersih ini dilakukan setiap tiga hari. Dalam pelayanan ini mobil yang diturunkan tidak saja melayani puskesmas- puskesmas yang ada di wilayah-wilayah itu tetapi juga warga," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, daerah yang rawan pangan tahun ini terjadi di dataran Bena yang disebabkan karena masyarakat menanam setelah musim tanam sehingga mengakibatkan tanaman padi yang ditanam tersebut mati.

Ditanya mengenai persediaan stok beras di daerah itu, dia mengatakan pihaknya saat ini telah meminta bantuan dari Pemprov NTT karena ketersediaan beras di TTS sangat menipis. Karena itu, dia telah meminta agar masyarakat dapat mencari pekerjaan sampingan di luar daerah sehingga bisa menghasilkan uang yang dapat dipakai untuk membeli makanan. Hal itu merupakan salah satu langkah untuk mengatasi rawan pangan di TTS. Disamping itu, Pemkab TTS akan mensosilisasikan kembali pendropingan pangan yang terfokus dan langsung menyentuh kebutuhan ketahanan pangan masyarakat dan menghimbau masyarakat supaya menyediakan bibit varietas unggul.
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 11 March 2010 21:18 )

http://www.nttonlinenews.com/ntt/index.php?option=com_content&view=article&id=6137%3Awarga-dua-desa-di-ntt-konsumsi-putak&catid=3%3Anewsflash&Itemid=50

Ribuan Warga di Sumba Timur Terancam Kelaparan


Jum'at, 19 Maret 2010

TEMPO/Arie Basuki

TEMPO Interaktif, Kupang - Ribuan warga di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terancam kelaparan. Hal itu terjadi akibat gagal panen yang melanda 121 desa di daerah tersebut.  "Ada 121 desa yang terancam rawan pangan karena gagal panen," kata Bupati Sumba Timur, Gideon Mblijora di Kupang, Jumat (19/3).

Masalah ancaman rawan pangan ini, menurut Gideon, sudah melanda Sumba Timur sejak akhir 2009 lalu. Kala itu, setelah dilakukan identifikasi, ditemukan terdapat sebanyak 35 desa yang terancam rawan pangan.

Sedangkan identifikasi pada tahun 2010, ia melanjutkan, terdapat 121 desa yang terancam rawan pangan. Bencana ini terjadi karena curah hujan di daerah tersebut sangat minim. "Hujan terakhir turun akhir Januari lalu, setelah itu tidak pernah turun lagi," kata Gideon.

Jika tak segera mendapat bantuan, rawan pangan di kabupeten tersebut akan berakibat terjadinya kelaparan bagi seribu lebih warga yang berada di 121 desa itu. "Sekitar seribu lebih warga yang terancam kelaparan di daerah itu," kata Gideon.

Untuk mengatasi masalah itu, katanya, pihaknya telah menyalurkan beras bantuan kepada warga sebanyak 100 ton yang dikelola pemerintah daerah. Selain itu, pihaknya juga akan memanfaatkan dana tak tersangka (DTT) sebesar Rp3 miliar untuk membantu masyarakat tersebut.

Tak hanya itu,  pihaknya juga telah meminta bantuan beras ke Gubernur NTT melalui Dinas Sosial Provinsi NTT sebanyak 800 ton dan 100 unit mesin pompa air. Pemerintah Sumba Timur juga meminta bantuan pompa air ke Kementrian Pertanian sebanyak 250 unit untuk membantu petani di Sumba. "Namun, semuanya belum terealisasi," kata Gideon.

Hambatan lain, ia melanjutkan, "Saya mendapat laporan dari Kapala Dinas Pertanian bahwa bantuan beras dari Pemprov NTT ditahan oleh Komisi D DPRD NTT. Komisi D minta penyalurannya dilakukan setelah pilkada."

YOHANES SEO

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/03/19/brk,20100319-233753,id.html

Sebanyak 91 Ribu Warga Nusa Tenggara Timur Terancam Kelaparan


Ditulis oleh Hans  
Monday, 29 March 2010

Kupang, NTT Online - Sebanyak 91 ribu penduduk di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), terancam kelaparan setelah daerah itu mengalami rawan pangan akibat gagal panen. "Sabu Raijua sudah dipastikan mengalami rawan pangan tahun ini, akibat gagal panen," kata Penjabat Bupati Sabu Raijua, Tobias Uly, di Kupang, Senin (29/3).

Menurut dia, rawan pangan yang dialami masyarakat Sabu Raijua ini disebakan curah hujan yang sangat sedikit. Hujan di Kabupaten itu pada bulan ini hanya empat kali, sehingga hampir seluruh tanaman masyarakat gagal.

Akibatnya, kondisi di masyarakat di kabupaten tersebut sudah sangat memprihatinkan, karena tanaman milik masyarakat, seperti jagung, kacang hijau, dan kacang tanah gagal panen.

Kejadian ini merata hampir di enam kecamatan di kabupaten tersebut. "Tanaman yang berhasil (panen) tidak mencapai 10 hektare. Itu pun hasilnya sangat minim," kata dia.

Karena itu, Tobias mengimbau masyarakat di Sabu untuk menghemat pangan dengan tidak menggelar pesta dan acara-acara adat. "Saya himbau agar acara adat ditunda hingga tahun depan baru digelar," kata dia.

Selain itu, hasil gula air yang dipakai masyarakat untuk bertahan hidup diharapkan tidak seluruhnya dijual ke luar pulau Sabu, tetapi disimpan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Sabu. "Biasanya gula Sabu dijual ke Pulau Sumba, namun saya minta dibatasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat disini," kata dia.

Untuk mengatasi masalah rawan pangan ini, tambah Tobias, pemerintah daerah akan menyalurkan beras miskin (Raskin) sebanyak 200 ton kepada masyarakat miskin di daerah itu. "Raskin mulai kita salurkan pada awal April 2010 ini," katanya.

Selain itu, pihaknya juga telah meminta bantuan beras pemerintah sebanyak 100 ton ke pemerintah provinsi serta dua ton beras bantuan dari dinas sosial. "Beras bantuan itu akan disalurkan, setelah penyaluran beras raskin," kata dia. tempointeraktif.com

http://www.nttonlinenews.com/ntt/index.php?option=com_content&view=article&id=6284%3Asebanyak-91-ribu-warga-nusa-tenggara-timur-terancam-kelaparan-&catid=35%3Aekonomi&Itemid=54

Krisis Pangan, Ratusan Keluarga di NTT Makan Pakan Ternak




Selasa, 30 Maret 2010
TEMPO Interaktif, Kupang - Ratusan kepala keluarga di Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebulan terakhir ini mulai mengkonsumsi putak (pakan ternak) karena mengalami rawan pangan akibat gagal panen.

Putak merupakan bahan makanan dari pohon lontar yang biasanya digunakan masyarakat sebagai pakan ternak. Akibat kekurangan pangan, masyarakat terpaksa makan makanan tersebut. Bagian tengah batang lontar yang biasa digunakan sebagai pakan ternak ini dijemur hingga kering lalu ditumbuk dan disaring, sebelum dimasak untuk dikonsumsi.

"Kita manfaatkan batang lontar sebagai jagung dan beras untuk bertahan hidup," kata warga Amanuban Selatan, Dominggus Oematan, di Kupang, Selasa (30/2).

Menurut dia, sekitar 500 dari 8.000 kepala keluarga di kecamatan itu yang mengkonsumsi putak, karena mengalami rawan pangan akibat gagal panen.

Dia mengatakan ribuan hektare tanaman jagung milik petani di kecamatan ini mati, karena kekeringan. Hal itu disebabkan tidak turunnya hujan, sehingga tanaman jagung milik masyarakat yang sedang berbunga tak sempat berbuah dan petani pun gagal panen.

Minimnya curah hujan pun mengakibatkan ribuan hektare sawah tak bisa digarap petani, karena kurangnnya ketersediaan air. "Kita tidak menggarap sawah dan lahan pertanian lainnya, karena tidak ada air yang mengairinya," kata dia.

Sementara itu, Staf Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Jemi Benu, mengatakan masyarakat di kecamatan mengkonsumsi putak sejak sebulan lalu. "Kita sudah mengajukan permohonan ke pemerintah daerah, namun hingga saat ini tidak ditanggapi," kata dia.

YOHANES SEO

Gizi Buruk dan Ironi Anggaran Daerah

Kompas, Selasa, 2 Maret 2010

Mata Hery (3) menatap kosong. Tulang-tulang tubuhnya menonjol dibalut kulit mengeriput. Jarum infus yang tertancap di lengan kanan diganjal papan kecil berbalut perban.

Pada Kamis (25/2) malam, genap tiga hari Hery dirawat di Ruang Anak Kelas III Catelya, RSU Undata, Palu, Sulawesi Tengah. Sudah delapan botol cairan infus dialirkan ke tubuhnya. Hery dirawat karena gizi buruk. Berat badannya hanya 7,8 kg dari seharusnya minimal 12 kg.

Sebelumnya, anak keempat pasangan Bahdini (60) dan Jumiati (40) ini hanya berobat jalan di Puskesmas Talise, Palu. Ia dirawat di RSU Undata berkat upaya Jaringan Rakyat Kecil (Jarak) Sulawesi Tengah, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang sosial.

"Kami menemukan tidak sengaja. Awalnya, kami mendampingi sepupunya yang juga menderita gizi buruk. Saat itu kami diberi tahu kondisi Hery. Karena kondisinya lebih parah, kami langsung membawanya ke Undata," kata Hasnah, anggota Jarak, yang mendampingi Hery.

Penghasilan Bahdini sebagai buruh bangunan hanya Rp 30.000 per hari. Dalam sebulan, paling banyak dua minggu ada pekerjaan. Artinya, penghasilan hanya Rp 420.000 per bulan.

"Jangankan berobat, untuk makan sehari-hari pun tidak cukup," kata Jumiati, yang sedang mengandung delapan bulan dan akan menjadi anak kelima.

Rumah Bahdini dan Jumiati berada di Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Timur, tak jauh dari Kampus Universitas Tadulako. Rumah bedeng berukuran 4 x 4 meter itu berdinding papan dan berlantai semen yang sebagian besar mengelupas.

Di rumah itu hanya ada sebuah dipan dengan kasur lusuh tanpa seprai. Tidak ada kursi dan peralatan elektronik. Aliran listrik dan air bersih didapat dari tetangga dengan membayar masing-masing Rp 15.000 per bulan.

Hingga November 2009, Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah mencatat sedikitnya 553 kasus gizi buruk. Urutan teratas ada di Kabupaten Sigi yang 182 kasus, lalu Donggala 46 kasus. Selebihnya menyebar di kabupaten lain, seperti Banggai, Banggai Kepulauan, Buol, termasuk Kota Palu. Angka itu belum termasuk yang tidak terlapor atau ditemukan. Berdasarkan data Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, prevalensi gizi buruk anak di bawah lima tahun (balita) di Sulteng 8,9 persen. Artinya, setiap 100 anak balita di Sulteng, 8-9 anak kena gizi buruk.

"Setelah menemukan angka gizi buruk yang cukup besar, kami melakukan dua upaya strategis, yakni melakukan upaya pencegahan dengan sosialisasi, penyuluhan kesehatan, dan pemberian pelayanan makanan bergizi kepada warga tak mampu melalui posyandu. Adapun penderita yang kondisinya parah, kami merujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Kami berharap, sedikit demi sedikit masalah gizi buruk bisa tertangani, minimal tidak bertambah banyak," kata Kepala Dinas Kesehatan Sigi dr Sofran Mailili.

Gizi buruk tak lepas dari kondisi kemiskinan di Sulteng. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sulteng, dari jumlah penduduk 2.438.373 jiwa tahun 2008, sebanyak 524.700 jiwa (20,75 persen) adalah penduduk miskin. Hingga Maret 2009, dari 2.480.264 jiwa, terdapat 18,98 persen penduduk miskin.

Alokasi anggaran untuk kesehatan masyarakat miskin pada 2009 sangat kecil dibandingkan dengan anggaran perjalanan dinas pegawai negeri. Tahun 2009, APBD Sulteng hanya menganggarkan Rp 3,2 miliar untuk program upaya kesehatan masyarakat. Untuk perbaikan gizi masyarakat, anggarannya hanya Rp 1 miliar. Program peningkatan kesehatan ibu dan anak dan kesehatan keluarga miskin masing-masing Rp 500 juta dan 1,7 miliar.

Sebaliknya, alokasi anggaran untuk perjalanan dinas pejabat sangat besar. Tahun 2009, biaya perjalanan dinas pejabat mencapai Rp 111 miliar. Anggaran itu belum terhitung biaya perjalanan dinas dalam Perubahan APBD 2009. Dari total anggaran P-ABBD Rp 32 miliar, Rp 10,53 miliar untuk perjalanan dinas. Anggaran untuk kantor pelayanan perizinan terpadu Rp 500 juta untuk belanja langsung. Dari anggaran itu, Rp 487,4 juta dialokasikan untuk perjalanan dinas. Dari Rp 600 juta anggaran untuk Badan Narkotika Provinsi, sebesar Rp 444 juta dianggarkan untuk perjalanan dinas. Komisi Penyiaran Independen Daerah mendapat biaya perjalanan Rp 341 juta dari anggaran Rp 500 juta.

Namun, hasil perjalanan dinas itu tidak tampak. Sulteng tetap masuk kategori daerah tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia.

(Reny Sri Ayu Taslim)

Sepuluh Balita Gizi Buruk Ditemukan di Lebak


Rabu, 3 Maret 2010 05:49 WIB
Lebak (ANTARA News) - Sepuluh balita penderita gizi buruk ditemukan di Kabupaten Lebak, Banten, tepatnya di Kecamatan Muncang dan saat ini sedang dipantau secara intensif berupa upaya peningkatan gizinya dengan pemberian makanan tambahan dan vitamin.

"Kesepuluh Balita gizi buruk itu setiap dua pekan diwajibkan ke klinik gizi Puskesmas untuk mendapatkan makanan tambahan dan pengobatan penyakit penyerta," kata dr Ira Triatma, petugas Puskesmas Muncang, Kabupaten Lebak, Selasa.

Ira mengatakan, sepuluh penderita gizi buruk tersebut diketahui para kader posyandu karena kategori di bawah garis merah (BGM) sesuai dengan panduan buku kartu menuju sehat (KMS) .

Ke-sepuluh penderita gizi buruk itu terus mendapatkan perawatan dan dipantau perkembangannya melalui klinik gizi.

Pihak Puskesmas akan memberikan asupan gizi berupa makanan dan vitamin hingga berat badannya meningkat.

"Kami selama ini memberikan makanan bergizi juga pengobatan penyakit penyerta bagi anak penderita gizi buruk," katanya.

Dia juga mengatakan, jumlah penderita gizi buruk di wilayah kerjanya kini seluruhnya 37 anak setelah ditemukan sepuluh penderita gizi buruk terbaru itu.

Sebelumnya, kata dia, penderita gizi buruk mencapai 80 sampai 100 anak.

Namun demikian, lanjut dia, setelah adanya klinik gizi kini jumlahnya makin berkurang.

Penderita gizi buruk setiap dua pekan rutin diwajibkan mendatangi puskesmas untuk mendapat perawatan dan dipantau kesehatan hingga dinyatakan sembuh.

Penyebab penderita gizi buruk, menurut dia, karena berbagai faktor antara lain faktor himpitan ekonomi sehingga mereka tak mampu memenuhi asupan gizi yang baik.

Selain itu, juga faktor rendahnya pendidikan kesehatan dan faktor budaya masyarakat seperti anak balita tidak boleh makan dengan ikan atau daging ayam.

"Saya kira faktor itulah yang menyebabkan anak menderita gizi buruk," katanya.

Di tempat terpisah, petugas gizi Puskesmas Muncang, Lilis, mengaku, belum lama ini seorang balita bernama Siti Aisyah (57 bulan) warga Desa Sukanegara, Kecamatan Muncang, dilaporkan meninggal dunia akibat menderita gizi buruk dan penyakit penyerta.

Dia menyebutkan, awalnya Siti Aisyah mengalami kejang-kejang dan demam tinggi dan petugas merujuknya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Adjidarmo Rangkasbitung untuk mendapat perawatan medis.

Penderita gizi buruk itu dirawat di rumah sakit hanya seminggu dan kembali ke rumah hingga meninggal dunia.

"Saya kira jika orangtuanya tidak pulang, tentu si anak itu bisa sembuh," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Tata Sudita, meminta para kader posyandu terus melakukan kegiatan penimbangan dan pemberian makanan tambahan untuk meningkatkan status gizi anak.

"Dengan aktifnya posyandu tentu sangat membantu petugas juga bisa menemukan kasus penderita gizi buruk baru," katanya.

http://www.antaranews.com/berita/1267570141/sepuluh-balita-gizi-buruk-ditemukan-di-lebak

Orangtua Balita Gizi Buruk Bingung Tebus Obat


Muhammad Hanapi



03/03/2010 06:44 | Gizi Buruk
Liputan6.com, Mandailing Natal: Kondisi Nurhabibah, penderita gizi buruk asal Desa Barbaran, Mandailing Natal, Sumatra Utara sudah mulai membaik, Selasa (2/3). Bocah berusia satu tahun itu, sudah mulai tersenyum dan tertawa setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Panyabungan. Berat badan Nurhabibah yang sebelumnya hanya enam kilogram di bawah berat normal seusianya kini bertambah menjadi 9 kilogram.

Namun dibalik keceriaan ini, sang ibu Fatimah bingung karena harus menebus resep dokter mulai dari pembelian infus, jarum suntik, sirup, dan susu. Padahal orangtua Nurhabibah tergolong orang miskin. Menurut Fatimah, pihak rumah sakit tidak mau menjaminnya sebagai pasien miskin sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan obat harus ditebus.

Fatimah menjelaskan, sudah dua hari Nurhabibah tidak minum susu dan obat karena tidak punya uang. Sementara bantuan uang dari anggota DPRD Mandailing Natal sudah habis untuk menebus obat [baca: Anggota DPRD Bawa Nurhabibah ke Rumah Sakit].(IAN)

http://kesehatan.liputan6.com/berita/201003/266185/Orangtua.Balita.Gizi.Buruk.Bingung.Tebus.Obat

Pasien Gizi Buruk di RSUD Makin Kritis


Kamis, 4 Maret 2010 07:31 WIB
Mamuju (ANTARA News) - Erwin (13), salah seorang paisen gisi buruk dari Buttuada, Kecamatan Bonehau, Mamuju, Sulbar kondisinya kian kritis, meski telah menjalani perawatan medis di RSUD Mamuju.

Sumarni orang tua korban di RSUD Mamuju, Rabu, mengatakan, kondisi putranya dari hari ke hari makin parah.

"Kondisi putra saya semakin tidak kondusif, selain badannya semakin mengecil perutnya pun juga kian buncit akibat anusnya yang sejak lahir tidak pernah berfungsi normal," tuturnya.

Ia mengatakan, sejak lahir, putranya telah menanggung beban derita karena mengalami kelainan usus pembuangan.

"Tidak berfungsinya usus pembuangan tersebut mengakibatkan kondisinya semakin buruk karena badannya makin mengecil dan perut semakin membuncit," ungkapnya.

Dikatakannya, berat badan Erwin juga tidak normal hanya sekitar 18 kilogram, padahal usia sebanya dapat hingga 25 kilogram.

Sumarni mengatakan, dirinya pernah melakukan operasi pada tahun 1999 lalu akibat adanya penyempitan saluran pembuangan, namun, hasil operasi tersebut nyaris tidak ada hasil yang memuaskan dan malah kondisi putranya saat ini bertambah parah.

"Setiap hari Erwin mengaku sesak dan tidak mau makan banyak untuk menghindari keinginan buang air besar karena jika makan berlebihan akan menimbulkan nyeri sakit diperutnya," ucap Sumarni.

Ia mengungkapkan, derita yang ditanggung putranya sejak lahir hanya dapat menghabiskan waktunya untuk berbaring dan duduk ditempat tidurnya.

"Anak saya tidak pernah merasakan dunia bebas seperti anak seusianya, bahkan anak saya tidak pernah duduk dibangku sekolah," kata dia.

Dikatakannya, ia membawa anaknya ke RSUD Mamuju karena khawatir melihat kondisi putranya yang kian memprihatinkan, meskipun dirinya tidak memiliki biaya untuk membayar biaya pengobatan selama menjalani perawatan di RSUD Mamuju.

"Saya hanya bisa pasrah, jika nantinya pihak RSUD memberikan beban biaya tinggi selama anak saya dirawat di RSUD ini," timpalnya. (ACO/K004)

http://www.antaranews.com/berita/1267662669/pasien-gizi-buruk-di-rsud-makin-kritis

Penderita Gizi Buruk di Ngawi Meningkat


Kamis, 04 Maret 2010 | 12:13 WIB

TEMPO Interaktif, Ngawi - Jumlah bayi dibawah lima tahun (balita) yang dinyatakan menderita gizi buruk di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, meningkat tajam.

Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Reni Indriani, mengatakan selama dua bulan terakhir sejak Januari-Februari 2010 ditemukan 344 kasus balita penderita gizi buruk. "Awal tahun ini memang meningkat tajam karena dinas kesehatan semakin gencar mensosialisasikan penyuluhan sehingga banyak masyarakat yang pro aktif memeriksakan anak-anaknya yang diduga memiliki gejala gizi buruk," ujar Reni, Kamis (4/3).

Kondisi ini berbeda jauh dengan tahun 2009. Selama tahun lalu ditemukan 386 kasus. Menurut dia, banyaknya balita yang menderita gizi buruk di Ngawi akibat beberapa faktor. "Misalnya terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang hidup sehat, sanitasi lingkungan, karena kemiskinan, dan sebagainya,"  kata Reni.

Berdasarkan pemeriksaan medis, beberapa kasus gizi buruk juga disertai dengan penyakit penyerta lainnya seperti gangguan pernapasan. "Jadi ada kalanya menderita penyakit penyerta terlebih dahulu lalu mengalami gizi buruk atau sebaliknya, karena gizi buruk akhirnya menyebabkan muncul penyakit penyerta," ujarnya.

Selain kekurangan vitamin dan gizi makanan, salah satu indikasi penderita gizi buruk bisa dilihat dari tidak seimbangnya berat badan dan usia balita.

Salah satu balita penderita gizi buruk, Rendy Prasetyo, misalnya. Balita yang berusia sepuluh bulan ini hanya memiliki berat badan 5,4 kilogram dari idealnya 9 kilogram. "Sudah tiga bulan ini berat badannya turun terus. Sempat saya bawa ke puskesmas," kata sang ibu, Kasmi, 45 tahun, warga Desa Kendung.

Kasmi mengaku kondisi ekonomi keluarganya yang hanya bekerja sebagai buruh tani tidak mencukupi kebutuhan gizi anaknya. Karena tergolong keluarga miskin, keluarga ini mendapatkan pelayanan gratis melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Hingga kini, Rendy dan puluhan balita penderita gizi buruk lainnya masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soeroto Ngawi. Sedangkan ratusan penderita gizi buruk lainnya masih dirawat di puskesmas-puskesmas yang ada di Ngawi.

ISHOMUDDIN

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/03/04/brk,20100304-229946,id.html

Erwin, Penderita Gizi Buruk Dikirim ke Makassar


Jumat, 5 Maret 2010
KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

MAMUJU, KOMPAS.com - Erwin, bocah 13 tahun penderita gizi buruk dan penyakit usus akhirnya meninggalkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mamuju, Sulawesi Barat untuk menjalani perawatan medis di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar, Sulawesi Selatan.

Tim medis RSUD Mamuju, dr Arif di Mamuju Jum'at (5/3/2010) mengatakan, selain menderita gizi buruk, pasien juga mengalami penyempitan urat pada usus sehingga mengakibatkan pasien sulit untuk melakukan buang air besar.

"Kami di RSUD Mamuju masih kesulitan untuk melakukan operasi karena kekurangan tenaga medis untuk menangani pasien tersebut, sehingga kami berpendapat untuk mendapatkan kesembuhan secara total, maka kami sarankan untuk dilakukan rujukan ke kota Makassar di RSUD Wahidin Sudirohusodo," katanya.

Ia mengatakan, penyakit yang diderita oleh Erwin, bukanlah hal yang baru pertama dijumpai, namun, penyakit seperti itu sebelumnya telah banyak ditangani dan berhasil disembuhkan secara maksimal.

"Jalan untuk merujuk ke Makassar adalah langkah alternatif untuk mendapatkan kesembuhan, namun begitu, saya tidak menjamin pasien bisa sembuh secara total," ucapnya.

Dikatakannya, pasien telah diberangkatkan sejak pagi tadi sekitar pukul 08.00 wita dengan menggunakan mobil ambulans dengan didampingi keluarga pasien dan pihak Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Mamuju, selaku donatur yang akan membantu pembiayaan pengobatan dan biaya operasi pasien selama berada di Makassar.

"Pihak Direksi BUMD juga turut mendampingi pasien ke Makassar bersama dengan orang tua pasien," tuturnya.

Direktur BUMD Mamuju, Benyamin Supamena mengatakan, pihaknya memberikan bantuan untuk meringankan beban biaya pasien miskin yang ada di wilayah Kecamatan Bonehau, Mamuju, sebagai bentuk komitmen perusahaan yang sedang menjalani proses tahap eksplorasi tambang Batubara.

"Yang jelas, kami siap membantu segala bentuk pembiayaan oleh pasien selama menjalani perawatan medis di Makassar," tuturnya.

Sebelumnya, Sumarni (35 thn) orang tua korban yang juga turut mendampingi putranya ke Makassar mengatakan, kondisi putranya dari hari ke hari makin parah akibat saluran pembuangan menyempit sejak lahir.

"Kondisi putra saya semakin tidak kondusif, selain badannya semakin mengecil perutnya pun juga kian buncit akibat anusnya yang sejak lahir tidak pernah berfungsi normal," tuturnya.

Ia mengatakan, sejak lahir pada 13 tahun lalu, putranya telah menanggung beban derita karena mengalami kelainan usus pembuangan.

"Tidak berfungsinya usus pembuangan tersebut mengakibatkan kondisinya semakin buruk karena badannya makin mengecil dan perut semakin membuncit," ungkapnya.

Dikatakannya, berat badan Erwin yang kini berusia 13 tahun juga tidak normal yang hanya memiliki berat badan sekitar 18 kilogram, padahal usia sebayanya dapat hingga 25 kilogram.

Sumarni mengatakan, dirinya pernah melakukan operasi pada tahun 1999 lalu akibat adanya penyempitan saluran pembuangan, namun, hasil operasi tersebut nyaris tidak ada yang memuaskan dan malah kondisi putranya saat ini bertambah parah.

"Setiap hari Erwin mengaku sesak dan tidak mau makan banyak untuk menghindari keinginan buang air besar karena jika makan berlebihan akan menimbulkan nyeri dan sakit diperutnya," ucap Sumarni.


http://regional.kompas.com/read/2010/03/05/21254196/Erwin..Penderita.Gizi.Buruk.Dikirim.ke.Makassar

Puluhan Ribu Balita di Jawa Barat Bergizi Buruk


Jum'at, 05 Maret 2010

TEMPO Interaktif, BANDUNG - Provinsi Jawa Barat masih belum terlepas dari kasus gizi buruk pada anak berusia dibawah 5 tahun (balita). Sampai saat ini, kasusnya mencapai 31 ribu anak dari 5 juta lebih balita di Jawa Barat.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Alma Lucyati, kasus gizi buruk terbanyak ditemukan di Kabupaten Cirebon. Penyebabnya antara lain karena faktor kemiskinan, pendidikan rendah orang tua, dan budaya. "Masih sering kita dengar, jangan makan ikan karena nanti jadi cacingan," katanya, Jumat (5/3).

Selain itu, ujar dia, anak bergizi buruk tak cuma ditemukan pada keluarga miskin. Anak orang berduit pun diketahui ada yang bergizi buruk karena salah pola makan atau lebih suka jajan. "Masih banyak juga orang tua yang kasih makan anaknya asal kenyang," ujarnya.

Akibatnya, anak bergizi buruk menjadi mudah sakit dan kekurangan berat badan. Untuk mengatasi masalah itu, Dinas Kesehatan mulai Maret-April mendatang akan mengerahkan kader kesehatan dan petugas Puskesmas. Selain memetakan kasus di daerah, mereka diminta mendampingi para ibu agar anaknya terbebas dari gizi buruk.

Dinas Kesehatan dan sejumlah instansi terkait juga akan memberikan bantuan seperti makanan tambahan, pelatihan menanam tanaman konsumsi di sekitar rumah, atau beternak ikan. Ibu-ibu PKK, kata dia, juga siap dikerahkan oleh Ibu Gubernur Jawa Barat.

"Kita juga ingin memastikan beras raskin sampai ke keluarga gizi buruk," ujarnya. Tahun ini, program pendampingan itu akan dimulai di 8 desa yang tersebar di Kabupaten Bandung, Bogor, dan Karawang.

ANWAR SISWADI


http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/03/05/brk,20100305-230477,id.html

Tren Gizi Buruk Mulai Menimpa Keluarga Berkecukupan




Purworejo, CyberNews. Kasus gizi buruk yang dialami balita ternyata tidak hanya menjangkiti kalangan keluarga kurang mampu saja. Belakangan ini muncul tren gizi buruk juga bisa menimpa balita dari kalangan keluarga yang berkecukupan. Kenyataan itu menunjukkan gizi buruk tidak semata-mata disebabkan kekurangan asupan gizi saja, tapi juga ada faktor lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purworejo dr Kuswantoro, Rabu (10/3), melalui Kabid Kesehatan Keluarga Mudjiani mengungkapkan, faktor penyakit bawaan yang menjangkit sejak lahir juga bisa mengakibatkan balita mengalami gizi buruk dan berbadan kurus. Lebih lanjut dijelaskan, pola asuh juga sangat mempengarui pola perkembangan dan asupan gizi dari balita.

"Ada juga dari keluarga yang secara ekonomi mampu tapi pola asuhnya jelek. Misalnya kedua orang tua sibuk bekerja, si anak kurang mendapat perhatian termasuk kebutuhan gizinya," jelasnya.

Meski demikian, persentase penderita gizi buruk dari kaluarga miskin masih yang terbesar. Berdasarkan data, balita gizi buruk dari keluarga non gakin sebanyak 62 anak bahkan kualifikasi balita tersebut masuk kategori kurus sekali. Kendati tidak banyak namun hal ini menunjukkan tren baru.

Ditanya keseluruhan penderita gizi buruk yang terdata Dinkes, Mudjiani mengungkapkan, hingga akhir tahun 2009 sedikitnya 435 balita terkena gizi buruk. Data itu menunjukkan kasus gizi buruk di Kabupaten Purworejo masih membutuhkan perhatian serius.

Pendataan gizi buruk, katanya, di dasarkan dari laporan posyandu. Balita dengan perhitungan berat badan dibanding umur maupun tinggi badan yang tidak ideal akan dilaporkan ke Puskesmas. Dari puskesmas diverifikasi lagi untuk kemudian dilaporkan ke Dinkes.

Selanjutnya, Dinkes menindaklanjuti untuk penangann labih lanjut. Yakni dengan pemberian makanan tambahan (PMT). Program tersebut diberikan khusus bagi balita gizi buruk dari keluarga miskin selama 90 hari berturut-turut meliputi pemberian susu plus makanan bergizi.

Dijelaskan Mudjiani, indikator penentuan gizi buruk dilihat dari berat badan dibanding umur dan berat badan di banding tinggi badan. Untuk balita penderita mengarah ke kekurusan akut, penderita marasmus dan kwharsiorkor dirujuk ke rumah sakit untuk dirawat.

( Nur Kholiq / CN16 )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/03/10/48937

Rumah Gizi Rawat Gratis Penderita Gizi Buruk


Rumah Gizi Rawat Gratis Penderita Gizi Buruk 
Fery Aditri

10/03/2010 23:41 | Gizi Buruk
Liputan6.com, Yogyakarta: Pemerintah Kota Yogyakarta membuka sebuah lembaga pelayanan kesehatan bernama Rumah Gizi untuk mengatasi berbagai kasus gizi buruk pada balita atau bawah lima tahun. Rumah Gizi yang belum lama ini mulai beroperasi menyediakan sejumlah pelayanan seperti ruang konsultasi gizi. Di sana para orang tua akan mendapat informasi dan pengetahuan soal makanan bergizi dengan harga murah.

Terdapat pula ruang pemeriksaan kesehatan dan gizi serta ruang perawatan bagi balita yang mengalami gizi buruk. Di ruang perawatan ini pasien ditampung dan diberi asupan makanan hingga gizinya tercukupi.

Meski belum lama dibuka, masyarakat sudah merasakan manfaat Rumah Gizi. Clara, bocah berusia 55 bulan ini hanya berbobot 10,2 kilogram saat datang pertama kali ke Rumah Gizi. Berat ini di bawah berat normal anak seusianya, yaitu sekitar 15 kilogram. Namun hingga Rabu (10/3), beratnya berangsur naik mendekati normal.

Orangtua Clara mengaku senang karena kondisi anaknya mulai membaik. Mereka juga berterima kasih karena seluruh pelayanan dan perawatan di Rumah Gizi ini gratis. Bahkan, pasien malah diberi uang Rp 10 ribu untuk ongkos pulang. Sejak pertama kali dibuka, Rumah Gizi telah merawat delapan balita penderita gizi buruk.(WIL/ANS)

http://kesehatan.liputan6.com/berita/201003/267328/Rumah.Gizi.Rawat.Gratis.Penderita.Gizi.Buruk