28 Januari 2009

Diduga karena Petasan, 200 Rumah di Pasar Baru Terbakar

Senin, 26 Januari 2009 | 12:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sekitar 200 rumah di wilayah RW 04 Kelurahan Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, terbakar Minggu (25/1) malam kemarin. Diduga kuat api berasal dari petasan yang dibakar warga.

Informasi dari Suku Dinas Kebakaran Jakarta Pusat menyebut, api muncul pertama kali sekitar pukul 21.25 WIB, di wilayah Pasar Baru Timur Dalam RW 04. Menurut Kepala Suku Dinas Kebakaran Jakarta Pusat, Susilo Budi, sumber api ditengarai berasal dari sebuah rumah di wilayah RT 09.

"Api menyambar bangunan lain begitu cepat karena pemukiman padat dan banyak bangunan semi permanen," kata Budi kepada TEMPO, Senin (26/01). Saking cepatnya, rambatan api menurut Budi sampai menghanguskan 150 rumah dalam waktu 1 jam. Sebanyak 26 mobil unit pemadam kebakaran pun dikerahkan untuk menjinakkan api. 

Budi menambahkan api baru berhasil dijinakkan sekitar pukul 00.15 WIB. Setelah dihitung, total 200 rumah yang dihuni lebih dari 500 warga hangus terbakar. "Kerugiannya ditaksir mencapai Rp 2 miliar, berupa harta benda dan bangunan," ujar Budi.

Setelah diteliti, petugas pemadam kebakaran dan tim identifikasi polisi menemukan ceceran petasan di sekitar lokasi. Budi menduga api muncul akibat petasan yang dimainkan warga saat perayaan tahun baru Imlek.

"Saking banyaknya warga yang main petasan, kami agak kesulitan menemukan rumah yang menjadi sumber munculnya api." keluh Budi. 

FERY FIRMANSYAH


Link: http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/01/26/brk,20090126-156925,id.html


Bogor Tambah Anggaran Penertiban Vila di Puncak

Senin, 26 Januari 2009 | 14:15 WIB

TEMPO Interaktif, Bogor: Pemerintah Kabupaten Bogor menambah anggaran senilai Rp 183 juta untuk penertiban vila di kawasan Puncak, Jawa Barat. Total anggaran penertiban kawasan puncak tahun ini mencapai Rp 300 juta. Hal tersebut di sampaikan Kepala Dinas Tata Bangunan dan Perumahan Kabupaten Bogor, Mas'an Djajuli, Senin (26/1).

Mas'an yang menghubungi melalui telepon selulernya menyatakan awalnya anggaran pernertiban kawasan Puncak senilai Rp 116.920.000. Jumlah tersebut dianggap terlalu kecil. 

"Sudah dari dulu saya sampaikan bahwa anggaran untuk penertiban terlalu kecil, bahkan saya hampir tidak percaya ketika mengetahui nilai anggaran penertiban di puncak hanya Rp116 juta," kata Mas'an. Namun, Mas'an tidak mengungkapkan berapa besar anggaran ideal untuk penertiban villa di kawasan Puncak.

Sementara itu, Komandan Satuan Polisi Pamong Praja Herry Herawan ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa anggaran untuk penertiban kawasan puncak pada 2009 sebesar Rp 116 juta. Padahal untuk setiap kali penertiban saja, kata Herry, mereka membutuhkan dana Rp 50 juta.

"Selama setahun kemarin, kita melakukan 2 kali penertiban. Setiap penertiban sedikitnya membutuhkan dana Rp 50 juta," kata Herry.

Pada saat melakukan penertiban, kata Herry, melibatkan kurang lebih 200 personel dari instansi terkait, serta menggunakan sejumlah alat berat seperti ekskapator dan buldoser. "Terlalu kecil anggaran yang disiapkan untuk penertiban kawasan puncak, kata Herry. 

DIKI SUDRAJAT

Link: http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/01/26/brk,20090126-156935,id.html

Umi Saodah Tiba di Bandara Soekano-Hatta

Selasa, 27 Januari 2009 | 17:14 WIB

TEMPO Interaktif, Tangerang: Umi Saodah, tenaga kerja Indonesia yang terjebak di Jalur Gaza, Palestina, selama 22 hari, akhirnya pulang ke tanah air. Umi tiba di Bandara Soekarno-Hatta dengan penerbangan Etihad Airways EY-472 pada Selasa (27/1) pukul 13.30.

Umi tidak lama berada di bandara. Setelah turun dari pesawat, menurut petugas Imigrasi Joko, Umi melaporkan kedatangannya ke counter Imigrasi di Terminal 2 F dan bersama rombongan dari Deplu dan ibunya, Katinem, menuju kantor Departemen Luar Negeri di Jakarta.

Umi keluar tidak melalui pintu keluar semestinya di terminal kedatangan, namun ia keluar dari lobi dalam dan menuju lantai dua di terminal keberangkatan.

Tak ada keterangan apa pun dari mulut Umi. Warga Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu hanya mengatakan dalam kondisi baik dengan suara bergetar ketika wartawan bertanya. Tampak sesekali ia mengusap hidungnya dengan telapak tangan.

Umi langsung masuk mobil Innova warna hitam dan meluncur ke Jakarta. Ia tiba dengan pakaian jas hitam dan kerudung warna ungu polos.

AYU CIPTA

Link: http://www.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2009/01/27/brk,20090127-157113,id.html

Umi Saodah Tiba di Bandara Soekano-Hatta

Selasa, 27 Januari 2009 | 17:14 WIB

TEMPO Interaktif, Tangerang: Umi Saodah, tenaga kerja Indonesia yang terjebak di Jalur Gaza, Palestina, selama 22 hari, akhirnya pulang ke tanah air. Umi tiba di Bandara Soekarno-Hatta dengan penerbangan Etihad Airways EY-472 pada Selasa (27/1) pukul 13.30.

Umi tidak lama berada di bandara. Setelah turun dari pesawat, menurut petugas Imigrasi Joko, Umi melaporkan kedatangannya ke counter Imigrasi di Terminal 2 F dan bersama rombongan dari Deplu dan ibunya, Katinem, menuju kantor Departemen Luar Negeri di Jakarta.

Umi keluar tidak melalui pintu keluar semestinya di terminal kedatangan, namun ia keluar dari lobi dalam dan menuju lantai dua di terminal keberangkatan.

Tak ada keterangan apa pun dari mulut Umi. Warga Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu hanya mengatakan dalam kondisi baik dengan suara bergetar ketika wartawan bertanya. Tampak sesekali ia mengusap hidungnya dengan telapak tangan.

Umi langsung masuk mobil Innova warna hitam dan meluncur ke Jakarta. Ia tiba dengan pakaian jas hitam dan kerudung warna ungu polos.

AYU CIPTA

Link: http://www.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2009/01/27/brk,20090127-157113,id.html

Pedagang Koja Tolak Pembongkaran

Rabu, 28 Januari 2009 | 13:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Para pedagang Pasar Koja Baru, Jakarta Utara mengecam aksi pembongkaran paksa oleh aparat gabungan yang dikoordinir PD Pasar Jaya. Mereka mengklaim belum ada kesepakatan harga kios baru yang kelak akan dibangun.

"Belum ada titik temu sampai sekarang," kata Bernard, salah seorang pedagang dengan suara setengah teriak, di Pasa Koja Baru, Jakarta, Rabu (28/1). "Ini gak ada SK Gubernur. Ini namanya pembongkaran paksa," imbuh pria bertubuh gemuk itu.

Menurut Bernard, harga kios baru yang ditawarkan PD Pasar Jaya adalah Rp 30 juta per meter persegi. Harga itu dinilai terlalu mahal dan para pedagang tidak mampu membayarnya. "Kami mintanya Rp 10 juta," kata dia.

Keberatan warga itu dibantah oleh Humas PD Pasar Jaya, Nur Havidz. Menurut dia, pembongkaran ini sudah sesuai prosedur. Pemberitahuan ketiga yang memberi waktu 1 X 24 jam sudah dilayangkan pada 19 Januari lalu. "Ini bagian dari rencana peremajaan Pasar Koja. Seharusnya dari awal Desember sudah dilakukan," kata Havidz.

Havidz mengklaim, sekitar 93 persen dari total 800 pedagang sudah menyetujui pemindahan dan menandatangani perjanjian. "Yang bertahan cuma 50 pedagang," ujarnya. 

Ia membantah pernyataan soal mahalnya harga kios baru. Menurut Havidz, kios baru ditawarkan seharga Rp 12,5 juta hingga Rp 22 juta per meter persegi. "Pedagang hanya perlu membayar uang muka 20 persen. Sisanya bisa dicicil," imbuhnya.

Aksi pembongkaran yang dimulai pukul 09.00 WIB sempat mendapat perlawanan dari pedagang. Tapi karena kalah jumlah dan kekuatan, perlawanan pedagang berhasil dipatahkan. Beberapa pedagang mengalami luka ringan akibat aksi saling pukul dengan aparat satuan polisi pamong praja.

TITO SIANIPAR

Link: http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2009/01/28/brk,20090128-157224,id.html

Ogah Digusur, Pedagang Koja Siap Melawan

Rabu, 28 Januari 2009 | 09:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pedagang Pasar Koja Baru, Jakarta Utara, siap melakukan perlawanan terhadap rencana penggusuran. "Kami stand by (siap sedia) dan tetap berdagang seperti biasa," kata Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Koja Baru, Lamhot Siboro, melalui sambungan telepon di Jakarta, Rabu (28/1).

Menurut Lamhhot, surat peringatan terakhir yang diterima para pedagang perihal rencana penggusuran tertanggal 19 Januari lalu. "Itu memang sudah peringatan ketiga," ucap dia. Pedagang, kata Lamhot, memilih tetap melawan karena menilai harga yang ditawarkan Perusahaan Daerah Pasar Jaya tidak terjangkau oleh pedagang.

Lantai atas bentuk los ditawarkan dengan harga berkisar Rp 13,7 juta sampai Rp 20 juta per meter. Sementara lantai bawah dalam bentuk kios harga yang ditawarkan Rp 25 juta sampai Rp 30 juta per meter. "Itu akan mematikan pedagang," tutur dia, mengimbuhkan.

Selain masalah harga, pihak pedagang juga menuntut adanya perundingan mengenai bentuk bangunan. Mereka khawatir bentuk bangunan yang baru tidak sesuai. "Pembeli jadi susah masuk (ke dalam pasar)," tutur dia, berkilah.

TITO SIANIPAR


Link: http://www.tempointeraktif.com/hg/tata_kota/2009/01/28/brk,20090128-157181,id.html


Satu Pengemis Setor Rp350 Ribu

 
Jum'at, 23 Januari 2009 , 08:19:00

PONTIANAK – Sindikat pengemis yang dipasok dari luar Kalimantan terbongkar. Salah satu rumah di Jalan Hijas blok A digrebek Satuan Reskrim Poltabes Pontianak, Rabu (21/1) malam. Sebanyak 30 orang yang setiap harinya meminta-minta di sekitar Kota Pontianak berada di rumah tersebut. Tiga orang diantaranya pemilik rumah diboyong ke Poltabes. Setelah melakukan penyelidikan tentang adanya pengemis yang sengaja dipasok dari luar Kalimantan, polisi lantas melakukan penggerebekan di rumah no 80 RT 04 RW 06 Kelurahan Benua Melayu Darat. Hasilnya, sebanyak 30 pengemis berada di rumah tersebut. Sebagian besar dari mereka mengalami cacat fisik.

Polisi hanya membawa pemilik rumah Liham dan istrinya Masidah beserta Maski saudara sepupu Liham. Mereka diduga kuat sebagai pemasok 30 pengemis dari pulau jawa tersebut.  Kasat Reskrim Poltabes Pontianak AKP Sunario mengatakan, pihaknya melakukan penyelidikan dan penggerebekan berawal adanya laporan masyarakat. Dari pemeriksaan sementara 30 pengemis yang ada di rumah Liham sengaja didatangkan dari Jawa, sebagian besar berasal dari Pulau Madura. "Kita juga melihat aktivitas mereka yang meminta-minta. Setelah diselidiki, memang mereka terorganisir dan sengaja dipasok ke Pontianak," jelasnya.

Para pengemis ini, kata dia, dipungut setoran oleh pemasok. Setiap bulannya mereka dibebankan membayar Rp50 ribu kepada pemilik rumah. Sedangkan, setiap harinya masing-masing menyetor uang sebesar Rp 10 ribu. Sehingga tiap bulan pengemis menyetor Rp350 ribu kepada penampung. "Pengemis ini juga harus menyetor hasil meminta-minta kepada pemasok," ucap Sunario yang juga mantan Kasat Restik Poltabes Pontianak ini.  Kasat melanjutkan, untuk sementara hanya tiga orang yang diduga kuat sebagai pemasok pengemis ditahan. Tidak menutup kemungkinan akan ada lagi tersangka lain sesuai hasil pemeriksaan. Bagi pengemis yang cacat fisik, ungkapnya, akan dikoordinasikan kepada Dinas Sosial. "Apakah dibina atau dipulangkan ke kampung halamannya. Kita akan koordinasikan kepada instansi terkait," paparnya.

Ketua RT setempat Samsoni mengutarakan, dirinya tidak tahu ada warganya yang memasok pengemis. Menurut pendataan, di rumah Liham hanya ada enam orang, termasuk mertuanya. Liham tinggal di rumah tersebut, lanjutnya, sudah dua tahun. Pekerjaan Liham diketahui Samsoni sebagai tukang ojek. Sementara istrinya Masidah sehari-harinya bekerja sebagai tukang masak. "Mengenai puluhan pengemis di rumah itu saya tidak tahu. Data saya juga sama dengan kelurahan," katanya.  Maski saudara sepupu Liham, mengungkapkan, dirinya baru sebulan di Pontianak dari Madura. Datang ke Pontianak ia memang bekerja sebagai peminta-minta. Namun, katanya, tidak ada paksaan dari Liham agar dirinya melakukan hal demikian. "Saya tidak tahu dengan yang lain. Baru sebulan saya di Pontianak," ujarnya. (hen)

Link: http://www.pontianakpost.com/?mib=berita.detail&id=13490

Krisis Pangan Dunia Bayangi Ekspektasi Inflasi

Kamis, 25 September 2008 , 07:09:00

PONTIANAK – Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura, Anwar Azazi mengatakan krisis pangan dunia akan membayangi ekspektasi inflasi. Menurutnya, di Indonesia tingkat inflasi diperkirakan mencapai 11,5 persen (y-o-y). "Kondisi ini terjadi karena penurunan produksi pertanian di sebagian negara menimbulkan kekhawatiran baru mengenai tingkat inflasi global meningkat. Jika berlanjut, akan terjadi kontraksi ekonomi," katanya kemarin.

Azazi menyebutkan, dampak inflasi global yang berkepanjangan mengakibatkan tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan di dunia ketiga seperti Indonesia. Dosen Magister Manajemen Untan ini mengungkapkan, Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI) di Manila minggu lalu mengekspos penurunan produktivitas pertanian dan meningkatnya permintaan membuat persediaan bahan makanan dunia berada dalam persimpangan.


"Sekarang tingkat pertumbuhan panen padi tahunan turun menjadi kurang dari 1 persen beberapa tahun belakangan. Dibandingkan periode 1969-1990 mencapai angka 2,3 persen," ungkap Azazi.Lebih lanjut, ia mengatakan berdasarkan proyeksi penghasilan dan pertumbuhan populasi, produktivitas tahunan sebesar kira-kira 1,5 persen diperlukan setidaknya sampai tahun 2020. Menurutnya, peringatan IRRI dikuatkan laporan UN FAO (United Nations Food and Agricultural Organization). "Harga pangan dunia tinggi berdampak jumlah orang kelaparan dari 75 juta orang menjadi 925 juta jiwa. Nilai level kemiskinan telah didefenisikan kembali ADB, sebelumnya berada pada US$1/hari menjadi US$1,35/hari," paparnya.


Azazi menjelaskan bila angka kemiskinan diukur di Indonesia pendapatan per hari sebesar Rp5.000, saat ini penduduk miskin mencapai 37,2 juta jiwa. Uang yang diperoleh itu digunakan membeli pangan dan sandang. "Bila mengikuti defenisi ADB, jumlah orang miskin di Indonesia lebih banyak. Besarnya jumlah penduduk kurang mampu berimplikasi pertumbuhan ekonomi berjalan lamban," tuturnya. (riq)


Link: http://www.pontianakpost.com/?mib=berita.detail&id=6689


Jumlah TKI Bertambah, DPT Luar Negeri Malah Susut

Rabu, 28 Januari 2009 - 09:18 wib

Syukri Rahmatullah - Okezone
JAKARTA - Aneh tapi nyata. Begitulah gambaran data daftar pemilih tetap (DPT) untuk daerah pemilihan luar negeri. Jumlah TKI terus bertambah dalam lima tahun terakhir, namun hal ini tidak membuat DPT bertambah, sebaliknya malah berkurang.

Dalam Pemilu 2004, tercatat ada 1,9 juta TKI yang berhak memilih. Namun jumlah itu turun menjadi 1,4 juta pada Pemilu 2009.

"Ini tidak masuk akal karena jumlah TKI makin besar," ujar Analis Kebijakan Migrant Care Wahyu Susilo kepada okezone di Jakarta, Rabu (28/1/2009).

Dia mencontohkan, pada 2004 tercatat sekira 600 ribu TKI yang tersebar di berbagai negara. Setiap tahunnya terdapat 500 ribu TKI baru yang diberangkatkan secara resmi, sehingga semestinya terdapat sekira 2-2,5 juta TKI.

"Itu belum ditambah para TKI ilegal dan mahasiswa yang belajar di luar negeri," terangnya.

Untuk Pemilu 2009, Wahyu menyebutkan DPT yang ada jauh dari Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP-4). Dari 6 juta TKI yang terdaftar, hanya 1,4 juta yang masuk dalam DPT.

(ful)
Link: http://pemilu.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/28/267/186920/jumlah-tki-bertambah-dpt-luar-negeri-malah-susut



Umi Saodah Pulang

27/01/2009 18:44 - Kasus TKI

Liputan6.com, Tangerang:
Kisah pilu Umi Saodah, tenaga kerja Indonesia yang terjebak di Gaza saat agresi militer Israel, berakhir sudah. TKI yang sempat dipenjara lima bulan karena dituduh mencuri itu telah kembali ke Tanah Air. Umi tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (27/1) siang.

Berkali-kali, Umi menyeka air mata. Dari bandara, Umi berangkat menuju Kantor Departemen Luar Negeri untuk bertemu dengan sang bunda yang telah menunggu. Tangis haru tak tertahankan saat anak dan ibu yang sudah delam tahun terpisah itu bertemu. Umi yang berencana kembali ke rumahnya di Jawa Tengah.

Umi pernah menuturkan berangkat ke Palestina bersama 14 temannya. Mereka diberangkatkan oleh Pengerah Jasa TKI Amira Prima. Tapi saat alamatnya ditelusuri, tak ditemukan lagi jejak PJTKI itu. Sampai kini belum ada informasi apapun mengenai warga negara Indonesia yang disebut Umi.(TOZ/Abdul Rosyid)

Link: http://www.liputan6.com/news/?id=172020&c_id=3