28 Januari 2009

Jakarta to tear down Koja Baru market today

The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Wed, 01/28/2009 9:37 AM  |  Jakarta

The Jakarta administration deployed hundreds of public order officers and two excavators to tear down Koja Baru market in North Jakarta on Wednesday, tempointeraktif.com reported.

The officers have been seen gathering around the market, apparently trying to surround the main building.

Market vendors, who have rejected the renovation plan favored by city-owned market operator PD Pasar Jaya, said they were ready to fight the officers.

"We are on stand by and we are still doing business," Lamhot Siboro, head of the market's vendors association, said.

Vendors have demanded the operator postpone renovations for up to five years, cancel plans for a multi-storey building and renegotiate the price of units, set to go into effect after renovations are completed.

For several years, conflict has arisen between market operators and vendors concerning renovation plans for several city markets, including Blok M market in South Jakarta, Tanah Abang market in Central Jakarta and Rawa Bening market in East Jakarta. (dre)

Link: http://www.thejakartapost.com/news/2009/01/28/jakarta-tear-down-koja-baru-market-today.html

Disnaker Sumut Siapkan Program Pelatihan Tenaga Kerja

Sel, Jan 27, 2009


Medan ( Berita ) : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumut menyiapkan beberapa program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas tenaga kerja di daerah itu.



Kepala Disnakertrans Sumut, Rapotan Tambunan di Medan, Selasa [27/01], mengatakan, program pertama adalah dengan memfungsikan Balai Latihan Kerja (BLK) milik Disnakertrans Sumut yang berjumlah sembilan unit.


Di tempat tersebut calon tenaga kerja akan diberikan pelatihan sesuai dengan keahlian kerja yang dibutuhkan. Pelatihan juga akan diberikan di BLK-BLK daerah yang dikelola Disnakertrans kabupaten/kota di Sumut.


Kemudian, pelatihan juga dilakukan melalui kerja sama dengan Balai Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Sumut, khususnya tenaga kerja yang akan diberangkatkan ke luar negeri.


Pihaknya juga melakukan kerjasama dengan lembaga pelatihan tenaga kerja Jepang dan Malaysia terkait pengiriman calon tenaga kerja ke negara itu yang telah dirintis sejak lama. Selama ini, kata Tambunan, Disnakertrans Sumut telah mengirimkan calon tenaga kerja ke Jepang setiap tahun yang jumlahnya bervariasi.


Disnakertrans Sumut akan mengupayakan agar pengiriman itu dapat dilakukan empat kali dalam setahun, katanya tanpa menyebutkan nama lembaga tenaga kerja Jepang itu. ( ant )


Link: http://beritasore.com/2009/01/27/disnaker-sumut-siapkan-program-pelatihan-tenaga-kerja/


Deplu Duga Umi Saodah TKI Ilegal

Selasa, 27/01/2009 17:16 WIB

Didi Syafirdi - detikNews

Jakarta - Umi Saodah telah bekerja di Palestina selama lebih dari 8 tahun. Departemen Luar Negeri menduga, Umi berangkat ke luar negeri secara ilegal.

"Tampaknya ilegal karena tujuan akhirnya itu ke Palestina. Yang jelas, dalam UU Tenaga Kerja, negara konflik itu bukanlah penempatan TKI," kata Direktur Perlindungan TKI Deplu Teguh Wardoyo.

Hal itu disampaikan dia dalam konferensi pers kedatangan Umi Saodah di Indonesia di kantornya, Jalan Pejambon, Jakarta, Selasa (27/1/2009).

Untuk itu, Deplu akan meminta Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengecek kebenaran status Umi Saodah. "Ini bukan wewenang Deplu, yang mengecek itu Depnakertrans dan polisi. Kita akan telusuri tentang keberangkatan Umi," lanjut Teguh.

Berdasarkan keterangan Umi, perempuan asal Semarang itu berangkat ke Palestina pada tahun 2000. Saat itu, Umi diberangkatkan oleh PT Amira Prima.

Sebelum berangkat, Umi mengaku tidak tahu sama sekali akan dibawa ke mana. Umi tahu dirinya akan diterbangkan ke Palestina setelah berangkat.
(ken/nrl)

Link: http://www.detiknews.com/read/2009/01/27/171636/1075070/10/deplu-duga-umi-saodah-tki-ilegal

Umi Saodah: Jangan Ke Palestina

Selasa, 27/01/2009 18:44 WIB

Didi Syafirdi - detikNews

akarta - Bekerja di negara konflik, membuat Umi Saodah trauma. Dia mewanti rekan-rekannya sesama TKI dan calon TKW, agar menolak tawaran kerja di negara yang sedang dilanda perang, terutama Palestina.

"Jangan pergi ke Palestina, tempat itu bukan tempat untuk bekerja," ujar Umi dalam konprensi pers di Departemen Luar Negeri, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2009).

Selama dia bekerja di Palestina, kontak senjata dengan militer Israel berlangsung tanpa hentinya. Tidak hanya di jalur Gaza, tapi nyaris tanpa henti di seluruh penjuru Palestina.

Kepada perusahaan-perusahaan penyalur TKI, Umi meminta tidak menawarkan lowongan kerja di negara konflik. Sebaliknya, TKW juga harus berhati-hati dan mencermati benar setiap tawaran kerja di luar negeri.

"Dimana saja, kapan saja ada perang," imbuh Umi yang mengaku saat diberangkatkan tidak tahu tentang situasi di Palestina.

(did/lh)

Link: http://www.detiknews.com/read/2009/01/27/184423/1075144/10/umi-saodah:-jangan-ke-palestina

Buldozer Ratakan Pasar Koja, Pedagang Teriak Histeris

Rabu, 28/01/2009 10:34 WIB

Ari Saputra - detikNews

Jakarta - Teriakan dan tangisan histeris pecah di Pasar Koja, Jakarta Utara. Ratusan pedagang itu akhirnya menyerah saat ratusan petugas yang terdiri dari Satpol PP, polisi, serta 2 buldozer mulai meratakan kios-kios pedagang.

Proses penggusuran terjadi sekitar pukul 09.30 WIB, Rabu (28/1/2009). Ratusan petugas mulai memasuki area pasar dari pintu belakang yang merupakan kios pedagang sembako. Akses jalan menuju pasar ditutup sejak pukul 08.00 WIB.

Sempat terjadi dorongan-dorongan selama 5 menit antara 20 pedagang yang berusaha mempertahankan barang dagangannya dengan petugas. Setelah berhasil menembus pertahanan pedagang, para petugas langsung menggotong barang dagangan pedagang.

Sementara itu, buldozer langsung meratakan satu-persatu lapak dari sisi kiri dan kanan pasar. Dalam hitungan menit, lapak sembako tersebut mulai rata dengan tanah. Sementara pedagang, hanya bisa mengevakuasi barang dagangannya yang masih tersisa. Mereka tidak bisa menahan tangis dan ada juga yag terbengong-bengong.

Menurut informasi yang beredar, pasar akan dibangun oleh PD Pasar Jaya. Pedagang di Pasar Koja rencananya mau direloksi ke penampungan sementara yang berada di belakang pasar.
(nik/iy)

Link: http://www.detiknews.com/read/2009/01/28/103404/1075402/10/buldozer-ratakan-pasar-koja,-pedagang-teriak-histeris

Puluhan Pemulung Serbu Lahan Gusuran Pasar Koja

Rabu, 28/01/2009 12:06 WIB

Ari Saputra - detikNews

Jakarta - Meski penggusuran Pasar Koja, Jakarta Utara, masih berlangsung, puluhan pemulung sudah antre untuk mengais rejeki. Pemulung bersiap-siap mengambil barang bekas penggusuran.

Dengan berbekal gancu dan keranjang, pemulung berjejer di luar pagar Pasar Koja. Beberapa gerobak pun telah disiapkan.

"Kami langsung ke sini saat dengar ada gusuran," kata Toni (25) seorang pemulung, Rabu (28/1/2009).

Para pemulung tampak berkelompok. Tiap kelompok terdiri dari 3-5 orang. "Kalau nggak ada gusuran ya kita keliling," ujar Darman.

Sekitar 500 pedagang terpaksa kehilangan lapak. Mereka akan dipindahkan ke tempat penampungan sementara yang lebih sempit dan
mahal. "Janjinya mau dibikin 3 lantai sama PD Pasar Jaya," kata salah satu pedagang, Murni (41).

(Ari/aan)

Link: http://www.detiknews.com/read/2009/01/28/120656/1075486/10/puluhan-pemulung-serbu-lahan-gusuran-pasar-koja

Pemerintah Tak Tempatkan TKI di Palestina

Rabu, 28/01/2009 12:11 WIB

Elvan Dany Sutrisno - detikNews

Jakarta - Menaker Erman Soeparno sempat keheranan mengetahui berita tentang Umi Saodah yang terjebak di Palestina. Negara di Timur Tengah yang dilanda konflik bersenjata itu tidak pernah masuk dalam daftar negara tujuan pengiriman tenaga kerja asal Indonesia.

"Nggak ada pemerintah taruh naker di Palestina. Nggak ada seperti itu kok tahu-tahu ada orang kita di sana? Tapi ya tetap harus kita selamatkan," ujar Erman dalam peringatkan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kantor Depnakertrans, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (28/1/2009).

Menaker menduga keberadaan Umi Saodah di Palestina bisa akibat 'kenakalan' PJTKI (penyalur jasa TKI) atau TKI bersangkutan. Banyak TKI yang sudah selesai masa kontraknya mendatangi PJTKI yang tidak jelas statusnya, lalu mereka ditempatkan secara sembarangan di luar negeri sehingga menyulitkan pemerintah memantau dan memberi perlindungan.

"Penempatan naker di LN sudah diatur dalam PP 38/2007. Prosedurnya jelas dan PJTKI-nya jelas maka TKI mendapatkan mendapatkan perlindungan keselamatan kerja dan asuransi. Tapi ada juga TKI yang nakal," papar kader PKB ini. (lh/nrl)

Link: http://www.detiknews.com/read/2009/01/28/121103/1075492/10/pemerintah-tak-tempatkan-tki-di-palestina

Sejuta Pekerja Terancam PHK

Rabu, 28 Januari 2009 | 09:20:13

Jakarta (BCZ)
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan masih akan terjadi tahun ini. Imbas krisis finansial global yang memangkas order dari luar negeriu berimbas pada pengurangan jumlah pekerja.


 Ketua Umum Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Sofjan Wanandi mengatakan, saat melakukan PHK pengusaha akan memprioritaskan melepas pekerja kontrak dan outsourcing.
  
"Kalau pekerja kontrak, lepas atau outsourcing, sudah dilakukan. Sedangkan untuk pekerja tetap kami sedang pertimbangkan, sambil menunggu order di bulan April tahun ini," ujar Sofjan.

Apindo memperkirakan, tahun ini potensi PHK mencapai 500 ribu hingga satu juta pekerja.
     
"Januari sampai Maret ini banyak order yang habis, apa diperpanjang atau tidak belum tahu," cetusnya.
   
Namun begitu, Sofyan berharap tidak ada PHK sampai berakhirnya Pemilu. Sebab biasanya akan ada banyak order dari dalam negeri menjelang Pemilu. Dengan begitu, perusahaan tidak perlu mengurangi atau menghentikan produksi. Untuk itu, dia meminta PHK menjadi pilihan terkahir pengusaha.
  
"Kalau nggak ada order, rumahkan dululah. Untuk yang pekerja tetap baru kelihatan nasibnya nanti setelah Pemilu," katanya.
   
Sementara itu Ketua Apindo DKI Jakarta, Soeprayitno mengatakan di DKI Jakarta saja jumlah potensi pekerja outsourcing yang bakal di PHK mencapai 10.000 orang. Pada bulan Desember 2008 lalu  angka PHK tenaga kerja outsourcing di Jakarta sudah mencapai 4 ribu orang.

"Sangat mengkhawatirkan jika kondisi krisis ekonomi ini dibarengi dengan krisis politik. Apalagi jika terjadi perubahan regulasi pemerintah," tuturnya.
  
Menurut dia, daya tahan perusahaan dalam menghadapi krisis finansial global sekarang ini berbeda-beda. Namun yang paling banyak terkena pengaruh negatif adalah industri yang padat karya, seperti tekstil, garmen. Hal yang sama juga terjadi di beberapa hotel berbintang.


"Mereka mengeluh sudah banyak yang membatalkan penyelenggaraan konvensi atau seminar-seminar. Trurunnya bisa 10-15 persen," jelasnya.(wir/fan/jpnn)


Link: http://kepritoday.com/content/view/17347/28/


Indonesian worker trapped in Gaza back in Jakarta

01/28/09 09:03

Jakarta, (ANTARA News) - An Indonesian worker who was trapped in Gaza during the Israeli military aggression, Umi Saodah, has arrived back in Indonesia, safe and sound.

"Umi Saodah arrived in Jakarta at about 1.30 p.m from Cairo. The Indonesian government tried to bring Umi Saodah home as soon as the government found out that she was at the Saraya Reform and Rehabilitation Center, Palestine, but failed because of the conflict in the Gaza Strip," director for protection and legal affairs of Indonesian citizens at the Foreign Affairs Ministry, Teguh Wardoyo, said here on Tuesday.

Umi Saodah left Jakarta for Jordan on March 25, 2000 but was in Jordan for only a week before being sent to Palestine to work with a Palestinian family.

"She received a salary only in the first two years of her nine-year employment period in Palestine," Wardoyo said.

Saodah's employer paid her only US$2,000 although she was entitled to US15,000 for the seven years she had worked without a salary.

She was evacuated from Gaza to Cairo on Friday (Jan 23) and stayed at the Indonesian embassy in Cairo before being flown home safely. In her evacuation, the Indonesian worked in close coordination with the Palestinian Red Cross.

"I am so glad to be back and able to meet my mom. I never imagines I could return to Indonesia safely," Saodah said.

The Indonesian government through the Foreign Ministry's directorate for protection and legal affairs of Indonesian citizens then handed Saodah to her family.(*)

Link: http://www.antara.co.id/en/arc/2009/1/28/indonesian-worker-trapped-in-gaza-back-in-jakarta/

Awas, Makin Banyak Orang Sakit Jiwa!

Rabu, 9 Juli 2008 | 19:57 WIB


JUMLAH penderita gangguan jiwa di daerah perkotaan terus meningkat seiring dengan makin beratnya tekanan hidup, baik secara ekonomi maupun sosial seiring dengan menaiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka umumnya mengalami gangguan psikologis dan perilaku sehingga menurunkan produktivitas mereka dan menghambat interaksi sosial dengan lingkungan sekitar.


"BBM itu faktor dominonya kemana-mana. Harga-harga makin naik, sehingga banyak orang depresi," kata Sekretaris Rumah Sakit Jiwa/RSJ Menur Provinsi Jawa Timur dr Hendro Riyanto yang sedang berada di Jakarta, Rabu (9/7). 


Di RSJ Menur menurut Kepala Sub Bidang Rekam Medik dan Informasi Bambang Nuji, jumlah pasien rawat inap di RSJ mengalami peningkatan terutama pada bulan Mei 2008 yakni mencapai 200 pasien. Ini adalah angka tertinggi selama satu semester 2008 untuk pasien rawat inap. Januari 2008 sebanyak 182 pasien, Februari 2008 158 pasien, Maret 2008 179 pasien, April 2008 188 pasien, Mei 2008 200 pasien dan Juni 2008 165 pasien.


Sedangkan untuk pasien rawat jalan di bulan Januari 2008 sebanyak 2.151 kunjungan, Februari 2008 1.923 kunjungan, Maret 2008 1.958 kunjungan, April 2008 1.152 kunjungan, Mei 2008 2.121 kunjungan, Juni 2008 2.141 kunjungan.  


"Total pasien rawat inap Januari-Juni 2008 sebanyak 1.072, dan pasien rawat jalan Januari-Juni 2008 ada 12.445 kunjungan," kata Bambang Nuji. Hendro Riyanto mengatakan, menaiknya jumlah pasien di RSJ juga akibat penggunaan kartu Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin/Askeskin, sehingga mereka bisa berobat gratis.


"90 persen pasien yang menderita gangguan jiwa ini adalah orang miskin, dan 70 persen di antaranya disebabkan karena masalah ekonomi, seperti menganggur, korban Pemutusan Hubungan Kerja/PHK sehingga keluarganya terlantar dan dia terganggu jiwanya," kata Hendro Riyanto


Selain itu, persoalan yang kini terjadi di Surabaya adalah makin banyaknya gelandangan psikotik yang berkeliaran di kota Surabaya karena tidak diurus keluarga mereka. Mereka ini ditampung di Dinas Sosial. Jumlahnya ada 600 orang. Kalau kondisinya parah, baru mereka dibawa ke RSJ Menur untuk berobat, kata Hendro Riyanto.


Untuk itu, dr Fidiansyah SpKJ, Wakil Direktur Medik Rumah Sakit Jiwa Soeharto Herdjan Jakarta, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (9/7), menyatakan pemerintah seharusnya meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan jiwa. Hal ini bisa ditempuh dengan menempatkan kesehatan jiwa sebagai salah satu kesehatan dasar yang harus diberikan di setiap pusat kesehatan masyarakat.


Saat ini, jumlah penderita gangguan jiwa ringan dan sedang sangat banyak di kalangan masyarakat. Diperkirakan, 20-30 persen dari total populasi penduduk di perkotaan mengalami gangguan jiwa ringan dan berat. Selain itu, sekitar satu persen dari total jumlah penduduk mengalami gangguan jiwa berat sehingga harus mendapat pengobatan di rumah sakit atau penyedia layanan kesehatan jiwa lain.


Sayangnya, sampai saat ini jumlah penderita gangguan jiwa yang telah mendapat pengobatan masih sangat terbatas. Untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan jiwa, kami mengadakan mobil keliling pelayanan kesehatan jiwa yang mengunjungi puskesmas-puskesmas di Jakarta. Selain mendeteksi warga yang mengalami gangguan jiwa, mobil keliling ini juga untuk mempermudah pasien yang sudah selesai dirawat di rumah sakit jiwa untuk kontrol secara teratur, ujarnya.


Penderita gangguan jiwa harus kontrol secara teratur untuk mengatasi gangguan neurotransmiter di dalam tubuhnya. Jika tidak berobat secara teratur dengan dosis yang sangat kecil, maka penderita bisa mengalami kekambuhan. Penderita gangguan jiwa itu seperti penyakit lain yang membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang. "Kondisi kesehatan jiwanya harus terus dikontrol agar bisa beraktivitas sehari-hari secara normal," kata Fidiansyah.


Penyebab gangguan kejiwaan itu multifaktor, bukan hanya karena tekanan ekonomi, ujarnya menambahkan. Jika penderita gangguan jiwa ringan dan berat tidak segera ditangani, maka gejalanya akan bertambah berat dan bisa mengakibatkan munculnya perilaku anarkhis dalam menghadapi persoalan pribadi dan sosial. Hal ini bisa dilihat dalam sejumlah kerusuhan yang dilakukan sekelompok masyarakat.


http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/09/19571595/awas.makin.banyak.orang.sakit.jiwa