28 Januari 2009

Jumlah Orang Gila di Jakarta Meningkat Tajam, Panti "Over" Kapasitas, RS Jiwa Diminta Dirikan Barak [Metropolitan]

Jakarta, Pelita

Tingginya beban hidup di Jakarta berdampak langsung kepada psikologis warganya. Jumlah penderita psikotik atau orang gila di Jakarta terus meningkat, hingga empat panti laras (panti orang gila-Red) over kapasitas.

Kepala Dinas Bina Mental dan Spiritual Provinsi DKI Jakarta Syarifuddin Mahfudz saat membuka Pelatihan PSM (Petugas Sosial Masyarakat) Tingkat Lanjutan di Jakarta, Rabu (21/4), mengatakan saat ini jumlah orang gila di Jakarta cenderung meningkat tajam.


Hal itu, kata dia, dapat terlihat dari hasil operasi rutin PMKS yang dilakukan pihaknya bekerjasama dengan Dinas Tramtib dan Linmas. Dalam operasi rutin satu bulan berhasil ditertibkan 967 PMKS, dimana 223 di antaranya adalah orang gila.


Jumlah itu, menurut dia, cukup memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian serius. Apalagi saat ini empat panti laras yang dimiliki Pemda DKI over kapasitas. Dari daya tampung maksimal 750 kini terpaksa harus menampung lebih dari 1.200 orang gila.


Subdis Pengaturan Rehabilitasi Sosial dan Penyandang Cacat Dinas Bintal dan Kesos DKI Diah menjelaskan jumlah penderita cukup tinggi karena penyembuhan orang gila membutuhkan waktu yang cukup lama. Sementara daya tampung panti sangat terbatas.


Mereka, lanjut dia, hanya bisa dilepas atau dikembalikan kepada keluarga jika kondisinya sudah membaik seperti mengingat asal-usulnya. Tahun 2003 Pemda DKI berhasil mengembalikan 223 orang gila ke daerah asalnya, dan dalam waktu dekat sekitar 70 orang akan dikembalikan lagi Jawa Tengah dan Jawa Barat.


Lebih lanjut Kepala Dinas Bintal dan Kesos DKI Jakarta Syarifuddin Mahfudz mengatakan diperlukan jalinan kerja sama semua pihak untuk menanganinya terutama tenaga medis untuk membantu penyembuhannya. Seperti yang tertuang dalam SK Gubernur No 58 tahun 2003. "Kita sifatnya hanya pembinaan sementara penyembuhan ada di tangan para medis dalam hal ini adalah Dinas Kesehatan," jelasnya.


Untuk mengantisipasi membludaknya penderita psikotik atau orang gila, Syarifuddin mengatakan pihaknya juga akan mengusulkan rumah sakit jiwa seperti Rumah Sakit Jiwa Grogol untuk menambah barak. "Hal terpenting dibutuhkan penderita adalah pengobatan medis jadi kita berharap dengan adanya barak tambahan mereka dapat lebih tertangani," jelasnya.


Peranan PSM


Tapi partisipasi masyarakat, lanjut dia, tetap dibutuhkan. Khususnya peranan PSM yang dituntut bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran sehingga keberadaannya bisa memotivasi partisipasi masyarakat agar lebih peduli dengan penyandang psikotik.


Dia berharap dengan pelatihan PSM tingkat lanjutan ini dapat meningkatkan kinerja, kualitas, dan profesionalisme PSM sehingga dapat lebih luas jangkauannya dalam bidang pelayanan sosial termasuk meningkatkan jalinan kemitraan dengan Pemda DKI Jakarta.


Sementara itu Kasubdis Bina Sosial Dinas Bintal Kesos DKI Jakarta Patarai mengatakan pelatihan PSM tingkat lanjutan diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan bekal pengetahuan PSM untuk berkiprah di tengah masyarakat dalam membantu Pemda DKI menangani masalah sosial seperti penderita psikotik atau orang gila.


Menurut dia, penanganan orang gila tidak bisa dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta karena kemampuan dan daya tampung panti terbatas. Dibutuhkan solusi dan alternatif yang menuntut partisipasi masyarakat. Disinilah peran PSM diharapkan dapat menyumbang saran ide dan inovasinya.(ely)


Link: http://www.hupelita.com/baca.php?id=25744

Hidup Makin Sulit, Gangguan Jiwa Mengintip

Last modified: 17/10/08

SUARA PEMBARUAN DAILY


[SP/M Kiblat Said]

Pasien gangguan jiwa penghuni bangsal rawat inap di bangunan tua RS Dadi Makassar. Jumlah pasien seperti ini kini sudah melebihi daya rumah sakit.

Sungguh mencemaskan! Hasil studi Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan dalam kurun waktu hanya tiga tahun, sejak 2005 hingga 2007, diketahui sedikitnya ada 50.000 orang Indonesia bunuh diri. Studi tersebut menyebutkan, kemiskinan dan impitan ekonomi merupakan penyebab tingginya jumlah orang yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Kemiskinan dan impitan ekonomi juga menjadi penyebab banyaknya masyarakat menderita sakit jiwa. Banyak orang rentan terhadap stres dan kecemasan yang mengakibatkan gangguan jiwa. Meskipun sekarang ini belum menjadi perhatian banyak orang, masalah gangguan kejiwaan tak bisa dipandang sebelah mata. Kondisi ini berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kenaikan jumlah penderita gangguan jiwa terjadi di sejumlah kota besar. Di RS Jiwa Pusat Jakarta tercatat 10.074 kunjungan pasien gangguan jiwa pada 2006, meningkat menjadi 17.124 pasien pada 2007.

Di Medan, menurut Direktur RSJ Sumut, Donald F Sitompul, jumlah pasien meningkat 100 persen dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pada awal 2008, RSJ Sumut menerima sekitar 50 penderita per hari untuk menjalani rawat inap dan sekitar 70-80 penderita untuk rawat jalan. Sementara pada 2006-2007, RSJ hanya menerima 25-30 penderita per hari.

Tekanan ekonomi dinilai sebagai salah satu pemicu meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa. "Memang terjadi peningkatan jumlah pasien yang cukup tajam pada tahun ini. Kalau faktor penyebab, umumnya kelabilan jiwa di tengah tidak stabilnya perekonomian keluarga," kata Donald.

Di Malang, Direktur RS Jiwa Pusat Dr Radjiman Wediodiningrat, dr Eko Susanto Marsoeki SpKJ, menyatakan prevalensi jumlah penderita gangguan jiwa berat rata-rata mencapai tiga jiwa per 1.000 orang dan gangguan jiwa ringan tidak kurang dari 179 jiwa per 1.000 orang. Jika terjadi tekanan-tekanan hidup, seperti dalam satu-dua tahun terakhir, dapat dipastikan angka prevalensi gangguan jiwa berat meningkat hingga sembilan jiwa per 1.000 orang dan gangguan jiwa ringan membengkak menjadi tidak kurang 250 jiwa per 1.000 orang.

Sedangkan, data yang diperoleh dari RSJ di seluruh Indonesia menyebutkan hingga saat ini jumlah penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta jiwa.

Menurut Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan (Depkes), dr H Syafii Ahmad MPH, kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara, termasuk Indonesia. Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada masyarakat. Di sisi lain, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyesuaikan dengan berbagai perubahan, serta mengelola konflik dan stres tersebut.

Hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) tahun 1995 menunjukkan adanya gejala gangguan kesehatan jiwa pada penduduk rumah tangga dewasa di Indonesia, yaitu 185 kasus per 1.000 penduduk. Hasil SKMRT juga menyebutkan, gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai 140 kasus per 1.000 penduduk, sedangkan, pada rentang usia 5 - 14 tahun ditemukan 104 kasus per 1.000 penduduk.

Menurut Syafii, kejadian-kejadian seperti besarnya angka bunuh diri dan semakin tingginya tingkat stres masyarakat tersebut seluruhnya dilatarbelakangi oleh aspek-aspek kejiwaan, seperti agresivitas, emosi yang tidak terkendali, ketidakmatangan kepribadian, depresi karena tekanan kehidupan, tingkat kecurigaan yang meningkat, dan persaingan yang tidak sehat.

Menurut pakar kesehatan jiwa, dr Albert Maramis SpKj, masalah kesehatan jiwa sangat mempengaruhi produktivitas dan kualitas kesehatan perseorangan maupun masyarakat. Gangguan jiwa, walaupun tidak langsung menyebabkan kematian, akan menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi individu dan beban berat bagi keluarga, baik mental maupun materi, karena penderita menjadi kronis dan tidak lagi produktif.

Prioritas

Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Depkes, dr H Aminullah kepada SP di Jakarta mengatakan anggaran yang dialokasikan untuk kesehatan jiwa masih sangat minim, padahal kesehatan jiwa merupakan masalah masyarakat yang tidak kalah penting untuk dituntaskan pemerintah. Setiap tahun anggaran untuk kesehatan jiwa tidak ada penambahan yang berarti, sementara angka penderita gangguan jiwa semakin meningkat.

Tahun 2008, anggarannya Rp 8 miliar dan pagu sementara untuk 2009 sebesar Rp 9 miliar dari usulan Rp 23 miliar. "Dana selama ini tidak tercukupi, sehingga kita hanya bisa menampung orang yang sudah menderita gangguan jiwa berat di rumah sakit, tetapi tidak bisa menyelesaikannya sampai tuntas," ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan anggaran selama ini tidak mencukupi untuk penambahan sarana pelayanan, sistem informasi yang lengkap, peningkatan SDM, dan pengadaan obat-obatan bagi penderita gangguan jiwa.

Meski selama ini sudah ada Asuransi Kesehatan untuk Rakyat Miskin (Askeskin), persediaan obat-obatan tetap masih kurang.

Ditambahkan, untuk mengatasi masalah gangguan jiwa, bukan hanya dengan penyembuhan secara fisik ketika penderita itu dirawat di rumah sakit, melainkan juga dibutuhkan penanganan secara preventif, promotif, terapi, terianostik, serta rehabilitasi.

Sebaliknya yang terjadi selama ini, penanganan hanya secara medis, yakni perawatan terhadap penderita yang sudah mengalami gangguan jiwa berat di rumah sakit jiwa.

Aminullah berharap penanganan penderita gangguan jiwa bisa menjadi prioritas pengambil kebijakan, karena menjadi beban ekonomi dan sosial yang berat bagi pemerintah. Jika tidak serius ditanggulangi dan penderita semakin banyak, penanganannya akan makin sulit. Kalau itu terjadi, kehidupan masyarakat pasti terganggu. [DMF/E-5/AHS/070]



27 Januari 2009

Umi Saodah masih Terancam Penjara

23/01/2009 14:55 wib - Nasional Aktual

Jakarta, CyberNews. Meski Umi Saodah berhasil dievakuasi dari jalur Gaza dan dibawa ke KBRI Kairo, Mesir namun bukan berarti TKW asal Semarang ini sudah aman. Umi masih terancam penjara karena majikannya menuduh Umi mencuri perhiasan. Selain itu, Umi juga belum menerima gaji selama 5 tahun terakhir.


Untuk itu, Migrant CARE mendesak pemerintah untuk melakukan langkah-langakh pembelaan hukum guna membebaskan Umi Saodah dari tuduhan pencurian oleh majikannya. Pasalnya, Migrant CARE curiga tuduhan ini sengaja dilakukan sang majikan untuk menghindari pembayaran gaji Umi selama 5 tahun.


"Pemerintah harus menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pemulangan Umi Saodah ke Indonesia, antara lain SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor)," kata Direktur Eksekutif Migrant CARE Anis Hidayah dalam rilisnya ke redaksi SM CyberNews, Jumat (23/1).


Anis Hidayah mendesak pemerintah melakukan upaya-upaya advokasi untuk pemenuhan gaji Umi Saodah selama 5 tahun bekerja yang belum dibayarkan oleh majikannya. "Pemerintah harus menyiapkan upaya-upaya terkait pemenuhan hak atas rehabilitasi (psikis dan media) atas trauma yang diderita Umi Saodah selama terjebak di wilayah konfik," kata Anis.


Anis juga mendesak Depnakertrans RI dan Mabes Polri untuk melakukan investigasi dan mengusut tuntas PT Amira Prima yang telah memberangkatkan Umi Saodah ke Yordania hingga Umi Saodah terjebak di Jalur Gaza Palestina.

(MH Habib Shaleh /CN08)


Link: http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=21697


Umi Saodah Berhasil Dikeluarkan dari Gaza

23/01/2009 13:38 wib - Internasional Aktual


Jakarta, CyberNews. Migrant CARE mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah-langkah kongkrit untuk pemulangan Umi Saodah ke Indonesia. Umi Saodah, kini telah berhasil dievakuasi ke KBRI Kairo Mesir.


Umi Saodah, PRT migran asal Dusun Tlawongan, RT 6/5 Karang Tengah, Tuntang, Semarang, terjebak di Jalur Gaza Palestina selama masa agresi Israel. Sebelum berhasil di evakuasi, Umi Saodah sejak November 2008 di penjara di Saraya Reform and Rehabilitation Center di Gaza City atas tuduhan pencurian terhadap perhiasan majikannya.


Sejak 6 Januari 2009, seluruh tahanan di Saraya Reform and Rehabilitation Center dikosongkan oleh otoritas Palestina karena Israel telah memblokade jalan-jalan menuju penjara tersebut. Umi Saodah juga telah keluar dari penjara tersebut dan keberadaannya belum bisa dipastikan.


Pada tanggal 23 Januari 2009 lalu, Umi Saodah telah melakukan komunikasi melalui telepon sebanyak dua kali dengan pihak keluarganya yang berada di Salatiga. Umi Saodah mengabarkan bahwa dia berada di kantor polisi di jalur Gaza dan tetap berkeinginan untuk kembali ke rumah majikan guna menagih gajinya yang selama 5 tahun belum dibayarkan.


Hari ini, 23 Januari 2009, Umi Saodah telah dievakuasi dari jalur Gaza oleh KBRI Kairo Mesir atas kerja sama dengan Otoritas Palestina, Hamas, pemerintah Mesir, Palang Merah Palestina dan International Committee of the Red Cross (ICRC).

(MH Habib Shaleh /CN08)


Link: http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=21692


Satu Jam, 13 Rumah Habis Terbakar

Sriwijaya Post - 26/1/2009 7:29 WIB


PALEMBANG, SRIPO —- Sedikitnya 144 jiwa warga RT 36 dan 37 Jl Kadir TKR Lr Zainal kel 36 Ilir Palembang, kehilangan tempat tinggal, akibat kebakaran hebat, Minggu (25/1) pukul 03.00. Setidaknya 13 rumah yang terdiri dari bedeng-bedeng kecil, yang dihuni 39 Kepala Keluarga (KK) ludes dilalap api, dan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.


Saat kebakaran terjadi, hampir seluruh warga di kawasan ini tengah terlelap tidur, sehingga banyak yang tak sempat menyelamatkan harta benda mereka. Meskipun demikian tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. 


Kebakaran cpat merambat karena hampir semua rumah yang terbakar, terbuat dari kayu dan jarak antar rumah
juga sangat rapat. Dalam waktu satu jam, setiap rumah di atas tanah 1.300 meter persegi sudah habis terbakar. 


Penyidikan dari Lab Forensik Kepolisian belum mengungkapkan secara pasti penyebab dari kebakaran ini. Hanya saja beberapa saksi mata yang ada di lokasi kejadian mengungkapkan api berasal dari sebuah rumah, milik Zuriba (50). Api merambat dari kamar di rumah itu, diduga pemicunya adalah sebuah bara api dari obat nyamuk bakar. 


"Iya pak, rumah Zuriba yang punya orgen tunggal (OT) Erlangga itu yang menyebabkan kebakaran. Saya yakin benar dan sempat melihatnya, karena rumah saya persis lima meter dari kamar itu," ungkap Heryanto (43).


Saat itu menurut Heryanto yang ada di dalam rumah Zuriba ada tiga orang. Satu orang anaknya yang mengalami keterbelakangan mental, diduga teledor dalam meletakkan obat nyamuk bakarnya. Dari kamar samping rumah Zuriba api lebih dulu merambat ke rumah kayu di sebrang jalan. 


Setelah itu api di bagian lain dari rumah Zuriba mulai merambat ke sisi kanan, kiri dan belakang. Tak ayal warga pun panik. Sebagian berteriak membangunkan warga sambil menyelamatkan barang, dan sebagian lagi langsung melakukan upaya pemadaman.


Heryanto mengaku api sangat cepat merambat hanya dalam waktu tak kurang dari 10 menit, api sudah sampai ke rumahnya. 


"Yang aku selamatkan cuma sepeda motor dan ijazah sekolah anakku. Sisanya termasuk barang elektronik dan pakaian habis. Untung anak perempuan dan istriku cepat terbangun dan menyelamatkan diri," ungkapnya.


Ratusan warga yang berjibaku menyiramkan air tak kuasa membendung lahapan api, sehingga warga kemudian melakukan langkah antisipasi untuk memperkecil raambatan api. 


Ratusan warga yang sudah kehilangan rumah ini sampai kemarin masih mengungsi. Ada yang menumpang di rumah keluarga, dan ada pula yang berteduh di bawah tenda posko kebakaran 36 Ilir yang didirikan tim Tanggap Bencana (Tagana) Palembang. 


Bantuan logistik berupa pakaian, beras dan mie instan sudah tiba di posko sekitar pukul 11.00. Bantuan itu diberikan oleh Dinas Sosial Provinsi Sumsel.


Link: http://sripoku.com/view/5101/Satu_Jam,_13_Rumah_Habis_Terbakar.html


Umi: Saya Hidup di Ujung Peluru, di Bawah Bom

Selasa, 27 Januari 2009 - 15:41 wib

Fahmi Firdaus - Okezone

JAKARTA - Umi Saodah, TKI yang sempat terjebak di Jalur Gaza, akhirnya menginjakan kaki di Tanah Air  dengan selamat. Pulang ke rumah bertemu dengan sanak keluarga.


Perjalanan Umi untuk kembali ke Indonesia cukup panjang dan berliku, serta melibatkan sejumlah pihak. Umi diterbangkan dari Kairo, Mesir menggunakan maskapai Ittihad.

Direktur Perlindungan WNI dan TKI Departeman Luar Negeri Teguh Wardoyo mengatakan, Umi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta sekira pukul 13.30 WIB, hari ini.

"Langsung dibawa ke kantor Deplu dan tiba pukul 15.00 WIB," ujarnya dalam jumpa pers di kantor Departemen Luar Negeri, Jalan Pejambon, Jakarta, Selasa (27/1/2009).

Teguh Wardoyo menjelaskan secara resmi menyerahkan Umi Saodah kepada pihak keluarga. Pemerintah Indonesia melalui perwakilan di Kairo terus memberikan perlindungan kepada seluruh WNI yang terjebak dalam wilayah konflik di Jalur Gaza, Palestina.

Menurutnya, Umi masuk ke Palestina lewat jalur Yordania, namun keberadaannya tidak prosedural. Umi sempat ditahan di Penjara Sahara, kemudian tertahan di pusat rehabilitasi Jalur Gaja, sebelum dievakuasi ke Kairo.

Sementara itu Umi tampak bahagia karena bisa kembali ke tengah-tengah keluarga yang cukup lama ditinggalkan. Dengan derai air mata, Umi Saodah mengaku lega bisa pulang. "Saya hidup di ujung peluru di bawah bom. Suasana di Palestina mencekam dan jalan-jalan hancur," tuturnya.

Umi menambahkan selama di Palestina tidak pernah bertemu dengan orang Indonesia. (uky)




Umi Saodah Tiba di Tanah Air Pukul 13.30 WIB

Selasa, 27 Januari 2009 - 07:57 wib

Muhammad Saifullah - Okezone

JAKARTA
- Umi Saodah, tenaga kerja Indonesia yang sempat tertahan di Jalur Gaza, Palestina, siang ini akan kembali ke tanah air. Dijadwalkan Umi akan tiba di Bandara Soekarno Hatta sekira pukul 13.30 WIB.


TKI asal Jawa Tengah itu akan diterbangkan dari Kairo, Mesir dengan menggunakan pesawat Ittihad dengan nomor penerbangan EY 427.

"Selanjutnya Umi Saodah akan kami bawa ke Kantor Deplu di Jalan Pejambon untuk diserahterimakan kepada keluarganya," ujar Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah kepada okezone di Jakarta, Selasa (27/1/2009).

Prosesi serah terima akan dilakukan oleh Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia kepada orangtua Umi Saodah sekira pukul 15.00 WIB.

"Mengenai hak-hak Umi Saodah sebagian sudah diselesaikan. Sisanya akan kita koordinasikan dengan Depnakertrans," pungkasnya.

(ful)

Link: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/27/1/186508/umi-saodah-tiba-di-tanah-air-pukul-13-30-wib


Tiba di Bandara Umi Saodah Lalui Jalur Khusus

Selasa, 27 Januari 2009 - 13:33 wib

Carolina - Okezone
TANGERANG - Umi Saodah, tenaga kerja wanita (TKW) yang sempat terjebak di jalur gaza saat agresi Israel beberapa waktu lalu siang ini dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno Hatta pukul 13.30 WIB. Setibanya di bandara Umi akan dibawa melalui jalur khusus.


"Setibanya di bandara kami langsung membawanya ke Deplu melalui jalur khusus," kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Departemen Luar Negeri Teguh Wardoyo saat dihubungi via telepon genggamnya, Selasa (27/1/2009).

Teguh tidak merinci jalur mana yang akan dilalui Umi Saodah, namun menurut dia, hal itu dilakukan untuk menghindari kerumunan.
Selain itu, Teguh memastikan kondisi dan kejiwaan Umi Saodah dalam keadaan baik-baik saja.

Umi Saodah berhasil dievakuasi dari Gaza Palestina pada pukul 02.00 dini hari waktu Jakarta. Umi Saodah yang terjebak di Jalur Gaza Palestina akhirnya bisa dikeluarkan dari Jalur Gaza Palestina 23 Januari 2009 pada pukul 02.00 dini hari ini waktu Jakarta dengan bantuan Palang Merah Palestina.

Selama agresi Israel di Gaza, Umi diamankan oleh sipir penjara Saraya, Palestina dan tinggal bersama keluarganya. Sebelumnya Umi sempat ditahan di Penjara Saraya karena dituduh sang majikan Dr Suhaib Kamal melakukan pencurian.

Namun saat ini proses hukum tersebut telah diselesaikan dan tuduhan terhadap Umi telah dicabut. (fit)


Link: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/27/1/186672/tiba-di-bandara-umi-saodah-lalui-jalur-khusus




Umi Saodah Tiba di Bandara Soekarno Hatta

Selasa, 27 Januari 2009 - 14:52 wib

 
Carolina - Okezone

 
TANGERANG - Sekira pukul 13.45 WIB Umi Saodah, tenaga kerja wanita yang sempat terjbak di Gaza Palestina akhirnya tiba di Bandara Soekarno Hatta.


Di Bandara, Umi tidak melalui jalur resmi melainkan melalui jalur khusus, sehingga wartawan pun kucing-kucingan untuk memburunya.

Tenaga Kerja Wanita asal Semarang itu juga enggan menjawab pertanyaan wartawan yang menemuinya sesaat sebelum menaiki mobil Inova hitam yang digunakan Departemen Luar Negeri yang menjemputnya.

Saat ditanya kabarnya, Umi yang mengenakan baju hitam dan kerudung ungu itu hanya mengangguk tanpa sepatah katapun meluncur dari mulutnya.

Umi Saodah dibawa ke Kantor Departemen Luar Negeri untuk kemudian diserahkan ke pada keluarganya.


Link: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/27/1/186711/umi-saodah-tiba-di-bandara-soekarno-hatta




Umi Saodah Kabur karena Penjaranya Dibom

Selasa, 27 Januari 2009 - 16:36 wib 

Fahmi Firdaus - Okezone

JAKARTA - Tenaga kerja indonesia (TKI) asal Jawa Tengah yang sempat terjebak di Jalur Gaza saat invasi Israel ke Palestina, Umi Saodah, mengaku bisa meloloskan diri dari bui karena penjara yang ditempatinya hancur terkena bom yang dijatuhkan Israel.

"Saya dimasukan ke penjara karena dituduh mencuri dan saya bisa melarikan diri karena Saraya Reform and Rehabilition Center di Jalur Gaja dibom," katanya di kantor Deplu, Jalan Pejambon, Jakarta, Selasa (27/1/2009).

Dalam pelarian itulah, lanjut Umi, secara tidak sengaja dia bertemu polisi Palestina yang memberitahukan bahwa dirinya tengah dicari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

"Saya dikasih tahu polisi bahwa saya sedang dicari dan akan dipulangkan. Setelah itu saya melapor ke KBRI Kairo," ujarnya.

Alasan dia dipenjara, kata Umi, awalnya karena meminta gajinya dibayarkan, namun sang majikan menolak dan malah menuduhnya mencuri. "Selama dua tahun saya mendapat gaji. Tapi setelah itu tidak," pungkasnya.(ded)


Link: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/27/1/186765/umi-saodah-kabur-karena-penjaranya-dibom